Spirit Jumat: Umur – Radar Banyuwangi

Satuan karbon, hidrogen, dan oksigen menjadi bahan utama energi tubuh yang biasa dikenal dengan nama karbohidrat. Segenap pakar gizi sepakat membagi karbohidrat dalam bentuk sederhana dan kompleks.

Sesuai dengan amanah QS 2: 29 bahwa ”Bumi diciptakan sebagai tempat tinggal dengan segala fasilitasnya”. Bagi manusia maka sumber karbohidrat disediakan pula melalui akar, daun, atau biji beras, gandum, dan jagung.

”Seumur” jagung adalah sebuah fakta yang menggambarkan bahwa tanaman jagung hanya butuh ”umur” dua bulanan untuk dipanen sekaligus tamsil tentang betapa pendeknya ”umur” sebuah kebahagiaan yang baru didapat kemudian tiba-tiba harus terlepas.

Seperti yang digambarkan oleh Ida Laila dalam lagunya ”Tiada kusangka cintaku yang agung, ternyata hanya seumur jagung. Belum puas ku mengecap manisnya. Tapi pahitnya yang menimpa….Tetapi pahitnya yang menimpa”.

Sebagai instrumen takdir, ”umur” senantiasa ditetapkan oleh Allah pada setiap makhluk-Nya, termasuk di dalamnya adalah manusia. ”Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah kemudian menjadi alaqoh  seperti itu pula. Kemudian menjadi mudghah seperti itu pula”.

Kemudian seorang malaikat diutus kepada-Nya untuk meniupkan ruh di dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat hal. Yaitu menuliskan rizkinya, umurnya, pekerjaannya, dan nasib celaka atau bahagianya.

Demi Allah yang tidak ada Ilah yang wajib disembah selain Dia. Sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dan surga hanya tinggal sehasta. Tetapi catatan telah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya.

”Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian  beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dan neraka hanya tinggal sehasta.  Tetapi catatan telah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya,” HR Bukhori dan Muslim.

Menyiasati pendeknya ”umur”, masyarakat Jawa memberikan pitutur introspektif, ”Ojo Dumeh”. Pada sistem tata kelola potensi, saat dihampiri kekayaan, pangkat maupun popularitas jangan bersikap mentang-mentang.

Waspada dan hati-hati menjadi pesan yang bersifat simbiosis antara materi hadis di atas dengan tradisi kalender weton pada kultur Jawa dengan menghadirkan sistem skoring nasib pada rangkaian angka satu hingga tujuh dan menyematkan istilah neptu (nilai) pada masing-masing hari seperti neptu sembilan untuk hari Sabtu plus kombinasi pasaran Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Memaknai perjalanan ”umur”, penghujung tahun menjadi momentum yang pas untuk mengambil i’tibar pada saudara kita yang diangkat derajatnya dari lembah pengangguran berubah menjadi pengusaha dengan atribut serba wah sekaligus pejabat tinggi negara dan ketua umum partai.

Namun kelalaiannya mengelola nikmat umur, di penghujung umurnya ia harus menikmati dinginnya lantai penjara dan terpaksa melepas atribut kemuliaan dunia dan berubah status menjadi narapidana.

Nasihat Mbah Kung, ”Ati-ati kepleset nang dalan roto, yoiku gemerincinge ringgit, sumilaing jari ” (hati-hati terpeleset di jalan nan mulus, yaitu  gelimang uang dan libido ranjang). Selamat datang 2018 jika ada ”umurku” sambut kehadiranmu dengan senyum.

(bw/*/als/JPR)

Source link