Satu Kera Ditemukan Mati Tertembak – Radar Bromo

JADI PERHATIAN: Supar (kiri) bersama salah seorang warga Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran, melihat kera yang belakangan ini meresahkan warga. Kera ini ditemukan mati tertembak senapan angin.
(Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

BANTARAN – Warga Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, boleh jadi bisa sedikit tenang. Sabtu (2/12), salah seekor kera yang belakangan ini meresahkan telah tertangkap. Sayang, kera ini ditemukan mati dengan bekas tembakan senapan angin di dada kiri.

Mayat kera berukuran sekitar 50 sentimeter itu, ditemukan tergeletak di sebuah jembatan di Sungai Tunggak Desa Tempuran. Informasinya, mayat kera itu kali pertama ditemukan oleh Dusun Kapuran, Desa Tempuran, Mudi, 42, sekitar pukul 09.00 WIB.

Saat itu, Mudi, seperti biasa menambang pasir di Sungai Tunggak. Ketika mengangkut pasir, pandangannya mengarah pada seekor hewan di sebuah buk di samping kiri jembatan. Penasaran, Mudi menghampirinya. “Saya pertama takut. Soalnya saat saya datangi ternyata itu kera yang beberapa hari meneror warga. Saya lempar kayu, dia gak respon. Setelah beberapa kali saya lempar batu, ternyata dia tidak merespon dan ternyata sudah mati,” ujarnya.

Mendapati kera itu sudah mati, Mudi mengaku memeriksa bagian tubuhnya. Hasilnya, ditemukan bekas luka tembakan di dada sisi kiri. Mayat kera itupun diletakkan di atas pipa air di sisi jembatan. “Nanti saya kubur, kasihan kalau gak dikubur,” ujarnya.

Dengan tertangkapnya kera ini, salah seorang warga setempat Supar mengaku, agak tenang. Sebab, tidak akan lagi diganggu oleh kera. Namun, kini masih ada satu kera lagi yang lebih besar masih kabur. “Alhamdulillah cukup tenang. Tapi, keranya masih tinggal satu lagi. Ini yang tertangkap hanya yang kecil. Yang besar masih berkeliaran. Tadi saja masih nampak dan diburu oleh warga,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Desa Tempuran Alisat mengakui, pihaknya sedikit lega dengan tertangkapnya kera itu. Sebab, teror terhadap warganya sedikit berkurang. Tapi, menurutnya caranya salah. “Sebenarnya saya berharap kera itu ditangkap dalam keadaan hidup. Tapi, ternyata berbeda. Keranya tertembak oleh orang,” ujarnya.

Pihaknya berharap, kera yang masih diburu itu bisa ditangkap dalam keadaan hidup. Sebab, kera itu juga ingin hidup. “Kalau bisa keranya di tangkap hidup-hidup. Nanti setelah tertangkap akan kami lepas ke habitat aslinya agar tidak mengganggu warga lagi,” ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah kera ini “mengganggu” warga Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran. Rabu (29/11) lalu, Muhammad Ikbal Ramadan, 3,5, warga Dusun Kapuran, tercakar salah satu kera saat dibonceng ibunya. Bahkan, siswa SDN Tempuran dan sebuah madrasah ibtidaiyah dipulangkan lebih awal karena kera ini masuk ke lingkungan sekolah.

(br/sid/rf/rf/JPR)

Source link