Sintong, Tasawuf Kultural Pernah Dilarang Belanda – Radar Madura

Terbaru, pertunjukan bertajuk Maulid Sintong digelar di halaman Pondok Pesantren Nurut Tawwabin, Selasa malam (12/12). Pesantren itu berada di Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, Sumenep. Malam itu Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berangkat bersama seniman Agus Widodo. Dari pria yang lebih dikenal dengan nama Agus Gepeng itu diketahui bahwa sintong merupakan seni islami.

Pria kelahiran Jombang itu juga menjelaskan bahwa kesenian sintong adalah kesenian asli Sumenep. Dulu sempat dilarang pada masa penjajahan Belanda. Namun, saat ini, kesenian asli masyarakat pesisir Madura ini terancam punah.

Sekitar pukul 18.20 kami berangkat dari Kota Sumenep. Agus juga menyarankan memakai sarung dan baju koko warna putih. Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai di lokasi dengan kendaraan kecepatan sedang.

Sepanjang perjalanan Agus menjawab beberapa pertanyaan yang semakin membuat penasaran. ”Sabar. Nantikan juga melihat langsung. Kalau mau, nanti bisa ikutan juga,” ucapnya sambil diikuti tawa.

Sampailah kami di lokasi yang dituju. Setelah memarkirkan kendaraan, kami segera bergabung dengan para pria. Semua mengenakan sarung dan baju koko putih. Mereka menyambut tamu meskipun tidak dikenal. Sapa dengan senyum ramah dan jabat tangan sambil menunduk rendah. Sopan sekali.

Setelah bergabung dan berkenalan dengan beberapa bapak-bapak, kami lantas duduk di tikar yang digelar di halaman pesantren. Tidak ada yang diistimewakan meskipun dalam kumpulan itu ada beberapa kiai yang disegani. Semua orang berbaur dan saling bergurau.

Tidak lama kemudian, kami duduk membuat lingkaran dan bersaf. Beberapa bapak-bapak memberi tanda kesenian sintong akan segera dimulai. Dengan doa pembuka dan doa untuk baginda Rasul Muhammad SAW.

Salawat pun mulai dilantunkan dengan iringan harmoni musik dari alat toktok, gendang, dan jidor. Nadanya membangkitkan semangat dan tegas seperti karakter orang Madura. Berbagai macam tarian dilakukan oleh pria dewasa dan anak-anak.

Mulai dari tari sintong, shalatun wa taslimun, dan tari shollu ’ala. Para penari bergerak seirama, sembari diiringi barzanji Syaraful Anam dan musik yang menghentak. Penari maupun peserta yang datang terlihat larut dalam lantunan salawat yang terus dikumandangkan.

Pertunjukan ini berlangsung sekitar tiga jam. Lalu ditutup dengan doa dan keceriaan dari setiap wajah yang hadir. Selepas acara tidak sempat berbincang dengan para pelaku. Mereka segera kembali ke Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten, Sumenep.

Faiqul Khair Al-Kudus, salah satu seniman sintong banyak menjelaskan seni ini. Putra Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Tawwabin ini menuturkan, kesenian sintong ini bercerita tentang rahmat Allah yang turun ketika Rasulullah Muhammad SAW diahirkan.

Selain itu, sintong menyampaikan risalah-risalah yang dibawa Rasulullah dalam bentuk gerakan tari dan salawat. Sintong masuk ke Sumenep abad ke-17. Terbentuk dari percampuran budaya masyarakat Aceh dan budaya masyarakat Sumenep pesisir.

”Sintong ini adalah puji-pujian atau mungkin bisa disebut tariqah dalam bentuk yang berbeda. Sintong juga bisa digolongkan sebagai tasawuf kultural karena bentuk yang terkandungan dan bentuk penyuguhannya,” ungkap Faiq sambil mengisap rokok.

Setiap gerakan dalam sintong memiliki makna tersendiri. Misalnya, gerakan tari dengan tangan menengadah sembari bersujud dimaksudkan sebagai rasa syukur atas kelahiran baginda Rasul Muhammad SAW. Gerakan tangan yang dinamis digambarkan sebagai arah gerak angin.

”Filosofinya adalah hubungan manusia. Maksudnya, hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antara manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Arah angin ini dimaksudkan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang bersahabat dengan alam,” kata dia.

Kesenian ini hampir punah. Jumlah pegiat sintong di Sumenep saat ini 71 orang. Jumlah tersebut lebih banyak dari dua bulan lalu yang hanya 20 orang. ”Sejatinya sintong ini dilakukan para laki-laki dewasa. Tapi, kami berpikir sudah saatnya regenerasi. Makanya, ada anak-anak kecil yang ikut supaya kesenian ini tidak punah,” tutur Faiq.

Faiq menjelaskan, sintong terdiri dari 26 tarian. Terdapat 28 jenis nadzam yang berbeda. Dipisah dengan kalimat ya ’asyiqannabi. Kemudian dijawab husny, shollu ’alaihi dijawab shallallahu ’alaihi. Salah satu nadzam adalah sholla robbuna.

Catatan tertulis Faiq di JPRM edisi Minggu (1/12) menyebut ada lagu khas yang wajib didendangkan. Yakni, Lailatul Iqni yang menceritakan Tuhan menurunkan rahmat, menurunkan kekasih pada malam cahaya. Kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW yang begitu mulia.

Hingga tumbuhan yang kering (mati) menjadi hidup, pohon yang tidak pernah berbuah menjadi berbuah. Ini masuk pada harapan dan doa agar kiranya Tuhan menurunkan rahmat tanah yang subur, hasil panen, dan melaut yang melimpah.

Faiq membenarkan bahwa dulu pada masa penjajahan Belanda, kesenian sintong pernah dilarang. Sintong dianggap berbahaya karena dapat dugunakan untuk mengumpulkan massa. Pemerintah Belanda pada masa itu takut kesenain ini akan dijadikan jalan pembentukan kelompok untuk memberontak.

”Saya rasa bukan hanya sintong. Tapi, berbagai kesenian lain juga dicekal pada masa itu,” jelasnya. Tak berselang lama saya dan Agus Gepeng berpamitan untuk pulang. 

(mr/aji/luq/bas/JPR)