Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Wisata Sendang Dewot (Pokdarwis Dewi Sadewo) Gunodo mengatakan, tahun ini belum ada pengembangan wisata di Desa Wonosoco. Sebab, penghasilan dari wisata habis untuk biaya perawatan. ”Untuk perawatan wisata saja kami kewalahan. Selama ini, biaya perbaikan dari income yang masuk ke desa,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Dia menjelaskan, kurangnya pengembangan Desa Wisata Wonosoco karena kerap terkena bencana alam. Setiap musim hujan Desa Wonosoco terkena banjir bandang. Bencana alam itu diakibatkan kondisi gunung di Desa Wonosoco yang gundul.

PERLU DIPOLES: Gerbang masuk Desa Wonosoco tampak megah. Meski begitu, pengembangan wisatanya Masih susah.
(FARUQ HIDAYAT/RADAR KUDUS)

”Saat hujan tiba, air langsung mengalir ke bawah dan mengenai tempat wisata. Tahun lalu, banyak fasilitas wisata yang rusak sampai ada tembok yang jebol karena banjir bandang,” ingatnya.

Tak hanya itu, kejadian pada Jumat, 20 Januari 2017 lalu juga menewaskan satu pengunjung. Karena terseret arus banjir bandang yang muncul tiba – tiba. Setelah tiga hari pencarian, korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, mengapung di aliran Sungai Londo, turut Desa Prawoto, Sukolilo, Pati. ”Kami berharap persoalan bencana alam tidak terjadi terus-menerus. Desa terkena banjir, aktifitas masyarakat terhambat,” keluhnya.

Menurutnya, solusi dari masalah alam di Desa Wonosoco yakni dengan dibangun bendungan di area perbukitan. Sehingga ketika hujan, airnya tidak langsung mengalir deras ke bawah, tapi tertampung bendungan. Kemudian, air yang sudah dibendung bisa dialirkan ke bawah secara perlahan. Sehingga tidak terjadi banjir bandang.

(ks/ruq/lil/top/JPR)