Saksikan Sendiri Kesaktian Bapak Membentuk Batu Kenong – Radar Jember

Lokasi Situs Duplang yang berada di Desa Kamal, Arjasa merupakan tempat paling berharga yang pernah dijaga oleh Sudarman. Tak hanya menjadi tempat tersimpannya peninggalan kehidupan prasejarah ribuan tahun lalu, tempat ini juga menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidupnya. 

Areal Situs Duplang merupakan bagian dari pekarangan peninggalan kakeknya. Kisah tersebut dituturkan oleh sang ayah sejak Sudarman kecil. “Bapak saya bilang, ini yang punya babadan adalah kakek,” kenangnya. Oleh karena itu, kini tugasnya tidak hanya sebagai juru pemelihara Situs Duplang, namun juga menjaga warisan kakeknya.

Rumah berdinding anyaman bambu menjadi tempat tinggal Sudarman sehari-hari. Hingga kini, rumah tersebut masih belum berubah. Enggan mengikuti perkembangan zaman, mungkin, atau tak ingin berbeda jauh dengan situs sejarah yang berada tepat di samping rumah tersebut.

Kisahnya bermula ketika Sudarman yang duduk di bangku kelas 6 sekolah rakyat (sekarang SD). Ketika gurunya menerangkan tentang masyarakat purba yang hidup dengan peralatan batu untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari. Dirinya lantas teringat koleksi batu dan arca purba yang ada di sebelah rumahnya. 

Sepulang sekolah, Sudarman segera menemui sang ayah dan meminta penjelasan tentang kehidupan manusia purba. “Saya lantas bertanya pada Bapak, gimana caranya orang purba bikin batu kenong sebagus itu. Apakah dipahat menggunakan batu atau kapak,” terangnya.

Jawaban yang diberikan ayahnya waktu itu awalnya dianggap tidak logis oleh Sudarman. Menurut sang ayah, semua batu pasti melunak sesuai dengan kebutuhan. Bahkan Sudarman masih tak percaya ketika ayahnya mampu menghancurkan segenggam batu tanpa kekuatan berarti.

Masih tidak puas, pria asal Jember tersebut tetap menuntut jawaban dari pertanyaan yang sama: bagaimana proses terbentuknya batu kenong seperti yang ada di pekarangan rumahnya? Apa yang ditunjukkan ayahnya kemudian, baru membuat Sudarman takjub. 

“Saya disuruh cari batu berukuran besar di tengah hutan jati di depan sana. Begitu dapat, saya letakkan batu itu di depan Bapak. Kemudian saya lihat Bapak menuding ke batu itu, saya melihat mata bapak tidak berkedip sama sekali,” kenangnya.

Ajaibnya, Sudarman menyaksikan tangan ayahnya berubah menghitam dan berubah lagi jadi biru. Kepalannya menyala kelap-kelip seperti kunang-kunang. Lalu, tangannya menggosok pinggiran batu, sampai berbunyi seperti kikir hingga membentuk batu kenong. “Setelah melihat itu baru saya percaya akan adanya kekuatan mistis,” lanjut ayah dari lima anak tersebut.

Sampai ayahnya meninggal, masih ada saja kisah mistis yang menyelimutinya. Salah satunya ketika ada wisatawan dari Madiun mendengar cerita Sudarman. “Karena penasaran, dia sampai mengaji di makam bapak saya. Anehnya, waktu datang kembali saya dikasih batu akik, padahal saya nggak pernah ketemu batu akik di sekitar makam bapak saya,” ujar pria yang memiliki nama asli Abdurrahim tersebut.

Berbagai kisah aneh tapi nyata masih dirasakan Sudarman hingga kini. Salah satunya ketika dia baru menikah dengan istrinya yang tinggal di Dusun Kopang-Gumitir, tak jauh dari Kamal. Pada malam Jumat Legi, Sudarman yang terjaga dari tidurnya melihat kobaran api selebar gazebo seperti terbang ke langit dan mengarah ke barat, tepatnya ke makam salah satu tetua di wilayah Dusun Kopang. 

