Skandal Bagi-Bagi Proyek kepada Wartawan dan LSM Belum Terungkap – Radar Madura

Mereka menemui Bupati Sampang Fadhilah Budiono untuk meminta penjelasan siapa oknum pejabat yang diduga melakukan pencatutan nama tersebut. Sayangnya, bupati malah kebingungan dan mengaku tidak tahu siapa dalang dugaan pencatutan nama aktivis LSM dan wartawan itu.

Untuk diketahui, penerima bagi-bagi proyek penunjukan langsung (PL) di Sampang tahun anggaran 2017 sebanyak 1.027 oknum. Dalam daftar penerima bagi-bagi proyek itu, ada satu nama disebut hingga tujuh kali, yaitu Wiwik. Selain aktivis LSM dan wartawan, nama oknum anggota kepolisian dan TNI juga ada dalam daftar penerima bagi-bagi proyek.

Sidik, aktivis LSM Jaka Jatim yang mengaku jadi korban dugaan pencatutan nama bagi-bagi proyek oleh Tim Delapan, mengatakan, kedatangannya menemui bupati Sampang untuk meminta kejelasan siapa yang mendalangi dugaan pencatutan nama tersebut. Dia merasa sangat dirugikan.

”Kami minta tolong kepada bupati untuk mencarikan solusi siapa pelaku pencatutan ini,” tanya dia usai menemui bupati. ”Pak bupati kebingungan. Kami bingung ketika mau menghadap bupati, ternyata bupati lebih bingug,” imbuh pria yang akrab disapa Didik itu.

Dia melanjutkan, menurut bupati, dugaan pencatutan nama itu kerjaannya para kepala bidang di tiap organisasi perangkat daerah (OPD). ”Intinya ada yang tidak beres di pemerintah daerah ini. Seharusnya, bupati bisa mengontrol bawahannya. Tapi, dalam hal ini bupati tidak bisa mengontrol. Bupati kebingungan tentang siapa pelaku pencatutan ini,” kata Didik.

Dipikir lebih matang lagi, sambungnya, jika tidak ada kejelasan siapa pelaku pencatutan nama itu, pihaknya akan mengambil langkah hukum. Secara pribadi dan lembaga, Didik mengaku sangat dirugikan oleh skandal dugaan pencatutan nama tersebut.

”Jika ini (pencatutan nama, Red) tidak ada solusi atau tidak ada yang bertanggung jawab siapa yang melakukan, kami akan melapor kepada pihak berwajib. Kami tidak mau main-main dan ini bisa dibuktikan,” janjinya.

Kamaluddin, wartawan Trans 7 yang juga mengaku menjadi korban dugaan pencatutan nama, menyatakan, sangat tidak elok jurnalis terlibat bagi-bagi proyek. ”Kami kecewa. Profesi jurnalis sudah dicederai oleh pencatutan nama ini,” sesalnya.

Atas dasar itu, pihaknya menemui bupati untuk mengklarifikasi siapa dalang dugaan pencatutan nama tersebut. Dia ingin tahu apa motif pelaku. Kamaluddin sangat menyayangkan tiba-tiba muncul nama-nama penerima bagi-bagi proyek tanpa konfirmasi terlebih dahulu.

”Saya sebagai ketua AJS (Aliansi Jurnalis Sampang) malu atas pencatutan ini. Selain mencederai profesi saya sebagai jurnalis, pencatutan nama ini juga menimbulkan gejolak di organisasi yang saya pimpin,” ungkapnya. ”Jika tetap tidak ada solusi dari bupati, kami akan proses ke jalur hukum,” ancamnya.

Bupati Sampang Fadhilah Budiono mengaku memang tidak mengetahui perihal bagi-bagi proyek PL tahun anggaran 2017. Namun, dia memastikan penerima bagi-bagi proyek adalah oknum wartawan, aktivis LSM, serta anggota kepolisian, dan TNI.

Tahun ini, bupati tidak ingin bagi-bagi proyek yang menjadi skandal itu terjadi lagi. ”Yang 2017 saya memang tidak tahu. Saya akan mengumpulkan Kabid-Kabid dan kepala dinas,” janjinya. ”Ke depan saya tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi. Saya berharap Sampang lebih baik. Itu saja,” tandas Fadhilah.

(mr/rul/hud/han/bas/JPR)