sumber air damarwulan – Radar Kediri

Tidak hanya bencana longsor dan banjir yang mengancam, warga Dusun Damarwulan saat ini juga khawatir dengan keberadaan sumber air Damarwulan. Jika tidak segera direhabilitasi, bukan tidak mungkin warga bisa kehilangan pasokan air bersih dan listrik.

Hari masih tampak sedikit gelap. Matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya di ufuk timur, tapi beberapa warga sudah rela berada di kawasan sumber air Damarwulan yang letaknya di lereng Gunung Kelud. Tidak mudah menuju ke daerah yang masuk kawasan Perkebunan PTPN XII Ngrangkah Sepawon itu.

Akses paling mudah menuju kawasan itu bisa ditempuh dari jalan raya Desa Satak, Kecamatan Puncu. Itupun warga masih harus menyusuri jalan berpasir dan bebatu yang menanjak menuju sumber air yang berada sekitar tiga kilometer dari pemukiman.

Tidak hanya itu, akibat sulitnya medan sesekali roda sepeda motor atau mobil bisa tergelincir. Licinnya pasir harus mereka taklukkan. Warga rela menempuh sulitnya medan itu demi kembali menanam pohon-pohon di area sumber air yang beberapa bulan lalu ditebang. Tujuannya satu, yakni untuk mempertahankan sumber air yang menjadi sumber penghidupan utama warga.

Minggu (7/1) pagi, warga setempat dibantu beberapa komunitas peduli lingkungan di wilayah Kediri sepakat untuk melakukan aksi. Kali ini adalah dengan cara kembali melakukan penanaman pohon. “Kami tidak ingin dengan penebangan ini, sumber kami rusak. Padahal sumber ini vital sekali bagi kami,” terang Suyitno, 46, perwakilan warga Desa Satak.

Aksi penanaman pohon tersebut dilakukan karena warga geram atas penebangan pohon yang dilakukan oleh PT Empat Pilar Anugerah Sejahtera (EPAS). Menurut dia, jika tidak segera ditanami, beberapa wilayah bisa terancam kekeringan. Suyitno menyebut setidaknya ada tiga dusun di Desa Satak yang terancam, yakni Dusun Yani 1, Yani 2, dan Dusun Satak sendiri. Belum lagi beberapa dusun di Desa Puncu akan terpengaruh. “Karena pasokan air satu-satunya ke wilayah itu hanya Sumber Damarwulan itu saja,” ujarnya.

Warga ternyata juga khawatir dengan pasokan listrik. Ini mengingat Dusun Damarwulan belum mendapatkan akses listrik dari PLN, sehingga warga masih sangat bergantung pada listrik yang berasal dari kincir air yang digerakkan oleh sumber air. Jika sumber air bermasalah, bisa dipastikan pasokan listrik ke 19 kepala keluarga (KK) akan terganggu.

Kekhawatiran warga tidak hanya terhenti pada pasokan air bersih dan listrik.  Warga juga kawatir dengan keamanan dua pipa besi yang berada di bawah dan samping jalan sepanjang akses tambang. Karena jika aktivitas penambangan mulai aktif, otomatis truk bermuatan berat selalu melewati jalan itu. Sehingga dikhawatirkan pipa air akan rusak dan menghambat air sampai ke pemukiman warga. “Dua pipa itu juga vital. Satu mengarah ke pemukiman di Desa Satak dan satunya ke Desa Puncu,” terang pria kelahiran 8 Juni 1964.

Dua pipa itu harus tetap dipertahankan. Karena jika harus membuat sumur, warga haru menggali sampai kedalaman 126 meter dan baru keluar air karena wilayahnya merupakan dataran tinggi. “Adapun jika ingin bangun (sumur, Red.) biayanya cukup mahal. Pastinya warga tidak sanggup buat sendiri sumur itu,” lanjut Suyitno.

Pria kelahiran Dusun Yani 1 ini menerangkan walaupun saat ini Sumber Damarwulan masih lancar, namun air di dusun terjauh dari sumber ini pun debitnya pun terbatas sekali. Yaitu seperti di Yani 1 ini wilayah barat dan timur harus bergantian pasokan air dalam dua hari sekali.

Setiap rumah punya tendon sendiri agar saat pasokan air dua hari tidak teraliri warga Yani masih bisa menikmati air bersih. “Lancar saja kita sudah sulit begini cari air. Apalagi kalau sampai Sumber Damarwulan ini sampai kering karena penebangan liar itu. Pasti kami akan sangat kesulitan,” sambungnya.

Terlebih saat musim hujan seperti saat ini, sumber air kerap tertimbun longsoran. Agar aliran tetap lancar setiap seminggu sekali warga bersama-sama kerja bakti untuk korekan membersihkan sumber tersebut.

Suyitno juga menyebut bahwa pada tahun 2009 warga sempat pernah kebingungan saat Sumber Damarwulan tersebut kering karena musim kemarau panjang. Sehingga untuk mencukupi air warga dua desa yang biasanya mengandalkan sumber air harus membeli air dari desa tetangga untuk mencukupi kebutuhannya. “Dulu saya masih ingat untuk beli air saat itu kami harus mengeluarkan uang Rp 125 ribu untuk lima ribu liter air,” kenang Suyitno.

Sumber Damarwulan dirasa sangat penting bagi warga. Karena itu warga pun sudah terbiasa menjaganya. Tidak hanya saat tahu pohonnya ditebang mereka mereboisasinya lagi. “Sampai pohon bambu pun kita jaga. Karena pohon-pohon itu yang memasok air bagi sumber ini,” terang pria berumur 53 tahun ini.

Pernah suatu saat ada warga yang nekat mengambil batang rebung (bambu muda, Red.) di sekitar sumber untuk dimasak. Warga lain lantas menegur agar tidak mengambil rebung, bahkan jika tetap dilanggar akan dilaporkan ke kepolisian setempat. “Ini cara kita agar sumber itu terjaga. Karena rebung itu juga bakal bambu yang akan menjadi pasokan air pada kelangsungan sumber kita,” tegasnya.

(rk/fiz/die/JPR)

Source link