Kemudian, kobaran api tersebut berubah menjadi kerumunan burung gagak yang berkerumun di makam tersebut. Dalam sekejap makam tersebut seakan penuh cahaya. Padahal, kala itu tak ada lampu atau listrik yang bisa menimbulkan cahaya seterang itu.

Hal tersebut tak hanya disaksikan olehnya, namun juga sebagian warga setempat, termasuk istrinya. Hanya saja, malam itu tak ada yang berani mendatangi lokasi. Baru keesokan harinya Sudarman beserta warga datang ke lokasi makam kiai sepuh tersebut.

“Esok harinya saya lihat bersama warga, di nisan tersebut muncul gambar bintang di atas nisan yang disepuh dengan emas. Karena masih belum ada hukum yang melindungi, banyak orang yang mencuri sedikit demi sedikit. Belum lama ini saya ceritakan kisah ini sama anak SMA yang pengen lihat sendiri, begitu sampai sana habis sudah emasnya,” kata Sudarman.

Tak berhenti sampai di situ, Sudarman juga sempat mendengar berbagai kisah mistis yang terjadi pada orang lain. Seperti kepercayaan masyarakat setempat akan kekuatan yang muncul dari benda-benda prasejarah. “Dulu masyarakat sini tergolong masyarakat Jawa Osing yang banyak melakukan ritual,” ujar pria kelahiran 1938 ini.

Misalnya, ketika ada warga yang mempunyai penyakit, maka untuk menyembuhkannya warga akan menggelar selametan di Situs Duplang, tepatnya di bawah sebuah menhir dan pohon besar yang tumbuh di dalamnya. Dianggap menyembah berhala, sepasang kakak-adik pemuka Agama Islam mendatangi tempat tersebut. 

“Mereka berdua langsung menebang pohon itu dan merobohkan menhir. Menhir diangkat begitu mudahnya, padahal beratnya bisa mencapai satu ton. Kemudian pohon besar di sana juga ditebang, kayunya dibuat bedug di masjid,” akunya. Baru setelah itu kedua pemuka agama Islam tersebut pulang. 

Anehnya, setelah meninggalkan situs itu, keduanya langsung mengalami sakit keras. Entah penyakit apa yang mendera keduanya. Bahkan, ketika dibawa ke rumah sakit di Jember tak ada yang mampu menanganinya. “Akhirnya dibawa ke rumah sakit di Surabaya. Tapi begitu pulang hanya jenazahnya yang datang,” kata Sudarman. Sementara adiknya meninggal lebih dulu di tempat tinggalnya.

Berbagai kejadian itu membuat Sudarman mau tak mau mengakui hal-hal mistis yang melingkupi Situs Duplang ini. Meski modernisasi terus berjalan, namun Situs Duplang tetap menyimpan eksotisme yang tak mampu dijelaskan dengan logika. 

Nilai koleksi purbakala di situs yang tinggi membuat berbagai oknum masyarakat gatal untuk mencuri dan menjualnya di luar daerah. Satu benda bisa bernilai hingga belasan juta Rupiah. Dengan segenap tenaga dan kemampuannya, Sudarman berusaha menghalau tangan-tangan kotor yang ingin mengambil serta merusak peninggalan bersejarah di kawasan Arjasa.

Menurutnya, eksotisme peninggalan prasejarah di Situs Duplang tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi ‘kolektor’ benda purba. Setelah didapuk menjadi juru pemelihara pada tahun 1985 silam, Sudarman harus berjibaku mempertahankan koleksi benda purbakala di lingkungannya. Tak hanya di Situs Duplang saja, tetapi juga di kawasan lain yang menjadi bagian dari peradaban purba.

Sudarman bahkan membuat peta sebaran peninggalan bangsa prasejarah baik yang berbentuk menhir, dolmen, candi, maupun batu-batuan yang ada di wilayah Arjasa dan sekitarnya. “Saya sudah berkeliling dan hafal semua koleksi purbakala di lingkungan ini. Hilang satu saja, saya pasti ingat tempatnya,” tegasnya.

Menjadi satu-satunya juru pemelihara di wilayah tersebut, kerap kali Sudarman tak bisa membendung pencurian artefak yang terjadi. Menurutnya, tahun 1990 hingga 2000 menjadi puncak terjadinya pencurian besar-besaran. “Yang mencuri ya orang-orang Desa Kamal sendiri,” lanjutnya.

