Sindikat STNK Aspal Ini Banyak Diorder Pelaku Curanmor – Radar Surabaya

Yuan Abadi-Wartawan Radar Surabaya

Modus yang dilakukan Heri memang modus terbaru yang berhasil diungkap polisi. Nama Heri terkenal di lingkungan pelaku curanmor. Dia merupakan penyedia jasa yang bisa mencarikan atau menjual STNK untuk motor hasil curian.

Caranya cukup simpel, Heri mencari STNK yang sesuai dengan jenis, merk dan warna motor. Proses pencarian STNK tersebut ia lakukan dari jarigan teman dan memanfaatkan media sosial facebook (FB). Setelah menemukan ada orang yang menjual STNK, maka Heripun membelinya.

“Harga satu STNK bisa mencapai Rp 100 ribu,” ungkap Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol I Dewa Gede Juliana, Rabu (6/12).

Juliana menegaskan yang diperlukan oleh Hari adalah STNK dengan jenis, merk dan warna motor saja. Sebab untuk plat nomornya tak jadi soal. Sebab dia tinggal membuatnya sesuai dengan nopol yang tertera di STNK tersebut.

“Kemudian nopol yang sesuai dengan STNK tersebut di pasang motor curian. Cara ini membuat para pelaku cukup percaya diri saat menghadapi pemeriksaan polisi,” terangnya.

Mantan Kapolsek Krembangan ini juga mengatakan, jika STNK tersebut memang asli. Hanya saja, jika dilihat secara detail tentu antara nomer mesin dan nomer rangka yang ada di sepeda motor dan yang tertera di STNK pasti berbeda.

“Untuk itu memang butuh kejelian untuk memastikan jika motor tersebut curian atau tidak,” paparnya. 

Dia menjelaskan pengungkapan kasus ini setelah tim Jatanras Satreskrim Polrestabes mendapati sebuah grup jual beli motor bekas di FB yang menawarkan dan mencari STNK. Temuan itu lantas dikembangkan hingga berhasil meringkus Heri. Dia ditangkap di rumahnya pada Kamis (30/11). 

Selain Heri, polisi juga mengamankan tersangka lain yakni Andreyono, 25,warga Jalan Petemon Kali 1 nomor 17 atau warga Jalan Banyu Urip Wetan Gang 5 nomor 1. Dia ditangkap lantaran terlibat dalam proses jual beli STNK dan nopol palsu tersebut. Tugasnya ialah mencari perantara.

“Dari kedua tersangka ini, kami mengamankan sejumlah barang bukti yakni belasan lembar STNK sebuah motor curian yang sudah dilengkapi STNK dan nopol palsu oleh tersangka Heri,” tandas perwira menengah dengan satu melati di pundaknya ini.

Juliana menyebutkan jika modus ini diterapkan oleh pelaku curanmor, tentu akan lebih menyulitkan pihaknya dalam melakukan proses  penyelidikan dan penyekatan. Sebab, pihaknya harus benar-benar jeli, terutama memeriksa nomer rangka dan mesin motor yang diperiksa.

“Selain itu, dengan adanya modus ini, bisa jadi pola aksi pelaku curanmor akan berubah,” tegasnya.

Lebih lanjut disampaikan biasanya, setelah pelaku usai beraksi, dia buru-buru akan membawa motor tersebut melintas di Jambatan Suramadu untuk jual ke Madura. Namun karena modus ini, bisa saja pelaku menunggu STNK dan nopol palsu sebelum motor tersebut dijual. “Sebab cenderung lebih aman,” imbuhnya.

Meski demikian, dengan membongkar kasus ini setidaknya menjadi bekal bagi anggota di lapangan untuk tak percaya begitu saja dengan STNK dan nopol kendaraan saat dilakukan pemeriksaan. Sebab jika perlu, anggota harus memeriksa nomer rangka dan mesinnya.

“Tentu ini harus dilakukan, agar pelaku juga tak mudah lolos saat ia hendak menjual motor curiannya tersbeut,” pungkasnya. (*/rud)

(sb/yua/jay/JPR)