Situs Budaya Belum Berstatus Cagar Budaya – Radar Madura

Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan menyatakan, Makam Aer Mata tinggal menunggu surat keputusan (SK) bupati sebagai salah satu syarat mendapat status cagar budaya dari direktorat jenderal kebudayaan. Sementara situs budaya lainnya belum diproses.

”Makam Aer Mata sudah direkomendasikan oleh pusat. Sekarang dalam proses penetapan SK kepala daerah. Sebelumnya kami ajukan dan sudah dirapatkan oleh tim ahli cagar budaya dari pusat,” ungkapnya Selasa (16/1).

Selain Makam Aer Mata Ebu, diakui masih banyak situs budaya yang akan diregister. Disbudpar terus melakukan koordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan.

Menurut Hendra, penetapan situs peninggalan sejarah menjadi cagar budaya nasional tidak mudah. ”Syarat-syaratnya agak berat. Bukan saja dinilai dari usia, tapi juga secara garis historis tempat itu bisa dijadikan dasar yang kuat sebagai bukti sejarah,” jelas Hendra.

Disbudpar juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sejauh ini ada sembilan situs budaya yang diajukan. Namun, situs sejarah yang memenuhi syarat hanya Makam Aer Mata Ebu. Di Bangkalan juga belum memiliki tim ahli cagar budaya.

”Makanya selama ini kita selalu berkoordinasi dengan BPCB dan Kemendikbud. Sampai sekarang masih dalam tahap konsolidasi intens dengan mereka,” terangnya.

Hendra menambahkan, situs budaya yang sebenarnya berpotensi untuk diajukan untuk dilakukan register. Namun keberadaannya kini sudah rata dengan tanah. ”Paseban juga sebenarnya mau kami ajukan. Karena sekarang sudah dirombak total, gak jadi,” akunya.

Hendra berharap penetapan Makam Aer Mata Ebu sebagai cagar budaya nasional nantinya bisa merambat kepada situs budaya lain. Dengan demikian, semua situs budaya yang ada di Bangkalan terlindungi oleh undang-undang.

”Ini dasar kami untuk terus melanjutkan berkoordinasi dengan pusat sehingga status cagar budaya nasional bukan saja pada Makam Aer Mata. Tapi, situs budaya yang lain,” harapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bangkalan Mondir A. Rofii mengatakan, kepedulian untuk melindungi situs budaya di Bangkalan belum maksimal dilaksanakan oleh dinas terkait. Untuk itu dia meminta, upaya menghormati dengan cara melindungi peninggalan sejarah harus dilaksanakan baik.

”Sibuk mungkin dinasnya. Banyak situs kita yang belum terdaftar. Seharusnya bisa dilaksanakan segera. Jangan menunggu sampai hilang,” imbaunya.

Masyarakat juga harus sadar dan turut serta melindungi situs sejarah. Bukan lantas menelantarkan apalagi merusaknya. ”Saya sudah pernah menyampaikan kalau situs budaya itu harus didaftarkan agar terlindungi,” tutup Mondir.

(mr/bad/onk/han/bas/JPR)