Kepala SMAN 1 Baturetno Sumanto mengatakan, ada 396 murid yang diterima di sekolahnya. Dari jumlah tersebut ada sebanyak 151 murid yang mendaftar menggunakan SKTM. Nantinya, home visit  atau kunjungan rumah akan dilakukan pada mereka yang menggunakan SKTM ini.

Namun, tidak semua akan dikunjungi. Hanya SKTM yang dinilai mencurigakan saja yang akan mereka datangi. Sumanto mengatakan, untuk para murid yang nantinya ketahuan menggunakan SKTM fiktif artinya tidak sesuai kondisi atau ternyata yang bersangkutan mampu bisa didiskualifikasi.

”Jadi sekitar 38 persen yang mendaftar pakai SKTM,” katanya.

Dijelaskannya, SKTM di Wonogiri tidak terlalu berpengaruh dengan penerimaan siswa. Penggunaan SKTM ini untuk mengurangi biaya sekolah. Walaupun begitu pihaknya bakal tetap melakukan kunjungan rumah dan hasilnya segera dilaporkan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng).

Sementara itu, Ketua MKKS SMA Kabupaten Wonogiri Pujo Irianto Langgeng mengatakan hal yang sama yakni penggunaan SKTM tidak berpengaruh terhadap peserta didik. Namun, pihaknya tetap melakukan kunjungan rumah pengguna SKTM hari ini.

”Memang seyogyanya harus didatangi. Namun, di Wonogiri SKTM tidak begitu berpengaruh dengan PPDB,” bebernya.

Home visit tidak dilakukan pada semua siswa yang mendaftar menggunakan SKTM. Hanya yang tampak mencurigakan saja yang didatangi untuk dilakukan verifikasi. Bila kondisi murid tersebut miskin akan mendapatkan keringanan biaya sampai bebas biaya.

”Memang, saat ini arahnya biar semua anak bisa sekolah,” paparnya.

Dilain pihak, dia justru khawatir dengan kondisi sekolah yang kekurangan peserta didik. Pasalnya, ini berimbas pada jam mengajar guru. Ujung-ujungnya berpengaruh dengan tunjangan sertifikasi.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Wonogiri Sriyono mengatakan, data SKTM ini seharusnya juga terintegrasi dengan data kemiskinan. Dengan begitu subsidi dari pemerintah bisa tetap sasaran.

”Sampai saat ini, kami belum menerima penyalahgunaan SKTM,” tutupnya. 

(rs/kwl/fer/JPR)