Status Tanggap Darurat Bencana Gunung Agung Diperpanjang – Bali Express

Dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, bahwa hari ini (10/11) Pemprov Bali dipastikan akan memperpanjang masa tanggap darurat bencana Gunung Agung. Menurut Dewa Indra, hal ini dikarenakan masih adanya masyarakat KRB III yang sedang berada di pengungsian. “Sekarang kan masih level III (Siaga), tentu tanggap darurat harus diperpanjang, kan masih ada masyarakat yang mengungsi,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, penetapan status tanggap darurat ini dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa aspek. Salah satunya adalah masih adanya pengungsian. Pada prosesnya ketika masih terdapat masyarakat yang mengungsi, tentu akan memerlukan logistik. “Kalau masih ada pengungsi tentu akan memerlukan logistik, nah dari status tanggap darurat inilah nantinya akan mempermudah pencairan logistik dan lain sebagainya,” jelas Dewa Indra.

Dewa Indra menambahkan, namun ketika nanti status Gunung Agung dikatakan kembali normal maka nantinya secara otomatis status tanggap darurat akan selesai. Pun demikian sebaliknya, ketika status gunung masih mengakibatkan adanya pengungsian, maka status tanggap darurat akan tetap diperpanjang. “Iya nanti kalau PVMBG menyatakan status Gunung Agung kembali normal, maka tanggap darurat akan selesai secara otomatis,” tandasnya.

Sementara itu, di hari yang sama kemarin, ratusan anak-anak pengungsi yang hampir dua bulan ditampung di posko pengungsian Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng mendapatkan rehabilitasi dari Kementerian Sosial. Rehabilitasi ini diberikan melalui kegiatan bersifat riang gembira, tak ayal suasana penuh tawa dan canda, serta senyuman lepas keluar dari ratusan anak-anak tersebut.

Dari pantauan koran ini, terlihat ratusan anak-anak yang berada di camp Agung Lima, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula berkumpul untuk mengikuti berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menyegarkan kejiwaan anak-anak yang ada di pengungsian. Mereka begitu gembira saat proses rehabilitasi dilakukan, sehingga terlihat lepas dengan bermain bersama anak-anak lainnya.

Proses rehabilitasi kejiwaan anak-anak dilakukan langsung Dirjen Rehabiltasi Sosial Anak, Marzuki, melalui Pondok Ceria. Menurut Marzuki rehabiliatasi penting dilakukan demi memulihkan kondisi psikologi anak-anak melalui pendampingan agar bisa kembali ceria. “Kementrian Sosial khususnya Direktorat Anak memiliki tugas ketika paska bencana. Tujuannya untuk menghilangkan trauma yang dialami anak-anak akibat bencana yang ditimbulkan. Sehingga dengan pemberian Pondok Ceria ini, kami harap mereka tetap beradaptasi dengan lingkungan secara maksimal,” ujar Marzuki.

Dalam proses pengungsian, Marzuki menyebut hak dasar anak yang wajib dipenuhi, yakni hak akan makan, kesehatan, sekolah dan beradaptasi. “Semua harus menyadari, jika hak anak-anak selama mengungsi harus dipenuhi. Mulai dari hak hidup, hak makan, hak mendapatkan kesehatan, pendidikan dan lainnya,” terangnya.

Selain memberikan Pondok Ceria, Dirjen Rehabilitasi Sosial Anak juga membagikan bantuan alat tulis, seperti buku, pulpen, pakaian sekolah, hingga perlengkapan MCK. “Kami tidak hanya membantu merehabilitasi psikis mereka, tetapi juga memberikan bantuan berupa buku, alat tulis, pakaian sekolah juga alat MCK” pungkasnya.

Sementara itu Camat Tejakula, Nyoman Widiartha menyebut, pasca penurunan status Gunung Agung dari Awas menjadi Siaga, jumlah pengungsi yang ada di Kecamatan Tejakula terus berkurang. Data terakhir, jumlah pengungsi yang masih bertahan di pengungsian Kecamatan Tejakula berjumlah 3.975 jiwa.

“Sampai sekarang jumlahnya terus mengalami penurunan, karena sudah banyak pengungsi yang di luar KRB sudah pulang ke rumahnya di Karangasem. Sementara yang tertampung disini statusnya berada di wilayah rawan bencana, sehingga wajib mengungsi. Jumlah pengungsi sekarang mencapai 3.975 jiwa” tutupnya. 

(bx/gus /dik/yes/JPR)

Source link