PUSAT DAKWAH: Masjid Siti Mustinah di kompleks Ponpes Tankila jadi tempat belajar mengaji santri dan warga sekitar.
(REKIAN – JawaPos.com/RadarKediri)

Kiai Hasan Mi’raj tidak hanya mengajarkan ilmu bela diri kepada santri untuk menumpas perampok. Ilmu bela diri juga digunakan untuk melindungi warga sekitar. Jika ada pencuri, Kiai Hasan punya metode khusus untuk menangkapnya.

Selain ilmu bela diri secara umum, ada ilmu khusus yang diajarkan kepada para santri. Yaitu, saipi angin. Para santri yang belajar di Ponpes Bahrul Hasan Tankila tahu persis kapan ilmu itu digunakan. Saipi angin biasanya digunakan Kiai Hasan saat menempuh perjalanan jauh.

Pengasuh Ponpes Tankila Kiai Ali Mustofa Said mengatakan, saipi angin artinya berjalan cepat. “Ya berjalan yang cepatnya seperti angin,” tutur pria yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nganjuk.   

Karenanya, saat harus pergi ke Surabaya atau kota-kota lain, Kiai Hasan sering menggunakan ilmu tersebut. Saipi angin juga sering digunakan untuk mengontrol santri-santrinya yagn sedang dalam perjalanan jauh.

Tidak hanya dikenal memiliki ilmu berjalan cepat, Kiai Hasan juga disegani warga karena mampu membuat Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon aman dan tenteram. Jika ada pencuri yang nekat beraksi di sana, Kiai Hasan punya metode khusus untuk menangkapnya.

Jika ada pencurian di Desa Tanjungtani, Kiai Hasan selalu mengumpulkan warga. Selanjutnya, setelah warga berkumpul Kiai Hasan meminta santrinya memanaskan satu kilogram timah hingga mencair.

Saat timah sudah mencair, satu per satu warga diminta mencelupkan tangannya ke dalam cairan yang bisa membakar tangan itu. “Warga yang tidak mencuri, tangannya aman-aman saja dimasukkan ke dalam cairan timah. Kalau pelaku pencuri mencelupkan tangannya, akan langsung terbakar,” kenang Kiai Ali yang mendapat cerita itu secara turun-temurun.

Metode itu sangat efektif untuk menangkap pencuri. Mayoritas para pencuri sudah mengakui perbuatannya sebelum mendapat giliran mencelupkan tangan ke dalam cairan timah. Metode menangkap pencuri ini belakangan dinamai Nimah. Diambil dari nama bahan timah yang digunakan.

Beberapa kelebihan yang dimiliki Kiai Hasan itulah yang membuat Ponpes Tankila dengan mudah diterima oleh masyarakat Tanjungtani. Hingga kini, Ponpes Tankila masih terus melakukan dakwah. Tak hanya santri yang memang tinggal di pesantren, warga sekitar juga banyak yang menimba ilmu di sana.

Di antaranya, mengikuti pengajian yang rutin digelar di  pondok. “Biasanya ibu-ibu yang ikut pengajian. Bulan Ramadan begini banyak ibu-ibu yang ikut pengajian setelah salat subuh,” terang Kiai Ali. (bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Source link