Sanggar Panji Laras Tampil di Bandara – Radar Bromo

SANGGAR Seni Panji Laras, mendapat kesempatan tampil di Bandar Udara Juanda. Penampilan itu menjadi pengalaman yang berkesan bagi sanggar yang bermarkas di Kelurahan Kademangan tersebut. Apalagi, saat itu mereka membawa peralatan minim.

————–

Senin (11/12) tahun 2017 menjadi hari yang bersejarah bagi pengelola maupun anggota Sanggar Panji Laras. Pada hari itu, sejumlah anggota sanggar menampilkan atraksi kesenian tradisional di tempat yang tidak biasa, yaitu di Bandar Udara Juanda, Sidoarjo.

Permintaan untuk tampil di bandara Juanda telah diterima Sanggar Panji Laras sejak 2 bulan sebelumnya. Permintaan ini pun disambut dengan antusias bahkan dilakukan latihan intensif.

“Tapi sayang saat itu undangan untuk tampil di Juanda ini belum jelas konsepnya seperti apa. Kami masih meraba-raba,” ujar Neri, salah satu pengurus sanggar Panji Laras saat ditemui media ini beberapa waktu lalu.

Ketidakjelasan ini termasuk dalam hal urusan peralatan, apakah boleh membawa sound system sendiri atau telah disediakan pihak bandara. “Sama Bu Suci dari Disbudpar disarankan tidak usah bawa sound system karena khawatir mengganggu aktivitas bandara,” ujarnya.

Akhirnya sound system yang biasa digunakan untuk kegiatan pentas pun tidak dibawa. Namun Muji Rahayu, ketua pelaksana Sanggar Panji laras diam-diam membawa pengeras suara untuk pengajian dari musala.

Ketika tiba di bandara, jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Padahal seharusnya penampilan selama 5 jam sejak pukul 07.00 sampai 12.00.

“Sampai di tempat pementasan, tepatnya di terminal keberangkatan ada sebuah panggung kecil. Ternyata disana sudah disiapkan colokan listrik, artinya tidak masalah membawa sound system,” ujarnya.

Sambil menunggu 6 penari dirias, Neri yang juga bertugas sebagai vokalis pun menyanyi dengan iringan Duk-Duk Patrol. “Pengeras suara pengajian yang dibawa bu Muji (Muji Rahayu, Red) itu akhirnya digunakan,” ujarnya.

Neri mengungkapkan, suara yang dihasilkan jelas jauh berbeda antara menggunakan sound system untuk pentas dengan untuk pengajian. “Tapi tidak masalah asalkan suara bisa terdengar jelas. Kalau tidak ada sound system, yang nyanyi ini kasihan karena harus teriak-teriak supaya suaranya bisa terdengar,” ungkapnya.

Sementara itu Muji Rahayu, ketua Pelaksana Sanggar Panji Laras memutuskan nekat membawa sound system pengajian. “Untuk jaga-jaga saja. Dan alhamdulillah ternyata membantu,” ujarnya.

Meskipun menggunakan alat musik sederhana, namun sambutan pengunjung bandara luar biasa. Ada beberapa lagu yang ditampilkan seperti Tanduk Majeng, Lingga Linggo, Pajer Lagu, Pornama Epenggir Sereng, Kembeng Melateh serta lagu-lagu Banyuwangian.

“Dari pengunjung ada yang request lagu juga seperti Caping Gunung. Itu ya ditampilkan juga,” ujar Neri.

Ada hal yang menarik saat itu. Karena antusiasme dari penonton, penari yang seharusnya menari didepan panggung diminta penonton untuk menari disepanjang lorong terminal keberangkatan.

“Maksudnya supaya penonton bisa terpecah. Kalau di depan panggung semua, akhirnya penonton tidak bisa melihat semuanya,” ujarnya.

Selain itu para penari pun melakukan tarian spontanitas ketika ada permintaan untuk menampilkan lagu Caping Gunung.

“Kami hanya menyiapkan sekitar 6 tarian. Ternyata ada permintaan lagu Caping Gunung. Akhirnya, kami menari otodidak saja,” ujar Della Utiya Ramadhani, siswa kelas XII IPS 1 SMAN 3 Kota Probolinggo.

Saat itu ada 6 penari selain Della ada May Mey Monica, siswa kelas IX SMPN 5, Endriana Fayza Pramestya, kelas X SMAN 3, Zulia Salim kelas X  MIA 2 MAN 2, Mayang Lutfiasari Putri, Kelas X MIA 1 SMAN 2, Ely Dwi Mayangsari, Kelas XI Akuntansi SMK Taman Siswa 1.

“Kami bagi jadi 2 baris. Baris pertama jadi penunjuk gerakan. Baris kedua mengikuti gerakan baris pertama sambil memberi tanda. Jadi, kami main kasih tanda saja saat menari Caping Gunung,” ujarnya.

Meskipun tarian itu bersifat mendadak, ternyata penonton tidak ada satu pun yang menyadari. “Tidak ada yang tahu kalau kami main kode-kode,” ujarnya.

Dalam rombongan tersebut diikuti total 20 orang anggota sanggar Panji Laras, termasuk penata musik Agung Jaka Nugraha. Dengan penampilan di Bandara Juanda, setidaknya masyarakat khususnya wisatawan yang datang ke Jawa Timur, akan tahu bahwa kesenian asal Probolinggo, juga bagus untuk dinikmati.

Source link