Upaya pemkab untuk merombak skema dana pembinaan bagi cabang olahraga, berdampak lain. Hingga menjelang akhir tahun, belum sepeserpun dana pembinaan untuk cabang olahraga (cabor) bisa dicairkan. Kondisi ini berakibat pada pembinaan cabor di Jember yang harus berlangsung minimalis. 

“Sekarang ini, para pengurus cabor bukan lagi tekor, tapi sudah ancur-ancuran,” tutur Ketua Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Jember, Haryu Islamuddin. Kodrat merupakan induk organisasi cabor Tarung Derajat yang sudah berada di bawah naungan KONI Jember. 

Kondisi minimalis ini, menurut Haryu sudah dirasakan para pegiat olahraga di Jember sejak dua tahun terakhir. Tahun lalu, dana pembinaan yang bisanya dicairkan pertengahan tahun, baru bisa dicairkan menjelang pergantian ke tahun 2017. Itupun jumlahnya tidak seberapa. “Tahun lalu, saya bukan lagi menggadaikan, tapi sudah menjual motor, demi membiayai atlet-atlet saya agar bisa tetap berlatih dan membela nama Jember,” jelas Haryu. 

Kondisi olahraga di Jember ini, menurut Haryu kontras dengan di daerah lain. Seperti di Banyuwangi misalkan, yang memiliki kegiatan sama persis dengan Jember. Namun sistem pembinaan dan jumlah dana yang diberikan oleh Pemkab Banyuwangi, jauh lebih besar daripada yang ada di Jember. “Memang kondisi ini menimbulkan godaan, atlet untuk lari ke luar Jember. Pindah ke daerah yang lebih bagus. Tapi di Tarung Derajat, kami usahakan untuk tetap bertahan membela Jember, entah sampai kapan,” harap Haryu. 

Kondisi serba memprihatinkan juga dirasakan oleh cabor senam. Seperti dituturkan Ani Kuntariani, pelatih senam dari Persani (Persatuan Senam Indonesia) Jember. “Kondisi olahraga di Jember sekarang memang sedang susah. Karena tahun ini kami terhambat pembiayaan untuk mengikuti kejuaraan mewakili Jember,” tutur Ani. 

Kondisi Jember ini menurut Ani berbanding jauh dengan daerah tetangga. Akibatnya, banyak atlet senam asli Jember yang ditawar untuk berpindah membela daerah lain. Setidaknya saat ini, terdapat dua atlet senam Jember yang berprestasi, yang ditawar untuk membela salah satu kabupaten di Jatim, dengan iming-iming nilai sebesar Rp 30 juta. “Mereka bilang, sudah ikut kami aja, nanti pulang-pulang ke Jember bawa sepeda motor baru,” aku Ani. 

Minimnya sarana-prasarana untuk atlet senam ini, terutama terjadi di mata nomor senam artistik. “Kami kalau mau berlomba, harus numpang latihan di Kabupaten Probolinggo. Karena di sana peralatannya jauh lebih lengkap,” jelas Ani. 

Meski demikian, Ani enggan untuk melepas atlet tersebut. Ani berusaha menanamkan kecintaan pada Jember meski dengan kondisi serba terbatas. “Karena kami masih berharap ada respons dari pemerintah untuk para anak didik kami,” pungkas Ani.

(jr/ad/ras/das/JPR)

Source link