Shock, Suami dan Ayah Korban Tewas Senderan Tak Bisa Berkata-kata – Bali Express

Rencananya, kedua korban akan dimakamkan sore hari ini di Setra Jagaraga. Korban tidak dikremasi, lantaran Desa Jagaraga sedang meberata sehingga jenazahnya hanya mekinsan di pertiwi (dikubur, Red).

“Karena Desa Jagaraga meberata, ada perbaikan di Pura Dalem, makanya kedua jenazahnya dikubur. Tidak dikremasi. Sore ini sekitar Pukul 18.00 Wita akan dikubur,” ujar kakak sepupu Sumiartini, Ketut Sastrawan.

Sastrawan menyebut, Sumiartini hampir setiap hari pulang ke rumah orang tuanya yang terletak di Jalan Gajah Mada, Keluarahan Banjar Jawa. Hal itu dilakukannya untuk menitipkan anak nomor duanya. Setelah itu, Sumiartini pergi bekerja berjualan.

“Hampir setiap hari dia pulang ke rumah orang tuanya di Banjar Jawa, untuk menitipkan anak. Kemarin sebelum kejadian saya sempat ketemu. Tapi tidak ada firasat apa-apa,” ungkap Sastrawan.

Sedangkan suami korban, Ketut Suweden tak mengeluarkan sepatah kata pun atas musibah yang menimpa istri dan anaknya. Suweden yang keseharian berjualan sandal di Pasar Anyar Singaraja, terlihat masih shock atas meninggalnya istri dan anaknya.

Atas musibah yang memakan tiga orang korban itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana turut mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga korban. Bupati Suradnyana langsung melayat ke rumah masing-masing korban. 

Demi meringankan beban keluarga korban, Bupati Suradnyana menyerahkan santunan uang tunai Rp 10 juta kepada istri almarhum Ketut Wisnu Saputra, Kadek Santiani. Santunan tersebut untuk biaya upacara kremasi korban. Selain itu, santunan juga diberikan kepada keluarga Sumiartini, di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan. 

Ditemui usai menyerahkan bantuan, Bupati Suradnyana menghimbau agar masyarakat mewaspadai cuaca ekstrim. Menurutnya, banjir yang terjadi di Singaraja diakibatkan atas kurang pedulinya terhadap lingkungan sekitar.

“Ini force majeure. Memang kalau kita lihat cucaca sekarang sangat ekstrim dan tidak hanya terjadi di Singaraja saja. Ini akibat kesalahan kita yang menutup saluran air karena proses pembangunan sehingga menimbulkan banjir. Kedepannya kita harus melakukan gotong royong untuk membersihkan saluran air sehingga tidak terjadi penyumbatan,” paparnya.  

Seperti diberitakan, dari penuturan warga setempat, awalnya Ni Luh Putu Sumiartini, 38,  bersama anak angkatnya Kadek Yudhistira, 9, hendak ke Banjar Jawa untuk menjemput anaknya yang dititipkan. Ia berangkat dari rumah kosnya di Jalan Wibisana, Lingkungan Kalibaru menaiki sepeda motor Supra.

Namun saat masih berada di gang, motor korban Sumiartini tiba-tiba saja mogok lantaran menerobos banjir. Rupanya, Dewa Ketut Wisnu Saputra menaruh simpati kepada Sumiartini. Selanjutnya ia membantu mendorong motor Sumiartini agar bisa melewati tanjakan di gang.

Nah saat itulah peristiwa nahas itu terjadi. Tak disangka, senderan setinggi 8 meter tiba-tiba jebol, sekitar pukul 21.15 Wita tepat saat ketiganya posisinya berada di bawah senderan. Praktis ketiganya tertimbun material yang terdiri dari bebatuan dan batako. Sumiartini dan anak angkatnya Kadek Yudhistira tewas seketika di tempat. Seluruh badannya tertimbun material hingga tak terlihat. Pun demikian dengan Dewa Ketut Wisnu Saputra. Badannya tertimbum material dari kaki hingga bagian dada. 

(bx/dik/yes/JPR)

Source link