Sebelum Menciptakan, Didatangi Pria Berjubah – Radar Banyuwangi

Kediaman H Naufal Badri, di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, dipenuhi kiai dan ulama sepuh beberapa waktu lalu. Mereka khusuk mengikuti Haul KHR Ali Mansur, pengarang Salawat Badar.

ALI SODIQIN, Banyuwangi

MENURUT Afton Ilham Huda, dalam buku Biografi Alm KH Ach. Shiddik (Mbah Shiddik), Ali Mansur adalah putra dari Mbah Mansur-Ny Sofiah bin KH Basyar. Diriwayatkan, Mbah Mansur mempunyai dua anak, Sofana dan Ali Mansur. Namun, dibanding Sofana yang perempuan, Ali Mansur-lah yang boleh dibilang paling alim dan cakap dalam memimpin masyarakat.

Pasca kemerdekaan RI, Ali bahkan pernah menjadi anggota konstituante. Sebelum menjabat ketua cabang NU Banyuwangi, dia juga pernah menjadi ketua Departemen Agama RI. Dia sering ditugaskan ke mana-mana. Mulai Aceh, Denpasar dll.

Pada tahun 1960-an, bangsa Indonesia mengalami peristiwa kelam. Yaitu pemberontakan PKI. Pada tahun itu pulalah, Ali ditugaskan di Banyuwangi, sebagai kepala Depag. Ali menempati sebuah rumah di Kelurahan Karangrejo Kecamatan Kota (yang saat ini dihuni H Naufal Badri). Kiai dan ulama yang ada di desa-desa banyak yang dibantai. Di tengah kegentingan itu, Ali merenung dan menulis syair-syair.

Malam sebelum menulis syair tersebut, alumnus Pondok Lirboyo Kediri itu gelisah sepanjang malam. Dia bermimpi didatangi para habib berjubah putih hijau. Pada saat yang sama, istrinya juga bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Keesokan harinya, ihwal mimpi itu ditanyakan kepada salah seorang ulama terkemuka Banyuwangi, Habib Hadi Al-Hadar. Habib Hadi hanya menjawab singkat, ’’Itu ahli badar ya akhi.’’

Dari mimpi itulah, Ali merasa mendapat ilham. Melalui proses perenungan yang panjang, maka terciptalah Salawat Badar yang sering dilantunkan di masjid-musalla sekarang ini.

Malam sesudah selesai menulis syair tersebut, keanehan terjadi. Tetangga-tetangga Ali di sekitar Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Kota, berdatangan ke rumahnya. Mereka membawa daging, beras, dan lain-lain. Kedatangan mereka tentu saja mengherankan Ali. Mereka semua bercerita, bahwa pada malam harinya, pintu rumah mereka diketuk orang tak dikenal. Orang tersebut mengenakan jubah putih, dan memberitahukan bahwa di kediaman Ali akan kedatangan tamu-tamu agung.

Walhasil, malam harinya, puluhan orang bekerja di dapur untuk membuat masakan. Meski mereka tidak tahu siapa tamu yang akan datang, namun mereka tetap kompak bekerja. ’’Siapakah orang berjubah itu?’’ ungkapan itu hampir semuanya berada di benak orang-orang tersebut.

Keesokan harinya, menjelang matahari terbit, serombongan orang berjubah putih datang. Mereka dipimpin Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsi berasal yang Kuwintang Jakarta. Mengetahui kedatangan habib tersebut, kontan seluruh penghuni rumah menyambut dengan rasa syukur.

Sebagai tuan rumah, Ali kemudian menceritakan keadaan terkini di Banyuwangi. Mulai dari peristiwa pembunuhan kepada para kiai yang dilakukan PKI. Hingga rencana penyerangan dari masyarakat Banyuwangi. Habib Ali juga menceritakan situasi politik Nasional terkini, pasca pemberontakan PKI.

’’Ya akhi, mana syair yang ente bikin kemarin? Tolong ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini,’’ ujar Habib Ali, di akhir jamuan makan. Mendapat permintaan ini, tentu saja, Ali terkejut, karena Habib Ali sudah mengetahui syair karangannya. Dalam hati, Ali maklum akan kekaromahan yang dimiliki Habib Ali.

Diambillah syair itu. Ali yang suaranya tergolong merdu, lantas membacakan di hadapan para ulama itu. Secara tidak terduga, seluruh orang yang mendengar bacaan syair itu menangis haru. Tetesan air mata para habib itu terus mengiringi lantunan suara Ali.

Selesai membaca syair tersebut, Habib Ali berkata, ’’Ya akhi, mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan salawat badar,’’ ujarnya. Genjer-genjer adalah sebuah lagu yang diciptakan orang Banyuwangi, yang menjadi lagu andalan PKI. Sejak itulah, syair tersebut terkenal dengan nama salawat badar. Dan, menjadi lagu pembangkit semangat untuk melawan PKI. Sekembalinya ke Kuwintang Jakarta, Habib Ali mempopulerkan salawat badar di berbagai forum pengajian. Hingga sepopuler sekarang.

Menurut Alm Dr KH Idham Cholid dan A Syakir Ali, Ali Mansur wafat dan dimakamkan di Maibit Rengel, Tuban.

Source link