Rosidah, Guru Sukwan yang Rela Rumahnya Jadi Sekolah Dadakan – Radar Jember

Rumahnya biasa. Namun tampak seperti sekolahan. Apalagi saat jam mata pelajaran. Semua murid kelas I dan II, SDN Jambesari 2 di Kecamatan Sumberbaru selalu ramai di rumah milik Rosidah Handayani. Terlebih, setelah ruang kelas sekolah itu ambruk pada pertengahan Desember 2016 lalu.

Rosidah seorang guru sukarelawan di SDN Jambesari 2 Sumberbaru. Sejak 20 tahun silam, dia sudah mengabdi jadi guru di bawah lereng Gunung Argopuro. Tepatnya di desa paling ujung barat laut Kabupaten Jember. Menyeberangi sungai ke sisi barat, sudah sampai di Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

Memang, desa tempat sekolahnya mengajar ada di pinggiran. Sekitar 15 kilometer dari pusat Kecamatan Sumberbaru. Menuju ke tempat mengajarnya, harus melewati jalan makadam dan harus menembus beberapa kali perkebunan. Tidak ada angkutan umum.

Namun, ibu dua orang anak itu begitu mencintai profesinya sebagai guru. Dia tak pernah hitung-hitungan soal honorium. Meski per bulannya, dia hanya berhak menerima gaji Rp 550 ribu. Padahal bebannya berat. Menjadi guru wali di kelas II.

Pengabdian sang guru berkerudung itu, bukan hanya selesai pada tenaganya. Saat dua kelas SD tempatnya mengajar ambruk, dia pun merelakan rumahnya dijadikan ruang kelas dadakan. Satu kelas ditempatkan di teras. Sedangkan satu kelas lainnya, terpaksa memanfaatkan dapur rumahnya.

Meski sudah hampir setahun rumahnya dimanfaatkan untuk kegiatan belajar-mengajar, namun Rosidah, tidak pernah memungut uang sewa. Baginya, itu bagian dari amal ibadah keluarganya, untuk bekal di akhirat nanti. “Alhamdulillah anak dan suami semuanya mendukung,” akunya bangga.

Dedikasinya menginspirasi kedua orang anaknya. Bahkan keduanya, mengikuti jejaknya menjadi guru. Seperti Nanik, yang memilih mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sedangkan anak bungsunya Haris, mengajar pendidikan agama Islam di sekolah tempat ibunya mengajar. “Mereka juga jadi guru sukwan (sukarelawan),” katanya.

Rupanya, keluarga Rosidah sudah berbagi peran. Ibu dan anak-anaknya, bertugas menjadi pendidik yang tak harus berburu uang. Sebab suami dan bapak dari kedua anaknya, fokus mencari nafkah meski hanya jadi seorang petani biasa.

Menjadi guru sekaligus tuan rumah bagi puluhan anak didiknya, diakuinya bukan hal mudah. Terlebih setiap paginya, dia harus membersihkan dapur rumahnya seusai memasak. Baginya, meski belajar di tempat ala kadarnya, anak didik harus memperoleh perhatian maksimal. Salah satunya suasana saat belajar mengajar.

Terkadang memang kewalahan, membersihkan dapur usai ada selamatan hajatan di rumahnya. Malam hari selamatan, pagi sudah harus tidak ada sisa kotoran bekas masakan. Terkadang dia harus ngepel saat subuh, supaya lantai dapurnya tetap bersih. Pun demikian lantai teras rumahnya. “Kalau hujan kewalahan,” akunya.

Musim penghujan harus rajin bersih-bersih. Apalagi kontur tanah yang mudah becek layaknya lumpur tanah liat. Sekali sepatu menginjak lantai, dia pun memastikan harus dibersihkan dengan tenaga ekstra. “Karenanya setiap kali masuk rumah, anak-anak saya minta lepas sepatu,” ujarnya.

Dia tidak tahu sampai kapan rumahnya dijadikan sekolah dadakan. Namun yang pasti, selama dua ruangan kelas di sekolahnya belum diperbaiki pemerintah, maka dia pun membuka pintu rumahnya dengan selebar-lebarnya. Meski pun dia merasa kasihan, terlebih saat anak didiknya diolok-olok teman sebaya yang sekolah di tempat berbeda. “Saya mengkhawatirkan psikologis anak-anak,” katanya dengan nada sedih.

Bukan hanya itu. Setiap hari, anak didiknya harus tetap masuk ke sekolah. Mereka terlebih dahulu mengikuti upacara dan terkadang senam pagi. Baru setelah melakukan rutinitas harian tersebut, puluhan siswa kelas I dan II, berjalan kaki ke rumah Rosidah yang berjarak sekitar 200-an meter.

Rosidah dan keluarga, bukan tak rela rumahnya terus-terusan dijadikan sekolah “pelarian” karena terpaksa. Namun dia merasa lebih senang dan bangga, jika ruang kelas yang ambruk itu, segera diperbaiki pemerintah supaya kegiatan belajar mengajar anak didiknya kembali berjalan normal. “Saya tidak ingin mereka putus asa yang kemudian putus sekolah,” pungkasnya. (rul/jum/c1/hdi)

(jr/rul/jum/das/JPR)

Source link