Takdir yang Membawa Ke Jawa Timur – Radar Tulungagung

“Mbak kapan pulang?” tanya Sekjen DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto melalui telepon di Jakarta. Puti yang berada di Tokyo menyampaikan, “Besok, Mas, 9 Januari, jadwal saya pulang,” kata Puti.

Tiba di Jakarta, Puti Guntur langsung dibawa ke kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar. “Saat itu saya diberitahu Ibu Ketua Umum, diberi mandat ke Jawa Timur sebagai calon wakil gubernur, mendampingi Gus Ipul,” kata Puti mengenang saat itu.

Gus Ipul atau H Saifullah Yusuf, telah dua periode menjadi wakil gubernur Jawa Timur 2008-2018, mendampingi Gubernur Pakde Karwo (Soekarwo, Red). Gus Ipul telah resmi mendaftar calon gubernur melalui PKB dan PDIP.

Pertengahan Oktober 2017, dua parpol peraih suara besar, PKB dan PDIP, telah sepakat koalisi dalam Pilkada 2018 di Jawa Timur. Gus Ipul, kader NU, cicit pendiri NU (alm) KH Bisri Syansuri, menjadi representasi PKB sebagai calon gubernur. Sedangkan untuk posisi calon wakil gubernur ditempati kader PDIP.

Hari-hari itu terjadi teka-teki, siapakah yang menjadi calon wakil gubernur mendampingi Gus Ipul. Ini setelah pengunduran diri Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, yang semula ditugasi PDIP menjadi calon wakil gubernur.

Hari-hari itu, 7-9 Januari 2018, adalah saat yang menegangkan bagi Gus Ipul, PKB, dan PDIP. Pasalnya, pendaftaran Pilkada 2018 telah dibuka KPU dan berakhir 10 Januari 2018, tengah malam. Siapa yang akan mendampingi Gus Ipul?

Mandat itu tanpa diminta Puti Guntur, ternyata jatuh pada dirinya. Rupanya, nama Puti Guntur diajukan oleh kiai-kiai sepuh di Jawa Timur. Dia yang masih muda, cucu Bung Karno, dianggap figur yang tepat untuk mendampingi Gus Ipul.

Megawati berpesan, mandat itu bukan karena Puti Guntur cucu Bung Karno. Juga bukan karena keponakan Megawati. Dia ditugasi sebagai petugas partai, kader PDIP, yang harus siap ditugaskan di mana pun, di wilayah Republik Indonesia.

“Tugasmu tidak ringan, Puti. Tidak hanya harus menang. Lebih penting lagi, merajut Merah Putih. Merajut kebangsaan. Terutama antara kaum nasionalis dan kaum nahdliyin di Jawa Timur,” pesan Megawati, seperti dikutip Puti Guntur.

Rupanya, pimpinan PKB dan PDIP ingin menjadikan pilkada Jawa Timur sebagai “proyek kebangsaan”. Yakni memperkuat kebersamaan kaum nasionalis dan kaum nahdliyin. Dan Jawa Timur menjadi basis kekuatan keduanya.

Sebelum berangkat ke Jawa Timur, Puti mendapat pesan dari ayahnya, Guntur Soekarno. “Jangan takut. Di Jawa Timur banyak kaum nasionalis, pecinta Soekarno dan kaum marhaenis, yang akan turun tangan, membantu, dan membuka jalan,” kata Guntur memberikan restu.

Selepas Magrib pada 10 Januari 2018, Puti Guntur Soekarno tiba di Surabaya. Ini adalah hari terakhir pendaftaran ke KPU. Di Bandara Juanda, dia dijemput oleh pimpinan PDIP Jawa Timur dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma).

Menjelang pukul 20.00, dari kantor DPD PDIP Jawa Timur, Jalan Kendangsari Industri, Surabaya, Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno diarak jalan kaki oleh ribuan kader PDIP dan PKB.

Ada Wakil Sekjen DPP PDIP Ahmad Basarah, Ketua DPD PDIP Jawa Timur Kusnadi, Sekretaris DPD PDIP Sri Untari, dan Ketua DPC PDIP Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana.

