“Dari empat TPS yang ada di sini, semua dimenangkan Pak Margiono,” kata ketua kelompok panitia pemungutan suara (KPPS) desa setempat, Suryani.

Menurut dia, perolehan suara didapat pasangan tersebut memang cukup mencolok. Di TPS 1, Margiono-Eko dapat 368 suara dan SahTo 27 suara; TPS 2, Margiono-Eko 323 suara dan SahTo 32 suara; TPS 3, Margiono-Eko dapat 371 suara dan SahTo 23 suara; serta di TPS 4 Margiono-Eko dapat 338 suara dan SahTo 28 suara.

Dia melanjutkan, Margiono tidak memiliki hak suara. Sehingga yang memberikan suara hanya keluarganya di TPS 3 di Dusun Mulyo, Desa Sambitan, Kecamatan Pakel.

“Beliau tidak mencoblos karena tidak memiliki hak suara,” tuturnya.

Saat wartawan ini menuju kediaman Margiono, yang bersangkutan sedang menemui para pendukung dan asyik ngobrol sambil memperhatikan orang bermain catur.

Hasil sama di TPS 03 Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, yang merupakan lokasi cawabup nomor urut 1 Eko Prisdianto dan keluarganya menggunakan hak pilih.

Eko Prisdianto didampingi beberapa pendukungnya, istri dan dua anak perempuannya datang ke TPS tersebut sekitar pukul 10.00. Di situ Margiono-Eko Prisdianto meraih 232 suara, sedang SahTo 162 suara.

“Untuk surat suara tidak sah 14 lembar,” ungkap salah satu anggota PPS 003 desa setempat, Anas.

Menurut dia, pilihan tersebut bersamaan pemilihan gubernur (pilgub) dan wakil gubernur Jawa Timur (Jatim). “Hasil pilgub Jatim unggul nomor urut satu meraih 227 suara dan nomor urut dua meraih 169, suara tidak sah 12 lembar,” ungkapnya.

Sementara itu, dikonfirmasi setelah mencoblos, Eko Prisdianto mengaku optimistis memenangkan pesta demokrasi tahun ini dengan perolehan lebih tinggi dibanding lawannya.

“Kami optimistis akan menang karena keyakinan sebagian daripada keberhasilan,” jelasnya.

Dia mengatakan, untuk jumlah suara didapatnya tidak banyak-banyak. Yakni sedikit di atas suara diperoleh pasangan nomor urut dua.

“Sedikit di atasnya saja, yang penting unggul,” tandasnya.

Jika terpilih wakil bupati, dia tidak akan meninggalkan darah seni yang melekat pada tubuhnya sebagai dalang.

“Yang jelas nanti jika saya terpilih, dalang tidak saya tinggalkan karena dalang profesi seumur hidup, Mas,” tandasnya.

Tak berbeda dengan kandang paslon nomur urut 1, perolehan suara di TPS 01 Ngantru, Margiono-Eko Prisdianto meraih 42 suara, sedang SahTo meraih 309 suara. Tidak sah 14 suara. Total ada 365 suara.

Untuk hasil pilgub, pasangan Khofifah-Emil meraih 160 suara. Pasangan Gus Ipul-Puti meraih 192 suara. Suara tidak sah 13 lembar. Total ada 365 suara.

Di TPS 01, Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, itu menjadi lokasi mencoblos Wiwik Syahri Mulyo, kemarin (27/6). Istri Syahri Mulyo itu tiba di TPS sekitar pukul 11.45. Dia datang bersama buah hatinya. Mereka menaiki tiga mobil mini bus untuk ke TPS. Selain itu, juga ada beberapa orang pengawal.

Wiwik yang saat itu memakai baju dan hijab merah ternyata tidak berubah. Dia tetap ramah menyapa masyarakat yang ada di TPS. Bersalaman atau pun foto bersama juga dilayani dengan senang hati.

