MOJOKERTO – Heboh munculnya ikan Arapaima gigas di habitat dan ekosistem Sungai Brantas dalam sepakan terakhir rupanya belum berakhir.

Kali ini, ikan predator penghuni asli Sungai Amazon, Brazil itu kembali muncul ke permukaan hingga menjadi tontonan dan buruan warga Kota Onde-Onde. Tepatnya di Sungai Brangkal, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Senin (2/7) pagi. 

Heri Wijianto, warga setempat berhasil menangkap ikan invasif tersebut saat tengah melintas landai di permukaan dangkal. Meski tak terlalu agresif, namun ikan yang mampu menghabiskan ikan lokal di sekitar hingga mencapai 10 persen dari bobot tubuhnya itu cukup menyulitkan Heri bersama warga lain untuk mengangkatnya ke permukaan.

Hingga upaya mengunakan tembak bius dan setrum pun tak bisa dielakkan agar energi ikan tersebut melemah dan mudah diangkat. ’’Panjangnya mencapai 130 sentimeter. Lebih kecil dari tangkapan sebelumnya,’’ terangnya.

Ya, munculnya Arapaima gigas di perairan sungai Kota Mojokerto kali ini memang cukup berbeda dari temuan sebelum-sebelumnya. Sebab, jika dikomparasikan dengan lokasi pelepasannya, predator tersebut rupanya tidak mengikuti arus Sungai Brantas. Melainkan melawan arus hingga tersesat ke Sungai Brangkal.

Padahal, Sungai Brangkal tergolong perairan dangkal saat musim kemarau tiba. ’’Sudah dua kali saya menemukan ikan seperti ini (Arapaima gigas, Red) di sini (Sungai Brangkal, Red). Sebelumnya lebih besar, panjangnya sampai 160 sentimeter,’’ tambah Heri.

Nah, hasil tangkapan Heri kemarin semakin menguatkan dugaan jika jumlah Arapaima gigas yang dilepas dari kolam H. Ghofur, pengusaha asal Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, itu melebihi dari pengakuan yang disampaikan ke BKSDA Jatim dan BKIPM Kelas II-B Tanjung Perak, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Yakni, ada 10 ekor Arapaima gigas yang dilepas di tiga titik berbeda. Dari penghitungan sementara awal temuan sampai sekarang, tercatat sudah terdapat 13 Arapaimagigas yang berhasil diangkat ke permukaan.

Masing-masing berada di anak Sungai Brantas di Desa Miliriprowo, dan Gampingrowo, Tarik, Sidoarjo; Sungai Porong di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, hingga di Sungai Brangkal, Kranggan, Kota Mojokerto.

Jumlah tersebut belum termasuk yang ditemukan warga, namun terlampau mati hingga tak terpantau petugas dan warga. ’’Untuk jumlahnya, memang masih  tercatat delapan ekor. Kita belum menerima update data tambahan lagi,’’ ujar Abdul Khalim, kepala Resort Konservasi Wilayah Mojokerto-Sidoarjo BBKSDA Jatim.

Nah, untuk menyelamatkan habitat dan ekosistem Brantas dari predator Amazon, BBKSDA bersama BKIPM kini telah mendirikan posko penyerahan ikan Arapaima gigas dari masyarakat.

Baik yang berhasil ditangkap di perairan sekitar Sungai Brantas maupun yang sengaja dipelihara oleh warga. Masa berlaku posko berlangsung selama sebulan, terhitung sejak Minggu (1/7) hingga 31 Juli mendatang.

Pendirian posko tersebut atas perintah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 41 Tahun 2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri ke dalam Wilayah Indonesia.

Di mana, Arapaima gigas masuk dalam daftar 152 spesies ikan berbahaya karena sifatnya yang rakus dan mampu menghabiskan ikan lokal. Sehingga memengaruhi keseimbangan ekosistem Sungai Brantas.

(mj/far/ris/JPR)

Source link