Sering Dikunjungi Presiden Soekarno – Radar Surabaya

Runtuhnya cengkraman penjajah Belanda dari Indonesia, membuat mereka harus meninggalkan sejumlah aset yang dimiliknya. Salah satu aset milik Belanda yang ditinggalkan itu adalah pabrik Kasa Husada di Jalan Kalimas Barat 17-19, Surabaya.

Yuan Abadi/Wartawan Radar Surabaya

Setelah diambil alih Indonesia, pabrik yang awalnya bernama NV Verbandstoffen Fabriek Soerabaia ini menjadi perhatian Presiden RI pertama, Soekarno. Saat berkunjung ke Surabaya, Soekarno menyempatkan “mampir” ke pabrik penghasil kasa tersebut.

Kedatanganya untuk melihat kondisi pabrik yang saat itu masih berfungsi dengan baik. Kedatangan Soekarno untuk mengecek pabrik tersebut terbukti dengan adanya sebuah dokumentasi berupa foto yang dimiliki pabrik.

Dalam foto tersebut terlihat mobil jenis jeep yang digunakan olah sang presiden. Selain itu, adanya catatan serta cerita dari mantan pegawai pabrik.

“Berdasarkan dokumentasi dan juga cerita para pendahulu, memang presiden Soekarno sering datang mengunjungi pabrik,” ungkap Humas PT Kasa Husada, Broto Susetyo.

Kedatangan Sukarno didampingi oleh sejumlah pejabat kemerdekaan. Biasanya mereka berkeliling ke setiap sudut pabrik dan juga mesin-mesin pemintal di pabrik tersebut. Karena masih layak dan kebanyakan pekerjaanya adalah penduduk lokal, maka Soekarno meminta agar kegiatan pabrik terus dilakukan.

“Bedanya kalau dulu kasa yang dihasilkan untuk kepentingan Belanda, sejak saat itu kasa dibuat untuk memenuhi kebutuhan kasa di Indonesia sendiri,” lanjut Broto, panggilan akrab Broto Susetyo.  

Berdasarkan catatan sejarah, selain pabrik kasa, pada tahun  1957 pemerintah Indonesia menasionalisasikan sejumlah perusahaan lain yang ada di sejumlah kota juga diambil alih. Mulai Jakarta, Bandung, Mojokerto dan juga Surabaya.

Kemudian dalam perjalanan usahanya, Kasa Husada diambil alih oleh PT Panca Wira Usaha Jawa Timur, sebuah badan perusahaan milik BUMD Jatim. Hingga saat ini, gedung yang lokasi berhadapan dengan sungai Kalimas tersebut masih terus bertahan dan setiap hari beroperasi.

“Kami setiap harinya masih melakukan aktifitas memproduksi kasa dan juga pembalut,” pungkas Broto. (bersambung/nur)

(sb/yua/jay/JPR)