SMAN 1 Kandat Buat Depo Air – Radar Kediri

Pagi itu sangat cerah (30/4). Meski berada tepi jalan provinsi, sekolah ini tampak rindang. Pohon besar di halaman parkir tamu menbuat suasana semakin sejuk. “Di sini lingkungannya sangat mendukung,” ungkap Kepala SMAN 1 Kandat Ali Imron kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Lahan subur, air pun tak sulit. Ini yang menjadi fokus perhatiannya begitu mendapat amanat untuk memimpin sekolah tersebut. “Tidak seperti di daerah tugas saya semula, Lamongan,” lanjut lelaki yang sebelumnya menjabat di SMKN 1 Sambeng, Lamongan itu.

Di wilayah utara Jawa Timur itu, cuacanya cenderung panas dan lahannya gersang. Jika ingin mendapatkan air bersih, harus mendatangkan dari Prigen, Pasuruan.

Makanya, ia lantas terpikir untuk membuat Depo Air Sekolah. “Di sini (Kediri, Red) ada rezeki dari Allah yang begitu besar. Ini ada peluang, kenapa tidak dimanfaatkan,” tandas Ali yang penampilannya senantiasa dilengkapi kopiah ini.

Januari 2017, pendirian depo air itu dirintis. Diberi nama ‘Hero’. Ali memulainya dengan sosialisasi kepada guru, siswa, hingga orang tua/wali. “Alhamdulillah, delapan bulan kemudian sudah dapat diproduksi dan bisa dinikmati warga sekolah,” tambah kasek kelahiran Bojonegoro tersebut.

Air produksi depo itu berasal dari air tanah yang diambil dari lingkungan sekolah. Lalu, diolah melalui serangkaian proses yang sudah terstandardisasi. Mulai dari filterisasi tahap I, filterisasi tahap II, hingga ozonisasi dan pemberian sinar ultraviolet agar menghasilkan air reverse osmosis (RO) yang layak minum.

Hasilnya juga sudah mendapat pengakuan. Dari hasil uji laboratorium oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, air produksi depo ‘Hero’ itu layak konsumsi. “Sekarang, seluruh siswa, guru, maupun karyawan bisa mendapatkan air minum bersih dan sehat sepuasnya,” ungkap Ali yang sudah menerbitkan tujuh karya ilmiah ini.

Dengan manfaat sebesar itu, semua warga sekolah di atas hanya dimintai iuran yang sangat murah. Yaitu, Rp 500 per orang per hari. Maklum, untuk membuat depo air ini, investasinya tak sedikit. Sekolah harus mengajukan dana pinjaman ke salah satu koperasi.

Makanya, iuran itulah yang digunakan untuk membayar cicilan dana pinjaman tersebut. Jangkanya dua tahun. Setelah lunas, nanti akan digunakan untuk biaya pemeliharaan. Juga, penambahan fasilitas. “Biar pengadaan fasilitas ke depannya tidak membebankan iuran dari orang tua,” tambah Ali.

Hal ini sudah menjadi kebijakan yang disepakati bersama. Dengan demikian, dana iuran SPP dan partisipasi orang tua untuk tahun pelajaran 2018-2019 bisa sama dengan tahun pelajaran 2017-2018. Tidak naik. “Semoga bermanfaat,” harapnya.

(rk/*/die/JPR)

Source link