Terbukti Cabuli Santrinya, Pengasuh Ponpes Divonis 12 Tahun Penjara – Radar Bromo

Sebelumnya,  JPU Kejari Kabupaten Pasuruan, Hendi Budi menuntutnya hukuman 14 tahun penjara. Bukan hanya kurungan badan. Pengasuh ponpes  yang ada di Desa Watukosek, Kecamatan Gempol tersebut juga diharuskan membayar denda Rp 250 juta. Bila tidak, hukuman kurungan badan selama enam bulan harus dijalaninya. 

Namun, dalam persidangan Senin (4/12), terdakwa divonis 12 tahun penjara. Ia juga harus membayar denda Rp 250 juta dengan subsider 6 bulan kurungan. Itu artinya, ia hanya mendapatkan “diskon” dua tahun penjara dari hakim. 

Ketua Majelis Hakim PN Bangil persidangan tersebut, Aswin Arief menyampaikan, terdakwa telah terbukti melanggar pasal 81 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. 

Ia menyetubuhi santri watinya, yang masih berusia belia, yakni 12 tahun. Hingga memicu trauma bagi korban. Padahal, terdakwa merupakan seorang tokoh masyarakat yang seharusnya  menjadi panutan. 

“Sayangnya, perbuatannya tersebut tak mencerminkan tokoh yang seharusnya menjadi panutan. Karena itu, kami memutus hukuman 12 tahun penjara. Serta denda Rp 250 juta subsider 6 bulan kurungan,” bebernya. 

Atas putusan tersebut, terdakwa memilih untuk pikir-pikir. Sementara, pihak JPU Kejari Bangil, Hendi Budi memilih untuk menerima. 

Seperti yang pernah diberitakan, pengasuh Ponpes yang ada di Desa Watukosek, Kecamatan Gempol, Misbachuddin, dilaporkan ke polisi. Ia dilaporkan 4 Maret  2017 silam, atas kasus dugaan pencabulan dan persebutuhan yang dilakukannya. 

Korbannya menimpa PT, 12, yang tak lain masih santrinya sendiri. Aksi persetubuhan itu dilakukan sekitar pukul 05.00, di dalam ponpes. Usai disetubuhi, korban beserta orang tuanya melaporkan terdakwa. Hingga petugas kemudian melakukan pendalaman. Dan akhirnya menangkapnya 5 Agustus 2017. 

(br/fun/one/fun/JPR)

Source link