Hal tersebut menjadi mungkin, karena di berbagai tempat nilai artefak semacam itu sangat tinggi. Per buah bisa dihargai hingga belasan juta Rupiah. “Pernah ada batu kenong yang dijual ke Bali tanpa sepengetahuan saya, langsung dijual dengan harga Rp 3 juta per buah. Ya mereka sendiri yang cerita dari mulut ke mulut, setelah dijual ke Bali  pulangnya cerita dapat sekian,” terang Sudarman.

Namun Sudarman bukan tak pernah menggagalkan upaya pencurian benda prasejarah ini. Salah satunya pada tahun 1997, ketika dirinya mendapati jajaran belasan batu kenong di pinggir jalan aspal. Padahal tempat aslinya bukanlah di sana. “Saya langsung menelepon petugas dari Trowulan yang bernama Edi Widodo. Dia langsung menyamar menjadi pembeli batu kenong, dan membawanya langsung ke Polsek Arjasa,” kenangnya.

Upaya kedua yang pernah dia gagalkan adalah ketika Sudarman memergoki sekelompok pembeli koleksi purbakala dari Situbondo yang hendak membawa lima batu kenong dari Situs Kendal, tak jauh dari Duplang. Dia sempat membiarkan ketika mereka mengangkut artefak itu ke mobil, namun dengan sigap mencatat nopolnya.

“Setelah mereka mendatangkan roda empat, saya intai dari jauh, saya catat nomor mobilnya. Saya bilang ke Kades Kamal bahwa ada pencurian batu kenong, dan menanyakan sanggup apa enggak menangkapnya. Akhirnya mereka dicegat di depan balai desa. Sayangnya hanya koleksinya yang dikembalikan, orangnya dipulangkan tanpa proses hukum,” ujarnya.

Padahal menurutnya. Pencurian artefak ini dapat dikategorikan sebagai bentuk pemusnahan sejarah. Tanpa adanya koleksi artefak tersebut maka bukti sejarah di Jember bisa hilang begitu saja.

Beruntung, sejak ditegaskannya peraturan mengenai pencurian situs sejarah, pencurian artefak dan benda purbakala perlahan mulai berangsur menghilang. Tak ada yang berani mencuri, karena takut dipenjara. “Pernah ada yang mencuri batu kenong, dipenjara selama 15 hari sebagai efek jera,” kata dia.

Kini, Situs Duplang menjadi daya tarik pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Tak hanya dari Jember saja, tetapi juga dari luar kota bahkan dari mancanegara. “Mereka sangat senang karena di tempat mereka tidak ada situs purbakala selengkap ini. Di sini lengkap mulai dari menhir, dolmen, batu kenong, dan sebagainya,” tegasnya.

Mirisnya hampir tak ada apresiasi yang dia dapat. Gubuk bambu tersebut menjadi saksi perjuangan Sudarman menjaga koleksi peninggalan sejarah. Gubuk yang juga menjadi tempat tinggalnya ini sama sekali tidak berubah sejak puluhan tahun lalu. Tetap berdinding anyaman bambu dan beralas tanah. Dia mengaku membangun sendiri rumah tersebut hingga sekarang.

Meski ramai dikunjungi masyarakat, namun Sudarman enggan menarik retribusi sebagai pengganti tiket masuk. “Saya pernah disuruh buka kotak amal untuk menerima pembayaran pengunjung seikhlasnya. Tapi saya tidak mau,” ujarnya. Selama ini Sudarman hanya sekadar menerima pemberian dalam bentuk apapun tanpa meminta. “Kalau dikasih ya diterima, kalau tidak ya nggak usah minta,” pungkasnya.

Kisahnya selama ini tak pernah berhenti dia ceritakan kepada anak-anaknya. Dari kelima anaknya, hanya si bungsu yang tertarik meneruskan jejak Sudarman menjadi juru pemelihara. “Sekarang dia ditempatkan di Balai Konservasi Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur,” ujarnya.

(jr/lin/hdi/das/JPR)

Source link