Tak Ada Pengadaan TL  – Radar Bojonegoro

Menurut dia, pemasangan TL tidak bisa dilakukan sembarang tempat.  Karena harus melalui proses pengkajian analisis dampak lingkungan lalu lintas (Amdal Lalin).  Apalagi kalau ruas jalan berada di kawasan pinggiran kota.  ‘’Intensitas kendaraan dan jumlahnya harus diperhatikan betul,’’ ujarnya.

Dia melanjutkan, tahun ini pihaknya hanya fokus pemeliharaan. Seluruh sarana prasarana membutuhkan perawatan berkelanjutan. Misalnya, perawatan rambu-rambu, TL, dan warning light (WL). ‘’Semua itu butuh pemeliharaan rutin, karena kerusakan ringan ataupun berat terjadi setiap hari. Seperti pemasangan baterai, pemeliharaan rambu, dan lainnya,’’ ungkapnya. 

Menurut Erwin, tahun ini pemeliharaan TL  dan warning light dianggarkan Rp 89 juta.  Ada lima titik TL menjadi prioritas. Yakni perempatan family,  perempatan alun-alun,  perempatan DPRD, perempatan Pagerwojo,  dan perempatan Jalan Kusuma bangsa.  ‘’Kelima titik ini mejadi prioritas, karena jumlah kendaraan melintas cukup banyak,’’ katanya. 

Sedangkan pemeliharaan WL, lanjut dia, ada sekitar 12 titik.  Karena kemampuan anggaran terbatas, hanya fokus empat titik.  Yakni pertigaan rangge,  pertigaan made,  pertigaan SMAN 1, dan pertigaan sumargo.  “Kita lakukan bertahap pemeliharaannya,  nanti dianggarkan lagi tahun berikutnya,’’ ujar dia.  

Dia menjelaskan, pemeliharaan memakan dana besar. Apalagi ada TL  memanfaatkan energi surya.  Baterai harus sering diganti. Tapi kelebihannya tidak padam bila listrik mati.  ‘’Kalau TL dari energy listrik akan padam ketika listrik mati. Juga kurang efisien sebab rentan penyerobotan listrik,’’ ungkapnya.

Erwin menambahkan, pengadaan TL dimungkinkan dilakukan tahun depan. Tapi difokuskan mengganti TL alun-alun karena sudah lama.  Juga penambahan TL di perempatan Jalan Veteran dan Suwoko.

(bj/rka/feb/faa/JPR)

Source link