Bupati Ngawi Budi “Kanang” Sulistiyono juga ikut jalan kaki mengantar Gus Ipul-Puti Guntur. Wali Kota Risma juga. Mereka berbaur jadi satu dengan penuh semangat. “Memilih Gus Ipul-Mbak Puti, insyaallah bermanfaat dunia-akhirat,” kata Risma.

Bupati Ngawi juga tak bisa menyembunyikan rasa lega dirinya dengan penugasan PDIP pada Puti Guntur. “Ini pasangan top. Kaum nasionalis pasti bersatu di Jawa Timur,” kata Kanang.

Darah Jawa Timur

Inilah jalan takdir yang membawa Puti Guntur ke Jawa Timur. Di provinsi ini, kakeknya lahir di Surabaya, tumbuh dan berkembang menjadi tokoh pergerakan Indonesia. Di Jawa Timur pula, jenazah Bung Karno disemayamkan di Kota Blitar.

Puti Guntur tumbuh dan besar di Jakarta. Namanya sempat muncul dalam isu pencalonan di Pilkada DKI 2017. Sebagai anggota DPR RI dua periode, dia terpilih dari Jawa Barat. Cukup lama dia membangun pengaruh di Jawa Barat. Puti bahkan sempat mendaftar Calon Wakil Gubernur Jawa Barat lewat PDIP.

Namun, takdir berkata lain. Dia dibawa pulang kembali ke tanah kakeknya. “Bagi saya, penugasan ini membawa ke ufuk timur,” istilah Puti. Dia mengambil istilah matahari terbit sebagai kiasan untuk provinsi paling timur di Pulau Jawa ini.

Tampillah Puti dengan melakukan safari dan kampanye di banyak daerah di Jawa Timur. Puluhan daerah disinggahi. Dia bangkitkan kembali kekuatan moral kaum nasionalis. “Kita kuat karena bersatu, kita bersatu karena kuat,” tegas Puti.

Sembari itu, Puti Guntur sedapat mungkin sowan pada para ulama dan kiai sepuh di banyak tempat yang menjadi simbol kaum nahdliyin. Dia juga bersilaturahmi dengan pemimpin-pemimpin agama lain. Dia temui banyak kalangan dari banyak lapisan dan golongan ke masyatakat.

Puti Guntur juga melakukan blusukan ke pasar-pasar, menemui petani, nelayan, para pelajar, seniman, budayawan, para kaum perempuan, dan anak-anak milenial. Dia temui para pelaku usaha.

Puti terus masuk ke Jawa Timur, semakin dalam dan intens untuk merajut Merah Putih serta kebangsaan. Seperti pesan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Berangkat pagi, selesai larut malam. Tiap hari bisa 8-12 kegiatan. Begitu yang sering dikerjakan Puti Guntur di Jawa Timur. “Luar biasa Mbak Puti. Belum tiga bulan bekerja, angka popularitas sudah hampir mencapai 50 persen. Susah melakukan seperti itu,” kata Gus Ipul.

Yang juga menjadi takdir, di Jawa Timur, dirinya kembali bertemu kerabat-kerabat keluarga dalam “pohon besar”, ketika Bung Karno masih hidup. Di dalem Pojok, Wates, Kabupaten Kediri, dia bertemu kerabatnya yang lama terputus.

Rumah itu pernah ditinggali Bung Karno saat masih muda. Beliau punya ayah angkat bernama Soerati Soemosewojo. Dahulu di masa muda, Bung Karno bernama Kusno. Karena sakit-sakitan, oleh Soerati, namanya diganti Soekarno. “Perubahan nama itu dilakukan di dalem Pojok ini,” kata Kushartono, pengurus rumah.

Di Tulungagung, Puti Guntur berziarah ke Makam Raden Hardjodikromo, kakek canggahnya di Kelurahan Kepatihan. Harjodikromo adalah ayah dari Soekemi Sosrodihardjo, kakek Soekarno.

Di kompleks makam itu pula, dia berziarah ke pusara Sarinah, inang pengasuh Bung Karno saat masih kecil. “Pada diri saya mengalir darah Jawa Timur. Yakni keturunan dari Tulungagung,” kata Puti. (*)

(rt/ang/ang/JPR)