Tasun Pingsan Lihat Kedua Mata Sukadi yang Hancur – Radar Bojonegoro

‘’Saya tahu kalau mencuri itu salah. Tapi apa balasannya harus mengakhiri hidup suami saya?’’ ucap Tasun dengan mata memerah. Air mata Tasun sepertinya sudah mengering. Selama sepekan menemani Sukadi dirawat di RSUD dr. R. Koesma Tuban, tiap hari matanya tak berhenti mengucurkan air mata. Maklum, kondisi suaminya tersebut tidak hanya kritis. Namun juga mengenaskan. Kedua bola matanya hancur. Wajahnya lebam. Otaknya mengalami pendarahan bagian dalam.

Jika Sukadi mendapat mukjizat untuk tetap hidup, dia akan cacat permanen. Kedua matanya tidak akan bisa melihat. Begitu ucapan dokter yang didengarnya. Tiap hari pula ibu tiga anak itu mendengar rintihan kesakitan dari Sukadi. Sesekali dia membersihkan darah dan nanah yang mengucur dari kedua mata suaminya dengan kapas. ‘’Sejak dirawat, suami sudah tidak bisa bicara karena tenggorokannya rusak,’’ kata dia.

Sudah tak terhitung berapa kali hati Tasun remuk begitu mendengar rintihan suaminya. Awal ketika tahu kondisi suaminya saat dirawat di rumah sakit, Tasun sempat pingsan. Anak pertamanya,  Oki, sapaan akrab Rohmat Wahyu Okinawa selalu berusaha menguatkan hati sang ibu. Tasun mengaku beberapa kali mencoba mengikhlaskan suaminya pergi untuk selamanya. Namun ketika Laila, anak bungsunya berusia enam tahun menangisi ayahnya, tangis Tasun tak terbendung.

Selain kehilangan salah satu orang yang paling dia cintai, Tasun bersedih karena dia kehilangan satu-satunya tulang punggung keluarganya. Entah bagaimana nasib Laila, sapaan Fatimah Lailatul Nuromadoni. Dia masih berusia enam tahun dan baru duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Untuk makan saja susah. Lalu bagaimana Tasun mampu membiayai sekolah anak ketiganya tersebut. ‘’Saya tidak mungkin merepotkan Oki yang sudah berumah tangga, apalagi Agung yang belum punya pekerjaan tetap,’’ ujarnya yang mengaku tidak ingin merepotkan dua anak lainnya.

Untuk hidup sehari-hari, Tasun banyak berharap bantuan dari tetangga. Sebab, dia nyaris tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah, baik desa maupun kabupaten. Kalaupun dapat, hanya berupa delapan kilogram (kg) beras dan 1 kg telur. Itu pun dia terima enam bulan sekali di balai Desa Semanding. Bantuan lain yang didapat adalah BPJS Kesehatan dari pemerintah. ‘’Bantuan uang tunai, biaya anak sekolah, atau lainnya tidak pernah dapat,’’ ujar dia.

Semasa hidup, Sukadi dan Tasun beberapa kali berusaha mengajukan bantuan ke pemdes setempat. Terlebih, pasca Sukadi mengalami stroke sehingga tak mampu bekerja sebagai kuli bangunan. Namun, permohonan tersebut tak pernah mendapat respons apa pun. Kini, nasib Tasun dan anak bungsunya Laila terkatung-katung. Pasca meninggalnya Sukadi yang menjadi tulang punggung keluarga, mereka hidup dari belas kasihan tetangga dan anggota keluarga lainnya.

Untuk para pelaku, Tasun mengaku sudah memaafkan. Menanggapi bergulirnya kasus tersebut ke Satreskrim Polres Tuban, dia pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian. Dia hanya berharap, kasus yang menimpa suaminya tidak terulang di Tuban. ‘’Saya ikhlas kalau suami saya memang salah dan dihukum polisi. Tapi kalau sudah seperti ini, mau bagaimana lagi?’’ ucap dia yang tak mampu membendung air matanya.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

Source link