sosok dimas kecelakaan di plemahan – Radar Kediri

Tak disangka sore kemarin merupakan futsal terakhir bagi Dimas. Remaja yang dikenal supel ini harus kehilangan nyawa akibat kecelakaan yang dialaminya. Padahal, selama ini dia dikenal begitu supel.

BARANG BUKTI: Motor CBR dan GL yang diamankan polisi.
(RAMADANI – JawaPos.com/RadarKediri)

Puluhan siswa berseragam sekolah menengah atas (SMA) tampak berduyun-duyun mendatangi rumah yang ada di Desa Kayen Lor, Kecamatan Plemahan sore kemarin. Tampak jelas seragam yang digunakan beridentitas SMAN 1 Pare. Namun, raut wajah sedih tampak di wajah mereka.

Sore itu, mereka sedang bersedih karena kehilangan teman karib mereka, yakni Dimas Aji Ramadhan. Seorang siswa berusia 16 tahun yang kehilangan nyawanya akibat mengalami kecelakaan di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan pada Selasa (13/2) lalu. “Mereka adalah teman-teman Dimas semasa sekolah, baik itu SMP atau SMA,” tutur sang ibunda Dimas yang ditemui wartawan koran ini kemarin.

Tak hanya teman-teman Dimas di SMAN 1 Pare. Beberapa di antara mereka ternyata adalah teman semasa SD dan SMP Dimas. Karena itu pula, seragam yang mereka gunakan saat itu juga berbeda-beda. Tak mengherankan jika ada banyak teman Dimas yang datang. Pasalnya, Dimas ternyata dikenal sangat supel.

Sinta, salah satu teman Dimas, mengatakan bahwa pagi sebelum terjadi kecelakaan, remaja itu sempat bercanda. Dia masuk ke kelas sambil mengenakan helm. “Saat ditanya, Dimas bilang bahwa dia takut ditilang polisi,” kenang Sinta.

Putra dari Komandan Koramil (Danramil) Papar, Kabupaten Kediri ini memang dikenal cukup akrab dengan teman-temannya. Bahkan, dia juga aktif mengikuti ektrakurikuler futsal. “Biasanya pulang jam empat. Lalu, setiap Selasa dan Jumat bermain futsal sampai magrib,” lanjut istri dari Mulyono ini.

Namun sore itu, sepulang mengikuti futsal, Dimas tidak pulang ke rumah untuk selamanya. Pasalnya, remaja itu mengalami kecelakaan yang cukup tragis. Luka yang dialaminya tak mampu membuatnya bertahan.

Di mata keluarga, Dimas termasuk anak rumahan yang jarang ke luar rumah. Bahkan, dia juga dikenal cukup dekat dengan orang tuanya. “Sebelum berangkat sekolah Dimas selalu salim sama saya, sebanyak tiga kali. Sayang waktu hari terakhir saya melihatnya, ia belum salim sama sekali,” ujar perempuan berusia 43 tahun ini. Menurut dia, Dimas sewaktu itu tidak sempat pamitan karena terburu-buru berangkat ke sekolah. Sedangkan dirinya masih mandi untuk menghadiri acara.

Termasuk ditanya tentang firasat, ibu dua putera ini menggelengkan kepala. Air matanya bercucuran ketika ia mengingat kembali bagaimana Dimas meminta saran tentang perempuan di sekolah yang ia dekati.

“Pada saat itu saya merasa bahwa saya dan Dimas bisa berbicara dari hati ke hati, sebagai ibu dan anak,” ujarnya. Agaknya sang ibu bangga karena Dimas bisa terbuka dalam urusan apapun, termasuk asmara. Di mana tak semua remaja lelaki bisa mencurahkan isi hatinya.

Dia hanya bisa memberikan batas-batas kedekatan anaknya dengan wanita yang menjadi incarannya. “Selebihnya, biarlah ia memikirkan tentang tanggungjawabnya sebagai pelajar terlebih dahulu,” sambungnya.

Wanita berjilbab ini terus menerus memohon maaf dan mohon didoakan pada para petakziah yang datang, termasuk sebagian besar teman-teman Dimas. “Saya sudah ikhlas, Mbak. Semoga Dimas tenang di alam sana,” ucapnya lirih.

(rk/die/die/JPR)

Source link