Setelah Sepekan Akhirnya Normal – Radar Jember

Hal ini karena jalur kereta api di daerah Porong Sidoarjo yang sebelumnya tergenang banjir sudah mulai surut. “Sudah mulai tadi pagi (kemarin red) jalur kereta api di Porong Sidoarjo sudah bisa dilalui,” ucap Manajer Hubungan Masyarakat PT KAI Daops 9 Jember Luqman Arif kepada sejumlah media kemarin. 

Diakuinya, kereta relasi jarak jauh juga sudah terhambat sejak jalur di Porong ditutup pada minggu lalu (25/11). Pasalnya, jalur kereta di kawasan tersebut terendam banjir yang cukup tinggi sehingga membahayakan perjalanan kereta.

Meskipun bisa dilalui, namun kereta masih belum bisa melaju dengan normal seperti biasanya. Dimana jalur rel yang bisa dilalui, namun kecepatannya tetap dibatasi karena pihaknya melihat di sekitar rel masih banyak terdapat air. 

Jika biasanya kecepatan kereta melewati jalur tersebut dengan kecepatan sekitar 60 km/jam, sementara dibatasi sekitar 5 kilometer per jam. 

Hal ini dilakukan sembari pihaknya melakukan evaluasi terus terhadap perkembangan di kawasan tersebut. Bisa saja nanti normal atau malah ditutup kembali karena sepertinya cuaca ekstrem hujan deras masih turun hingga beberapa waktu ke depan.

Dengan kembalinya kereta api melewati jalur porong tersebut, pihaknya sudah mengembalikan perjalanan kereta api relasi jarak jauh dengan rute semula. Termasuk juga yang jurusan Gubeng Surabaya. “Selama ini awalnya kita pindah jalurnya melalui Malang,” tuturnya. Dengan ini maka dikembalikan seperti semula melalui Porong menuju Sidoarjo dan dilanjutkan ke Gubeng, Surabaya.

Untuk penumpang sendiri, sempat dilakukan pengalihan tumpangan agar bisa mencapai tujuan di Gubeng Surabaya yakni dengan menggunakan bus. Pihaknya memang menyiapkan sejumlah armada bus untuk mengangkut para penumpang ini. Dirinya mengatakan hal ini karena adanya hambatan force mayor berupa banjir yang cukup besar itu.

Bukan hanya masalah tersebut, namun PT KAI Daops 9 Jember juga mengantisipasi sejumlah bencana alam yang mungkin terjadi. Utamanya untuk jalur mulai dari Pasuruan hingga ke Banyuwangi. 

Seperti diberitakan sebelumnya, ada sekitar 18 titik rawan bencana yang ada di sepanjang lintasan rel kereta api itu. Oleh karena itu, ada sebanyak 68 petugas pemantau jalur rawan terjadinya bencana alam, disiagakan pihaknya. 

“Secara bergantian, petugas tersebut bekerja selama 24 jam, memantau kondisi jalur kereta yang berada di daerah rawan bencana alam,” jelasnya. Sehingga jika ada temuan hal yang mencurigakan di rel kereta api dapat dilaporkan ke pihaknya.

Sehingga kemudian dapat dilakukan berbagai tindakan yang sudah disiapkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Petugas kami terus memantau titik bencana itu, mereka berjalan kaki,” jelasnya. Jika ditemukan tanda- tanda bahaya, maka mereka akan menghubungu pusat pengendali kereta api.

Selain itu, PT KAI juga telah menyiapkan Alat Material Untuk Siaga (AMUS) di gerbong kereta, sehingga ketika sewaktu- waktu terjadi bencana, bisa mempercepat proses evakuasi. Namun, pihaknya berharap jika tidak sampai terjadi bencana atau hal-hal yang tidak diinginkan.

Sekadar tambahan, di wilayah Daops IX Jember, ada 18 titik yang rawan terjadi bencana alam, baik tanah longsor maupun banjir. Dijelaskan, untuk titik yang rawan banjir berada di di daerah Pasuruan dan stasiun Argopuro. Sedangkan untuk yang rawan tanah longsor berada di daerah Ledokombo dan areal pegunungan Gumitir. 

(jr/ram/hdi/das/JPR)

Source link