Taufiq Berkilah, Hanya Terima Sekali – Radar Kediri

Begitu sidang dibuka, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK Fitroh Rohcahyanto langsung menggali aliran suap Rp 1,35 miliar untuk suami Ita Triwibawati itu. Fitroh menanyakan proses mutasi pada Maret 2017 lalu yang melantik Ibnu Hajar, Harjanto dan M. Bisri, tiga terpidana kasus suap lainnya. “Untuk dilantik ini mereka harus membayar uang syukuran?” tanya Fitroh. 

Mendapat pertanyaan demikian, awalnya Taufiq, sapaan akrab Taufiqurrahman, mengelak dan berbelit. Di depan majelis hakim dia mengaku blank alias bingung. Meski demikian, akhirnya Taufiq mengakui jika uang syukuran itu ada.

Taufiq mengaku menerima uang Rp 300 juta setelah pelantikan Maret 2017 lalu. Uang tersebut, kilah Taufiq, selanjutnya diserahkan kepada Yayak, pengurus masjid di Diwek, Jombang. “Digunakan untuk membangun masjid,” dalihnya.  

Tak hanya mengaku menerima uang syukuran, Taufiq yang ditanya tentang aliran uang dari M. Bisri ganti berdalih jika dia pernah memerintahkan ajudannya untuk meminjam uang ke Bisri. Hal itu dialkukan tepat setelah Bisri dilantik menjadi Kabag Umum RSUD Nganjuk. Nilainya Rp 200 juta.  

 Mendapat dua pengakuan dari Taufiq, Fitroh lantas mengejar aliran uang dari pihak lain. Termasuk dari Suwandi, kepala SMPN 3 Ngronggot nonaktif yang mengaku banyak menyerahkan uang kepada Taufiq. “Bagaimana dengan Suwandi?” tanya Fitroh.

Ditanya demikian, Taufiq mengaku tidak pernah menerima uang dari Suwandi. Dia juga mengelak saat Suwandi dan Ibnu Hajar disebut sebagai orang dekatnya. Bantahan Taufiq itu lantas dibalas dengan bukti percakapan melalui aplikasi WhatsApp antara Taufiq dan Suwandi.  

“Ini ada percakapan saudara dengan Suwandi. Tidak mungkin kepsek bisa WA pribadi dengan bupati seperti saudara. Ini privat lho!” timpal Fitroh. Meski sudah dibeberkan bukti, Taufiq tetap saja berkilah jika selama ini dirinya sangat berhati-hati menjawab WA.

Untuk diketahui, selain menanyakan aliran uang dari Suwandi dan Ibnu Hajar, JPU KPK juga menanyakan aliran uang dari para saksi lain yang telah diakui sebelumnya. Mulai uang dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) nonaktif Harjanto, Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan Suroto.

Ada pula uang dari Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Teguh Sudjatmika, Kabid Ketenagaan Disdik Nganjuk Cahyo Sarwo Edi dan beberapa saksi lainnya. Jika sebelumnya Taufiq sempat mengakui, aliran uang dari para saksi itu langsung ditolaknya.

Dia mengaku tidak menerima uang dari mereka. Beberapa kali Taufiq juga mengaku tidak paham. Melihat keterangan Taufiq yang berbelit, Fitroh terlihat marah. “Menolak tidak apa-apa. Tapi harus logis,” tegasnya mendengar pengingkaran Taufiq terhadap peran sejumlah pejabat yang dianggap vital dalam mengumpulkan uang suap jabatan.

Seperti diberitakan, dalam sidang sebelumnya terungkap jika Kepala Dinas LH nonaktif Harjanto menyetor uang Rp 330 juta. Kemudian, Kabag Umum RSUD Nganjuk nonaktif M. Bisri menyetor total Rp 400 juta. Ada pula setoran Rp 110 juta dari Ketua MKKS SMP Teguh Sudjatmika.

Kemudian, Kabid Dikdas Disdik Nganjuk Suroto menyetor Rp 425 juta. Jumlah itu belum termasuk setoran dari Ibnu Hajar pribadi dan beberapa pejabat lainnya. Tetapi, seperti dalam sidang sebelumnya, setoran itu mayoritas diingkari oleh Taufiq saat dirinya diperiksa sebagai terdakwa, kemarin. 

(rk/rq/die/JPR)

Source link