Setahun, 18 Ribu Perempuan Hamil – Radar Jember

“Kalau tidak dicegah, lima tahun lagi penduduk Jember bisa meningkat dua kali lipat,” kata Suprihandoko, Kabid Institusi Peran Serta Masyarakat (PSM), Komunikasi Informasi dan Edukasi Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan anak dan Keluarga Berencana Jember. 

Menurut dia, pasangan yang ingin segera memiliki anak sebanyak 63.141 hingga November 2017. Kemudian, pasangan yang  menunda memiliki anak sebanyak 26.323. “Pasangan yang tidak ingin punya anak 25.411,” ucapnya. 

Jumlah tersebut cukup tinggi sehingga peran pengendalian penduduk tak bisa ditinggalkan. Ada beberapa cara untuk menekan laju pertumbuhan tersebut. Yakni menggunakan alat atau obat dan metode kontrasepsi.

Dinas pemberdayaan perempuan, lanjut dia, menekan dengan Intra Uterus Device (IUD) atau alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim. “Ada 61.740 pasangan yang menggunakan alat ini,” ungkapnya. 

Dia menjelaskan, cara lain yang digunakan adalah dengan memakai  kondom. Pasangan yang memakai alat ini sebanyak 3.389 pasangan. Kemudian, pasangan yang menggunakan implan sebanyak 37.979, suntik 137.339 dan mengonsumsi pil sebanyak 105.153 orang.  

Jember, lanjut Handoko, merupakan penyangga pertumbuhan penduduk Jawa Timur. Total Vertility Rate (TVR) atau rata-rata kemampuan melahirkan perempuan 1,9 dari masa subur sampai tidak subur. “Artinya penduduk masih banyak yang memiliki anak satu, setiap keluarga memiliki dua anak,” terangnya. 

Pertumbuhan penduduk di Jember, jelas dia, harus melihat kualitasnya. Semua itu diatur sejak belum lahir hingga dewasa. “Sejak belum lahir sudah direncanakan, sehingga menjadi anak yang berkualitas,” ucapnya. 

Peningkatan kualitas itu diatur dalam kegiatan bina balita, bina remaja. Sebab, bila salah urus balita, bisa berdampak negatif. “Begitu juga dengan remaja, bila salah membina bisa terlibat pergaulan bebas, narkoba dan lainnya,” tegas Handoko. 

Tantangan sekarang, bila laju pertumbuhan tidak terkendali akan menimbulkan efek yang luas. Tak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga pendidikan. Misalkan, biaya kesehatan dan pendidikan satu anak sekitar Rp 10 juta. “Bila jumlahnya ribuan, tinggal menghitung biaya yang dibutuhkan, sementara tak semua warga ekonomi mapan,” paparnya. 

Untuk itulah, sosialisasi tentang pendidikan seks dibutuhkan oleh semua kalangan. Tak hanya untuk mencegah laju pertumbuhan yang tidak terbendung, tetapi melindungi generasi muda dari kerusakan. 

(jr/gus/hdi/das/JPR)

Source link