Tak banyak lagi masyarakat yang menggeluti pekerjaan dengan mencari daun jati di hutan. Namun masih ada sebagian orang yang tetap setia mencari daun jati ini.

Salah satunya adalah Lampen, warga Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Sudah puluhan tahun nenek ini menggantungkan hidupnya dengan mencari daun jati.

RICKY VAN ZUMA, Kabuh

SETELAH banyak hutan yang terbakar, ia mulai kesulitan memperoleh daun jati. Harus berjalan kaki belasan kilometer di hutan untuk memperoleh satu ikat besar gulungan daun jati. Tak hanya itu, harga daun jati yang tidak menentu juga membuatnya semakin susah. Satu gulungan besar hanya dihargai Rp 25 ribu.

”Sekarang saya harus jauh mencari daun ke dalam hutan, sebab banyak hutan jati yang terbakar,” ujar Lampen kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin.

Ia juga harus menggapai daun jati yang berada di bagian pohon jati yang lebih tinggi. Sebab daun yang biasanya berada di bagian bawah sudah kering dan hangus terbakar.

Selain itu, daun jati pada musim kemarau ini memang tidak sebagus pada musim hujan. ”Jelas sedih tapi mau bagaimana lagi. Memang kondisinya begini, saya bisa apa,” ungkapnya lirih. Padahal mencari daun jati merupakan mata pencahariannya sehari-hari.

”Biasanya saya bisa dapat lebih dari satu gulungan daun jati. Tapi saat ini memperoleh satu gulungan saja sulit sekali dan perjuangannya juga susah,” jelasnya.

Ia mengaku berangkat setelah subuh setiap hari dengan berjalan kaki. Perjalanan dengan berjalan kaki biasa dilakukannya hingga mencapai jalan raya.

Meski tidak sarapan, dia mengaku hal itu sudah terbiasa dilakukan dengan membawa bekal yang dimasukkan dalam tas. ”Saya naik angkot ke hutan, lalu jalan kaki lagi nyari daun jati,” lontarnya. Satu persatu daun jati dikumpulkannya lalu diikat jadi satu gulungan besar.

Daun tersebut tidak boleh sobek atau kering. Nantinya daun jati yang tergulung diangkat dan disunggi hingga mencapai jalan raya. Ia membutuhkan sekitar tiga jam untuk memperoleh satu gulungan daun jati. Namun saat hutan banyak terbakar, ia membutuhkan waktu lebih dari itu.

Ia mengaku tidak kesulitan menyusuri hutan sebab sudah hafal dengan hutan di Jombang. Meski tidak membawa kompas, ia tidak pernah tersesat. Hanya saja kondisi fisiknya yang sudah tidak mudah lagi tidak dapat dibohongi.

Meski demikian, ia tetap mencari daun jati untuk bertahan hidup. Yang terpenting baginya uang hasil jualan daun jati tersebut halal dan tidak merugikan siapapun.

Meski hasil mencari daun jati ini tidak banyak, ia tetap bersyukur sebab cukup digunakan untuk makan sehari-hari.

Hasil penjualan daun tersebut digunakannya untuk membeli beras. Sebagian lagi dipakainya untuk ongkos naik angkot hari berikutnya.

”Gulungan daun jati ini saya jual ke pasar Kabuh, sudah ada tengkulak yang selalu beli. Mereka sudah hafal cuma harganya itu mereka yang menentukan,” tandasnya. Sebelum dijual, biasanya gulungan daun jati itu diletakkannya di bangunan bekas asrama polisi Kabuh.

(jo/ric/bin/JPR)

Source link