Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Kediri menyebut, penemuan mayat remaja asal Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIB. Adalah Yanto, 45, warga Minggiran, yang kali pertama menemukannya.

Pagi itu ia melihat jasad terapung masih berseragam SMP. Tasnya masih terbawa di bahunya. Kejadian itu lantas dia laporkan ke Mapolsek Papar. “Anggota kami segera ke TKP (tempat kejadian perkara). Dan benar korban adalah anak yang hanyut pada Senin  (30/4) lalu,” kata Kapolsek Papar AKP Djufri Watratan melalui Kasi Humas Aiptu Siswanto.

Petugas pun melakukan evakuasi. Jenazah Imam kemudian akan di bawa ke RS Bhayangkara Kediri untuk otopsi. Dugaan sementara, siswa kelas IX SMP ini meninggal karena hanyut lalu tenggelam saat menyeberang Sungai Brantas. “Kami tak menemukan tanda-tanda bekas penganiayaan atau tindak kekerasan. Diperkirakan korban meninggal tenggelam,” papar Djufri.

Seperti diketahui, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 11.00 pada 30 April silam. Siang itu, sepulah sekolah Imam bersama dua teman sekolahnya, Suhud dan Faris, hendak menyeberang Sungai Brantas. Rencananya, mereka mau naik perahu tambangan di Purwotengah.

Namun, ketiga pelajar ini tak sabar menanti perahu yang masih bersandar di seberang sungai. Mereka lantas mencari sungai yang dangkal. Sekitar 100 meter dari lokasi tambangan, Imam, Suhud, dan Faris berusaha menyeberang. Ketiganya bergandengan tangan.

Namun di tengah sungai, pegangan tangan terlepas. Tak disangka aliran air sungai ternyata deras. Tak pelak, tubuh Imam terseret arus. Kedua temannya tak kuasa menahan. Suhud dan Faris yang berhasil naik ke bantaran sungai segera berlari kembali ke sekolah. Kejadian itu lalu dilaporkan ke perangkat desa diteruskan ke polisi.

Polsek Papar meminta bantuan tim Basarnas, SAR Brimob, dan SAR Polres Kediri untuk mencari korban. Setelah tiga hari pencarian, kemarin jasad Imam baru ditemukan. (C4)

(rk/*/die/JPR)

Source link