Soto Pak Koya – Radar Bromo

USAHA TURUNAN: Mardiyah menyiapkan sajian soto untuk pelanggannya.
(M. Hilal Lahan Amrullah/Jawa Pos Radar Bromo)

KOTA Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, memiliki kuliner khas berupa Soto Kraksaan. Sajiannya berbeda dengan soto di daerah lain. Kuliner ini kini banyak bermunculan di ibu kota Kabupaten Probolinggo. Salah satunya, Soto Pak Koya.

————-

Soto Kraksaan, menjadi magnet kuliner bagi warga dalam maupun luar kota. Tanpa mampir ke warung soto, rasanya belum lengkap jika berkunjung ke Kota Kraksaan. Soto Kraksaan berbeda dengan soto lainnya. Soto ini dilengkapi koya, sehingga rasanya lebih sedap.

Dari sejumlah warung soto itu, ada Soto Pak Koya di Jalan Mayjen Sutoyo, Kota Kraksaan. Bisnis keluarga ini dirintis oleh Pak Koya pada sekitar 1950. Kini, usaha kuliner ini diteruskan oleh Mardiyah, cucu Pak Koya. “Nama Pak Koya memang nama mbah saya. Kebetulan soto saya juga pakai koya,” ujar Mardiyah.

Perempuan 67 tahun itu mengatakan, semula Mbah Koya merupakan penjual sate. Sedangkan, kakaknya Misno, pedagang soto. Setelah Misno meninggal, Mbah Koya melanjutkan dagangan soto milik Misno. Mbah Koya meninggal, usaha ini diteruskan oleh Mardiyah. “Ibu saya Satemi yang memasak sotonya, saya yang menjual. Kemudian, saya belajar kepada ibu (cara memasak soto), sehingga bisa bertahan hingga sekarang,” ujarnya.

Awal berdiri pada sekitar 1950, Pak Koya menjajakan sotonya dengan berkeliling sekitar Kota Kraksaan. Namun, kemudian menetap berjualan di samping kanan Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama di Jalan Panglima Sudirman. Namun, kemudian pindah ke Pertokoan Kraksaan (kini Kantor Bupati Probolinggo).

Tak lama, pindah lagi ke depan Kantor Kecamatan Kraksaan. Lalu, pindah ke Utara Masjid Agung Ar Raudloh Kota Kraksaan. Kini, Soto Pak Kota kembali ke rumahnya di Jalan Mayjen Sutoyo Kraksaan. “Kalau pindah, bedak sotonya yang terbuat dari kayu dipikul. Bedak-nya juga warisan mbah saya. Sekarang jadi hiasan di warung saja. Sekarang sudah menempati rumah sendiri,” ujar Mardiyah.

Di awal berjualan soto, Pak Koya mampu menjual soto dengan menghabiskan 3 ekor ayam kampung per hari. Syukur, lambat laun berkembang bisa memotong 5 ekor ayam kampung dalam sehari. Kini, per hari Soto Pak Koya butuh 20 ekor ayam kampung.

Nikmatnya Soto Pak Kota pernah mendapat penghargaan di tingkat Jawa Timur. Pada 1991, Soto Pak Koya meraih juara pertama makanan khas se-Jawa Timur di Surabaya. “Saya mewakili Kabupaten Probolinggo. Sejak saat itu mulai terkenal. Sekarang saya wariskan kepada anak saya,” ujar Mardiyah.

Mardiyah mengatakan, pelanggan sotonya tak hanya warga lokal Kota Kraksaan. Namun, juga banyak yang dari Situbondo, Bondowoso, Malang, bahkan Jakarta. Katanya, selain menjaga rasa, pelayanan yang ramah dan penyajian yang cepat menjadi kunci menjaga sotonya tetap diminati pelanggan.

(br/mie/hil/mie/JPR)

Source link