Si Hitam yang Terus Mengilap – Radar Jember

(Heru Putranto/Radar Jember)

Belakangan, Kopi Premium Jember sudah banyak dikenal dan menemani waktu bersantai. Fenomena yang paling kentara yakni munculnya warung kopi di Jember yang berani menyandingkan Kopi Jember bersama dengan kopi dari seluruh pelosok nusantara yang sudah dikenal terlebih dahulu. Tentu saja ini sangat positif untuk perkembangan produksi kopi di Jember.

Kini cukup banyak kopi asli Jember yang sudah beredar di masyarakat. Diantaranya yang sudah terlebih dahulu eksis kopi yang diproduksi PDP Kahyangan serta kopi robusta Argopuro, kopi Arabica Ijen yang sebelumnya diproduksi oleh PTPN XII. Juga ada kopi Sekar Arum produksi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia yang berpusat di Jember. Dua perusahaan yang disebut pertama itu dikenal cukup banyak mengekspor kopi Jember ke luar daerah bahkan ke luar negeri.

Tetapi yang menarik kini adalah fenomena munculnya kopi Jember yang ternyata bukan hanya yang diproduksi oleh sejumlah perusahaan negara dan swasta yang besar saja. Namun juga banyak kopi yang diproduksi di level usaha mikro kecil menengah (UMKM) alias banyak disebut kopi rakyat.

Sebut saja Zibond, Koplak, Sejan, Sido Mulia, Sukmo Ilang, Reinz, dan sejumlah merek lainnya yang banyak bermunculan dengan tegas menyebutkan kopi Jember. Mereka bukan hanya menjual bubuk kopi premium saja. Ada juga yang menjual dalam bentuk masih bean alias biji kopi. Baik mentah maupun yang sudah setengah jadi yakni sudah disangrai.

Fenomena bangkitnya kopi Jemberan ini tentu saja cukup bagus untuk perkembangan kopi di Jember. “Cukup bagus, ini bisa mengedukasi masyarakat untuk tidak minum kopi sachetan,” ucap Sukrisno Widyotomo, kepala Balai Penelitian Kopi di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia kemarin. 

Krisno menuturkan, kopi sachetan minim kopi dan banyak campurannya. Dirinya mengatakan, banyaknya kopi premium yang diminum masyarakat ini menunjukkan lidah warga Jember mulai sadar dengan kopi berkualitas. Setelah dulu masyarakat hanya mengenal kopi itu pahit. Hal ini tidak lepas dari doktrin oleh Belanda zaman dahulu di semua perkebunan di Indonesia, termasuk Jember.

Krisno menjelaskan, tanaman kopi mulai masuk ke Jember sekitar Abad 17 – 18-an lalu. Kopi ini dibawa Belanda untuk ditanam di sejumlah perkebunan yang ada di Indonesia, dengan tenaga kerja dari lokal. Namun, Krisno menjelaskan semua hasil produksi kopi terutama dengan kualitas premium pasti akan diekspor kembali ke Eropa. “Paling yang bisa meminum kopi premium dengan kualitas bagus adalah kaum priyayi,” jelasnya.

Sementara warga jelata hanya bisa minum kopi dengan kualitas rendah. “Itu pun disangrai hingga gelap dan gosong. Mbah-mbah zaman dahulu kan gitu kalau menyangrai kopi. Jadi lidahnya hanya tahu kopi enak itu pahit,” jelasnya tersenyum. Sehingga inilah yang terus dibawa turun-temurun.

Namun, hal itu mulai berubah sekitar tahun 1980-an karena kopi bukan hanya ditanam di area perkebunan, tetapi juga sudah banyak yang ditanam di kebun-kebun milik masyarakat. Sementara untuk proses sangrai yang benar baru banyak dikenalkan satu dasawarsa kemudian dan mulai diikuti masyarakat dan menjadi fenomena di tahun 2010-an ke atas. “Kini masyarakat bisa membuat kopi enak sendiri,” jelasnya. 

Terkait dengan kopi Jemberan, Krisno menjelaskan memang ada jenis kopi khas Jember, seperti di Argopuro dan Silo. “Jember bisa memiliki cita rasa yang khas yang berbeda dengan Bondowoso yang lebih dahulu terkenal,” terangnya. Dirinya melihat kopi di Sidomulyo, Silo punya cita rasa yang bagus.

“Citarasa kopi khas ini dipengaruhi oleh beberapa hal,” tuturnya. Mulai dari bawaan bibit, ketinggian, cuaca, hingga kandungan tanah yang ada, sehingga antardaerah pun menciptakan aroma dan rasa yang khas. Oleh karena itu, keunggulan kopi Jemberan inilah yang perlu diolah bersama dan disinergikan dengan semua stakeholder, pemerintah, pemerhati kopi, dan masyarakat.

Karena untuk menciptakan kopi unggulan berkualitas harus ada sinergi semua pihak. Misal mulai pemilihan bibit unggul, saat tanam dan penentuan tanah, perawatan tanaman, saat panen hingga penanganan pascapanen ini diakui Krisno memiliki dampak penting untuk citarasa kopi yang dihasilkan.

“Bahkan saat menjemur, sangrai hingga penyajian pun membuat kopi bisa berbeda,” jelasnya. Hal inilah yang perlu dibangun kebersamaan untuk benar-benar menciptakan kopi Jemberan yang luar biasa hingga nantinya bukan hanya dikenal di masyarakat lokal saja, namun juga nasional dan internasional. Tetapi untuk mewujudkannya memang diperlukan kerja keras dari semua pihak.

Pihaknya sendiri siap untuk memberikan pendampingan tentang kopi karena memang berada di Jember. Namun, saat ini memang tidak bisa masif karena untuk pendampingan biasanya dilakukan pada kelompok komunitas terbatas. Dirinya memiliki ide yang bagus yakni mengembangkan arabica seperti di Bondowoso. “Itu bisa dilakukan dengan kerja sama Perhutani di sejumlah bukit di Jember. Pasti hasilnya bagus dan specialty berbeda,” tuturnya.

(jr/ram/ras/das/JPR)

Source link