Diceritakan dua anak tersebut ‘mabuk’ karena mengonsumsi permen narkoba. Pertunjukan ludruk Siti Masyitoh oleh Perkumpulan Kesenian Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara memang sedikit diubah untuk membawa pesan bahaya narkoba.

Di dalam cerita aslinya, Siti Masyitoh adalah seorang perempuan yang berada dekat di lingkungan Raja Fir’aun. Dia memegang iman atas agama yang dibawa Nabi Musa dan berani mengakuinya di depan raja kejam itu sekalipun dia, suami, dan anaknya diancam akan dibunuh.

Kisah berakhir dengan kematian Raja Firaun yang jatuh ke lembah karena penasaran ingin melihat tuhan Musa, dari ketinggian.

“Dari kisah yang ditampilkan peran ibu dalam menjaga keyakinan kebenaran dalam memeluk kepercayaan, bisa menjadi transformasi. Perang terhadap narkoba, ibulah panglima perangnya,” kata sutradara Ludruk Siti Masyitoh Meimura.

Pementasan ludruk Siti Masyitoh ini adalah kerja sama antara Perkumpulan Kesenian Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya bersama Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya.

Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti menjelaskan, penggunaan ludruk sebagai sarana ajakan menghindari narkoba ini, dalam rangka memperingati hari anti narkotika internasional, yang sebetulnya jatuh pada tanggal 26 Juni lalu.

Selain itu, ludruk sendiri adalah budaya masyarakat Jatim khususnya Surabaya. “Jadi ini merupakan media yang pas kita gunakan untuk kampanye stop narkoba,” ujar AKBP Suparti kepada Radar Surabaya. (sur/nur)

(sb/sur/jek/JPR)