Sidang Ketiga Yunus Bikin Ulah, Wakil Ketua NU Dilempar Botol – Radar Banyuwangi

JawaPos.com – Sidang lanjutan perkara dugaan pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-Undang ITE dengan terdakwa M. Yunus Wahyudi berlangsung menegangkan. Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi H Nanang Nur Achmadi sempat dilempar botol air mineral oleh Yunus saat menuju ruang persidangan, Rabu (17/1).

Peristiwa pelemparan botol air mineral ukuran 600 mililiter itu terjadi saat Yunus digiring dari sel tahanan PN Banyuwangi menuju ruang sidang Garuda. Dengan dikawal petugas kejaksaan dan pengamanan dari aparat kepolisian, Yunus keluar dan berjalan dengan rompi tahanan berwarna merah.

Dengan kondisi kedua tangan terborgol, Yunus memegang sebuah botol air mineral yang telah diminum sebelumnya. Saat berpapasan dengan Nanang yang juga hendak menuju ruang sidang, Yunus mulai berulah. Sesampainya di depan ruang tunggu jaksa, Yunus mendadak melemparkan botol yang dipegangnya ke arah Nanang.

Beruntung, botol berisi air mineral tersebut mengenai paha sebelah kanan Nanang yang sedang berjalan. Kontan, air mineral yang dilempar tumpah dan membasahi celana yang dikenakan Nanang.

Mendapat perlakuan itu, Nanang sempat akan membalasnya. Namun, upaya pembalasan berhasil diredam oleh jaksa yang sama-sama menuju ruang sidang.

Insiden pelemparan botol air mineral kemarin juga disaksikan sejumlah warga yang ada di halaman dalam PN Banyuwangi. Usai melempar botol ke arah Nanang, Yunus berjalan menuju ruang sidang sembari ngomel-ngomel. ”Ada sepuluh orang Haji Nanang pun, Yunus tidak takut,” ujar Yunus berapi-api.

Tak lama setelah peristiwa pelemparan botol air mineral tersebut, puluhan anggota barisan Ansor langsung datang ke PN untuk ikut menyaksikan jalannya persidangan sekaligus memberikan pengamanan kepada Wakil Ketua PCNU Banyuwangi tersebut.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Sartono kemarin mengagendakan pemeriksaan saksi pelapor. Dua saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang kali ketiga kemarin adalah Wakil Ketua PCNU Banyuwangi Nanang Nur Achmadi dan tokoh NU Abdillah Rafsanjani.

Dalam persidangan, Yunus yang juga pegiat  LSM asal Dusun Kaliboyo, Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo itu kembali berulah. Saat hakim melontarkan pertanyaan kepada saksi Nanang dan Abdillah, beberapa kali Yunus tidak bisa mengendalikan emosi. Bahkan, aparat keamanan dari kepolisian, sekuriti PN, bersama dengan penasihat hukum sempat meredam emosi Yunus yang berapi-api. Ketua Majelis Hakim Sartono juga mengetuk palu dan meskors jalannya sidang.

Dalam keterangannya, Nanang mengungkapkan  awal persoalan muncul setelah sejumlah kiai resah dengan munculnya pemberitaan melalui media sosial. Dalam isi berita online tersebut, Yunus menyatakan bahwa PCNU Banyuwangi telah menerima dana dari tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI).

Selain itu, Yunus juga menyebut bahwa penerima dana tersebut sebagai ”kiai perampok”. Dari berita yang di-share melalui WhatsApp itu pengurus harian PCNU bereaksi dengan melakukan rapat.

Dalam rapat pengurus harian PCNU itu, lanjut Nanang, diputuskan agar Yunus meminta maaf secara terbuka melalui media online kepada kiai-kiai NU di Banyuwangi. ”Kami tunggu sampai dua minggu, tapi Yunus tidak juga meminta maaf secara terbuka. Sebetulnya sederhana, jika saat itu meminta maaf ya sudah selesai. Tidak panjang seperti ini” ungkap Nanang.

Sebelum sidang ditutup oleh majelis hakim, terdakwa Yunus juga ”berkicau” di muka persidangan agar Ketua PCNU Banyuwangi KH Masykur Ali dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan. Sidang akhirnya ditunda dan akan digelar Rabu (24/1) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang diajukan oleh penuntut umum.

Source link