Sama seperti pemilih lain, Wiwik mengisi daftar hadir sebelum mencoblos. Dia kemudian duduk sebentar di kursi. Tak lama, KPPS memanggil dan memberikan dua surat suara, pilgub dan pilbup. Wiwik lantas menuju ke bilik suara dan mencoblos. Hal serupa dilakukan buah hatinya yang sudah memiliki hak pilih. Surat suara kemudian dimasukkan ke kotak dan mencelupkan jari ke tinta.

Wanita itu kemudian langsung berpamitan kepada warga yang hadir dan bergegas masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Ketika awak media berusaha mendekat dan mewawancara, para pengawal yang saat itu memakai baju batik cokelat langsung melarang.

“Maaf Mas, tidak ada wawancara. Tidak bisa,” ujar salah seorang pengawal bertubuh tinggi besar.

Awak media juga sempat dihalangi mengambil gambar ketika Wiwik Syahri Mulyo berada di dalam TPS. Pihak keamanan TPS pun ikut melarang. Padahal sebelumnya, mereka semua bisa ramah.

Saat dikonfirmasi, Bendahara tim pemenangan SahTo, Heru Santoso menyatakan pihaknya berterima kasih atas dukungan masyarakat Tulungagung. Berkat dukungan dan kepercayaan itu, SahTo bisa unggul. Hasil sementara, Sahto meraih 61 persen suara.

“Ini masih sementara berdasarkan laporan dari saksi-saksi di TPS. Terwujud Tulungagung yang semakin martabat, Ayem Tentrem Mulyo lan Tinoto,” ujarnya.

Ketika ditanya komunikasi dengan Syahri Mulyo, Heru menjawab belum bisa. Namun, pihaknya sudah berkomunikasi dengan Maryoto Birowo, yakni saat bertemu di kantor DPC PDIP. Kini tim masih terus fokus untuk memenangkan SahTo, termasuk mengamankan perolehan suara.

Di TPS 02, Desa Sembon, Kecamatan Karangrejo, paslon nomor urut 2 unggul atas paslon nomor 1. TPS itu merupakan tempat cawabup Maryoto Birowo mencoblos. Dia hadir didampingi istri dan ibunya. Di situ DPT mencapai 443.

“103 orang tidak hadir alias memilih untuk golput,” ungkap Ketua TPS 02 Desa Sembon, Wahyudi.

Hasil perhitungan dari TPS, sambung dia, SahTo meraih 275 suara, Margiono-Eko Prisdianto meraih 58 serta tujuh surat suara tidak sah. Untuk pilgub, nomor urut 1 meraih 170 suara, nomor urut 2 meraih 151 suara, dan 19 surat suara tidak sah. “Total ada 340 orang yang mencoblos di TPS 02 ini,” kata dia.

“Alhamdulillah jalannya pilkada di TPS 02 Sembon aman terkendali dan berjalan lancar tanpa ada hambatan,” tambahnya.         

Saat ditemui, Maryoto Birowo mengungkapkan, sudah mempersiapkan sedemikian rupa menghadapi pilkada. Mulai dari pencitraan sampai penggalangan kader dan menyampaikan sosialisasi mengenai program-program paslon nomor urut 2.

“Selama ini, masyarakat sudah bisa merasakan program-program SahTo, terutama untuk masyarakat kelas menengah ke bawah mulai dari pendidikan, kesehatan, kebutuhan pokok, hingga fasilitas umum,” ujarnya.   

Untuk hasil dari pilkada nanti tetap optimistis menang dengan persentase sebesar 65 persen. “Walaupun sedang diterpa kasus, kita harus tetap optimistis karena semua program yang kita berikan pro rakyat,” katanya.

Dia berpesan untuk memilih calon pemimpin yang mampu melindungi dan memenuhi harapan masyarakat serta berpengalaman.

“Marilah kita menjaga suasana kondusif daerah kita bersama-sama,” imbaunya. (rka/wen/yon/c1/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)