Tercampur Air Hujan, Kualitas Getah Karet Menurun – Radar Jember

Hal tersebut membuat kualitas karet yang disadap menurun dan secara otomatis berpengaruh pada harga karet yang dipasok di pabrik. Hal tersebut diungkapkan oleh Hadi, salah satu petugas pencatat standar mutu getah karet di kawasan Gunung Pasang.

Selama musim hujan ini, kata dia, kualitas getah karet yang dibawa ke pos penimbangan pertama memang kurang bagus dibandingkan hari-hari biasa. Selain sistem sadap yang dilakukan, cuaca juga memegang peran penting. “Nantinya hasil produksinya juga berkurang, karena tercampur air hujan sehingga mempengaruhi kualitas,” ujarnya.

Setiap penyadap karet, terang dia, mulai melakukan proses penyadapan sejak dini hari hingga siang menjelang. Setiap penyadap bisa mendapatkan hasil yang bervariasi, bergantung pada sistem sadapnya. “Rata-rata per orang bisa mengumpulkan 12 hingga 20 liter per hari, tapi itu tidak pasti. Saat ini yang sudah ditimbang sekitar 500 liter,” lanjutnya.

Selain itu, sistem sadap yang digunakan juga mempengaruhi kualitas getah karet yang dihasilkan. Para warga sekitar Gunung Pasang yang menjadi penyadap karet biasanya sudah memperoleh pembinaan dari berbagai pihak untuk menjalankan sistem sadap agar bisa mendapat hasil sadapan karet dengan kualitas yang optimal.

Sebelum dikirim ke pabrik pengolahan karet, masing-masing penyadap akan mengambil sampel hasil sadapan yang sudah diperoleh. Ini menentukan seberapa baik kualitas karet yang dihasilkan, sekaligus memperkirakan harga per kilogram setelah digiling di pabrik nanti. 

“Kalau sudah digiling kering baru dihargai, per kilogramnya sekitar Rp 7.500 hingga Rp 8.000,” kata pria tersebut.

Nantinya, hasil para penyadap ini akan kembali ditimbang setelah diangkut dengan truk ke pabrik, dan setelah digiling hingga kering. Kawasan agrowisata Gunung Pasang memang menjadi lokasi penyadapan karet, selain perkebunan kopi yang menjadi prospek utama pariwisata di sana. 

(jr/lin/hdi/das/JPR)

Source link