Sri Mulyani, Penari dan Koreografer Berprestasi Internasional – Radar Surabaya

Sri Mulyani, pendiri sekaligus pimpinan Mulyo Joyo Enterprise, yang banyak berkiprah di Sidoarjo dan Surabaya, baru saja melakukan diplomasi budaya di Wellington, 11-15 Desember 2017. Sri mengajak empat penari binaannya, yakni Nila Rahayu Ningsih, Mazaya Nurbaity, Maheswari Dian Permata, dan Firly Annisa ke ibukota Selandia Baru itu. ”Kami melakukan kolaborasi tarian dengan grup gamelan dari Wellington bernama Taniwha Jaya,” ujar koreografer senior ini kepada Radar Sidoarjo kemarin.

Malam apresiasi budaya bertema Bali, The Sound of Sights of Heaven itu disaksikan para pejabat, pengusaha, dan tokoh masyarakat setempat. 

Diiringi musik gamelan yang dimainkan para seniman asal Selandia Baru, Sri Mulyani dan empat penari dari Kota Pahlawan menampilkan Tari Pendet, Cendrawasih, dan Truna Jaya. Selama satu jam para undangan antusias menyaksikan kolaborasi seniman kedua negara tersebut. ”Saya percaya bahwa diplomasi budaya sangat powerful. Ia sanggup menembus semua perbedaan dan peradaban yang ada. Melalui gamelan, kami mendapat banyak teman,” ujar Dubes Tantowi yang dulu dikenal sebagai presenter dan penyanyi lagu-lagu lawas berirama country itu.

Diplomasi budaya ala Sri Mulyani dan kawan-kawan dilanjutkan dengan workshop di beberapa sekolah di Wellington. Di antaranya Qlyde Quay School dan St Teresa Karori School. Selama di Wellington, Sri Mulyani dan kawan-kawan didampingi Budi S Putra, pejabat KBRI selalu koordinator semua kegiatan.

”Saya mengajar teknik dasar gerak tari gaya Jawa Timuran. Tari Sekar Kedaton Sedap Malam yang merupakan ciptaan saya sendiri,” kata karyawan Bank BPR Jatim (Bank UMKM Jawa Timur) itu.

Tari Sekar Kedaton Sedap Malam itu sebelumnya meraih tiga penghargaan terbaik dalam Festival Cipta Karya Tari pada 29 April 2017. Sri mengaku gembira dengan apresiasi masyarakat Selandia Baru terhadap seni budaya kita. Khususnya kolaborasi gamelan dan lima penari Surabaya itu. “Mereka itu sangat antusias dan menyaksikan secara saksama. Setelah tarian selesai, tepuk tangan mereka sangat lama. Seakan tidak berhenti,” ujar lulusan STKW Surabaya itu.

Bukan kali ini saja Sri Mulyani go international untuk menampilkan seni tari Indonesia. Diawali dengan pertunjukan keliling selama tiga bulan di 25 kota di Prancis (1997), Sri kemudian tampil di Sydney, Australia (2004), tur tiga bulan di Belanda (2004). Kemudian sibuk menciptakan karya tari kontemporer di tanah air… dan panen penghargaan pula. “Saya juga tampil di Turki tahun 2008 kemudian Hongkong tahun 2012 dan 2013,” ujar istri Suyanto, pegawai Dinas Pendidikan Jawa Timur ini.

Meskipun sudah mengantongi banyak penghargaan dan sering tampil di luar negeri, Sri Mulyani tidak melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Dia memberikan bekal pengetahuan sekaligus mendorong anak-anaknya untuk terus berkembang di bidang yang diminatinya. Hasilnya, Pringgo Jati Rachmanu, putra sulungnya terpilih sebagai dalang muda terbaik tingkat nasional tahun lalu.

“Seorang ibu (zaman now) harus sesering mungkin memberikan wacana yang menarik dan positif untuk membudidayakan kreativitas anak. Anak dirangsang untuk mencari ide-ide kreatif dan inovatif agar tidak tergilas oleh zaman,” ujarnya.

Di era media sosial (medsos) ini, Sri berharap masyarakat tidak hanya asyik dan iseng membuka ponsel hanya untuk chatting atau merespons unggahan yang kurang bermanfaat. Sebab, hal itu hanya merugikan diri kita sendiri. “Saya berharap agar media sosial bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan atau mempromosikan karya cipta kita dan menjadi ajang untuk menjalin hubungan kerja sama yang baik,” katanya.

Sebagai seorang ibu, Sri mengaku selalu memperhatikan dan mengarahkan anak-anaknya agar tidak terlena dengan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif. Masa depan generasi muda harus disiapkan sedini mungkin. “Jangan pernah ada kata malas. Sebab, kemalasan itu membuat kita tidak mendapat apa-apa. Semangat, aktif, kreatif, dan bertanggung jawab,” begitu pesan Sri Mulyani di Hari Ibu ini. (rek)

(sb/rek/rek/JPR)