Sarjana Tukang Kayu Berdayakan Pemuda Sekitar Rumah – Radar Mojokerto

Memiliki jiwa pengusaha sejati adalah bertekad kembali bangkit ketika berada pada kondisi terpuruk. Itulah gambaran perjalanan seorang Fendi Prasetyo Bagus Raharjo, 25, dalam mengelola passion-nya sebagai pengusaha muda kreatif.

Pemuda lulusan Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya tahun 2015 ini, tak pernah jera dengan kegagalannya. Dengan tekad besar dan pengetahuan seadanya berhasil membuat terobosan usaha mebel bergaya vintage minimalis, rustic bahkan industrial. Semua itu dilakukan di Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Memulai menekuni usaha sejak tahun 2015, Fendi  harus berjuang membagi waktu menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa. Yakni, dengan terus mengembangkan passion-nya dalam dunia bisnis kreatif. Menurutnya, sejak masa awal perkuliahan dirinya sudah terjun dalam dunia bisnis.

Diawali dengan berjualan sepatu yang bertahan dalam hitungan bulan di Malang, berlanjut dengan menjual kembang api, hingga memiliki izin edar resmi dalam usaha jamu kemasan. Namun, keduanya juga mengalami kerugian. Fendi akhirnya mulai menjajal bisnis mebel bergaya modern. Seperti, vintage minimalis, rustic ataupun industrial.

Ide awalnya muncul ketika di kota tempat dia berkuliah, Malang, dia menjumpai kafe-kafe dengan desain unik dan modern ramai diminati kawula muda. Meskipun sempat berpikir untuk membuka kafe, namun karena tidak punya modal, Fendi pun memutuskan untuk menjadi pembuat properti kafe unik, modern dan serbakekinian.

’’Saya hanya punya minat dan selera melihat kafe di Malang bagus-bagus. Saya berpikir untuk menjadi pembuat properti yang menjadikan kafe ramai dikunjungi anak muda,’’ katanya.

Tanpa modal, awalnya dengan bantuan lapak jualan online, dirinya hanya menawarkan jasa pembuatan rombong dari kayu. Tak disangka, langkah awal ini berhasil. Akhirnya Fendi memutuskan untuk tidak hanya menjual jasanya.

Dengan modal hasil menjual jasa membuat rombong, dirinya mulai mencari bahan kayu dari Pasuruan. Dan mulai menerima pembuatan rombong, rak buku, kursi serta meja untuk kafe. Ini tentunya termasuk merancang desain dan mencari bahan sendiri. Dengan hanya dibantu sang ayah, perlahan tapi pasti usaha ini mulai merangkak naik.

Dalam proses perjuangan awalnya, pria muda Sarjana Ilmu Politik ini, sempat diremehkan banyak pihak. Kebanyakan mereka menyebutnya sebagai sarjana tukang kayu. Menghadapi itu dirinya tidak pernah rendah diri, dan semakin membuktikan. Terbukti dia mampu membangun rumah orang tua untuk tempat usaha, bahkan membeli mobil secara kontan untuk usahanya. Omzetnya kini mencapai Rp 35 juta setiap bulan.

’’Orang hanya ingin lihat bukti. Dan perlahan waktu yang menjawab mereka. Omzet Rp 35 juta itu masih kotor, diputar untuk gaji teman-teman, investasi alat dan bangun kanopi depan rumah untuk tempat usaha,’’ terangnya.

Sejak 2016, Fendi akhirnya memasang branding pada usahanya. Awalnya dipilih nama Mojokerto Wood Art. Namun, setelah melihat banyak desain unik dan kekinian tidak hanya menggunakan bahan baku kayu, tapi bisa dipadukan dengan besi, yang menghasilkan desain bergaya industrial, Fendi mengganti branding usahanya dengan nama Mojokerto Craft.

