Sehari Cuma Narik Sekali, Sekalian Jadi Kondektur – Radar Bojonegoro

Mesin bus bergerak. Suara bising terdengar. Tempat duduk pun ikut bergetar saat mesin berdesing. Bus berukuran kecil itu pun tak langsung melaju meski mesin telah dinyalakan. 

Di dalam bus memang tak ada orang. Mungkin ini yang menjadikan bus harus menunggu penuh agar bisa melaju melanjutkan perjalanan. Dari luar, bus sudah tak keren lagi.

Tampilan depan lebih terlihat seperti kendaraan yang lama tak terawat. Bahkan, bus itu bermerek apa pun harus melihat dan mengamatinya dari dekat. 

Masuk ke dalam bus. Bisa melalui dua pintu. Pintu belakang dan satu pintu di depan. Tak ada kondektur yang mengarahkan untuk mencari tempat duduk. Penumpang bisa memilih tempat duduk sendiri. Tak menunggu arahan orang lain. 

Di dalam ada kursi yang sudah kehilangan kepercayaan dirinya. Satu kursi kondisinya tak sempurna. Kursi tak lagi punya tempat untuk bersandar. Penumpang harus rela karena punggungnya tak memiliki tempat untuk disandarkan. 

Kursi-kursi bus mulai terisi orang. Meski tak penuh semuanya. Pintu di dekat kemudi dibuka oleh seorang pria tua. Dia pun naik ke tempat kemudi bus. 

“Ayo.. Ayo.. Bis’e berangkat,” kata pria yang lantas menancapkan kakinya pada gas dan tangannya mengendalikan setir.  Bus pun bergerak pelan. Sekali lagi cukup pelan. Sebab, bus ini masih mencari tambahan penumpang diantar ke Tuban.

Pagi itu, bus memang sedang beranjak tak jauh dari terminal dan akan membawa segelintir penumpang untuk sampai di Bumi Ronggolawe itu. 

Sopir bus, yang sedari tadi sedang serius memandang jalan kadang harus menoleh ke sisi kiri jalan untuk mengetahui apakah ada orang yang ingin naik di busnya.

Setelah dianggap cukup dan tak mungkin ada tambahan penumpang, bus pun menambah kecepatannya. 

“Ya seperti ini. Penumpangnya meman sepi,” kata Parto, 53, sopir bus jurusan Bojonegoro-Tuban dengan tangannya mengusap keningnya yang penuh keringat. 

Parto mengaku sudah lama sekali menjadi sopir bus Bojonegoro-Tuban itu. Bus itu bukan miliknya tetapi milik seorang pengusaha PO di Bojonegoro. Namun, dia sudah dipercaya untuk mengemudikannya. 

“Saya jadi sopir bus Bojonegoro-Tuban itu mulai 1993 sampai sekarang,” kata pria yang sudah 55 tahun itu. 

Berumur senja bukan berarti membuat dirinya patah arang. Parto tetap bertahan di tengah banjirnya kendaraan pribadi hingga jasa transportasi yang berbasis online. 

“Mau bagaimana lagi. Ya ini pekerjaannya,” ujarnya kakek satu cucu ini.  Dia bercerita, saat sebelum memasuki banyaknya kendaraan pribadi. Bus Bojonegoro-Tuban masih menjadi idola.

Khususnya bagi masyarakat Tuban yang ingin ke Bojonegoro ataupun sebaliknya. Misalkan, ada anak sekolah yang rumahnya Rengel Tuban tapi sekolah di Bojonegoro.

Atau pedagang Bojonegoro yang memiliki lapak di pasar Soko ataupun Rengel Tuban. Mereka lah yang senantiasa menjadi penumpang bus itu. 

“Dulu itu sehari bisa setor Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu,” ujar pria yang rambutnya bergelombang itu. 

Dia mengaku dengan setor segitu banyak dia sebagai sopir bisa mendapatkan uang Rp 60 ribu per harinya. Uang itu pun cukup banyak dibandingkan hasil sekarang. Saat ini satu kali berangkat dan balik lagi ke Bojonegoro setor ke bos hanya Rp 50.000. 

“Jalur Bojonegoro-Tuban ini sudah sepi penumpang sudah habis. Dulu bisa sampai PP beberapa kali sekarang sekali PP saja. Sore sudah tidak ada orang,” katanya. 

Parto berangkat dari Bojonegoro itu pukul delapan. Sedangkan, dari Tuban ke Bojonegoro pukul sebelas. Setelah itu dia parkir busnya dan pulang. 

“Ya rata-rata itu enam sampai tujuh penumpang. Paling banyak 15 orang. Tidak sampai full,” ujar pria yang tinggal di Pacul Bojonegoro itu. 

Dia berharap busnya kembali ramai lagi. Dengan begitu, dia bisa kembali mendapatkan banyak pemasukan. Tak hanya itu, para sopir dan kernet pun bisa kembali menikmati upah yang laik. 

Karena sangat minim penumpang, Parto tak ditemani kondektur. Dia berjalan sendiri dan uang karcis penumpang dia yang menariknya sendiri.

(bj/aam/nas/bet/dka/JPR)

Source link