’’Saya tidak ingin membatasi kreasi teman-teman pekerja saya atau pelanggan yang punya ide lain selain membuat karya berbahan kayu,’’ lanjutnya. Dengan memberdayakan warga di sekitar rumahnya yang kebanyakan menganggur. Saat ini Fendi memiliki 9 karyawan.

Menjadi pemimpin di usia yang terbilang masih muda, dia mengalami hambatan dalam memanajemen karyawannya. Namun, tak kehabisan akal, dia mengaku tidak memberikan batasan waktu masuk kerja. Namun jam kerja harus tetap 8 jam.

’’Mereka kebanyakan anak-anak muda yang suka begadang di warung kopi. Jadi, waktu untuk masuk kerja saya bebaskan agar mereka maksimal kalau kerja. Tapi harus 8 jam. Kalau masuk pagi, sore boleh pulang. Tapi kalau siang, ya malam pulangnya,’’ imbuhnya.

Fendi menambahkan, untuk bahan baku dia dapatkan masih dari wilayah Jawa Timur. Seperti, Pasuruan, Kediri, bahkan Mojokerto. Untuk memenuhi permintaan pembeli dari lapak online-nya, bahan baku biasanya dari ranting-ranting kayu yang dia dapatkan dari pohon di depan rumahnya.

Peminatnya mulai dari dalam kota sampai luar kota. Bahkan berkat memanfaatkan e-commerce. Fendi memiliki pemesan dan langganan sampai Aceh dan Papua. Untuk luar kota, orang yang berminat dengan karyanya biasanya langsung datang ke rumah yang dijadikan tempat usaha.

Menghadapi berbagai macam karakter pemesan, Fendi mengaku pernah ditipu. ’’Barang yang dipesan setelah jadi diantar ke rumahnya, ternyata sudah pindah rumah bahkan nomer HP-nya sudah tidak aktif lagi,’’ akuinya.

Harapan ke depannya, Fendi ingin membangun tempat usahanya lebih besar dengan gaya industrial kekinian. Mengingat sampai sekarang dirinya masih memanfaatkan lahan milik orang tua. Dimana berjalan 2,5 tahun ini, lahan itu semakin sempit karena produksinya yang semakin hari terus berkembang pesat.

Selain alasan lahan sempit, pembangunan tempat usaha dengan gaya modern seperti orang kantoran, punya tujuan untuk memanusiakan pekerjanya. Sehingga mereka tidak perlu lagi malu disebut tukang kayu. ’’Supaya mereka punya kualitas. Jadi dibangunkan tempat yang kekinian seperti orang kantoran membuat mereka dihargai. Karena jadi tukang kayu itu susah, perlu kreativitas dan ketelitian tinggi,’’ tambahnya.

Harapan ini dia tuturkan karena sebagai anak muda pihaknya punya motivasi untuk jadi inkubator bagi perkembangan ide kreatif pemuda di wilayah sekitar tempat tinggalnya. Supaya pemuda bangkit dari kemalasan dan kenyamanan di zaman serbamodern dan digital, dia terpanggil memberdayakan mereka.

Selain itu dia juga berharap memiliki sistem kerja yang lebih baik. Baik dari segi pengelolaan SDM, waktu kerja, dan pembagian keuntungan. ’’Selama ini masih memberikan gaji per minggu. Sebenarnya saya berharap untuk sharing keuntungan daripada menggaji,’’ tandasnya.

Bahkan, kini dia berpikir semakin meningkatkan kualitasnya sebagai pengusaha muda kreatif. Yang mana selama ini hanya bermodal pengetahuan otodidak dari media online YouTube, dia akhirnya mulai bergabung dengan kelompok pengusaha muda kreatif, Rumah Kreatif BUMN (RKB).

Yang punya basecamp di Dusun Daleman, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

’’Tujuannya supaya saya semakin berkualitas menjadi pemimpin. Semakin paham manajemen teman-teman bukan sebagai karyawan tapi saya jadikan rekan kerja,’’ pungkasnya. (ros/abi)

(mj/ris/ris/JPR)

Source link