Terjaring Razia, Empat PSK Diperiksa Dinkes – Radar Semarang

KAJEN- Pasca ditutupnya lokalisasi di Dukuh Kebun Suwung, Desa Sidomukti, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, setahun lalu oleh Bupati Pekalongan, ternyata masih banyak pekerja seks komersial (PSK) yang beroperasi. Mereka mangkal di sepanjang warung remang-remang yang ada di Kecamatan Bojong, Sragi dan jalur Pantura Siwalan.

Karena itulah, petugas Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan, melakukan razia terhadap para PSK yang sedang beroperasi di warung remang-remang. Tepatnya di Kecamatan Sragi, Bojong dan jalur pantura Siwalan, Sabtu (5/8/2017).

Hasilnya, empat PSK yang sedang mangkal di warung remang-remang di Kecamatan Sragi dan Bojong terjaring. Keempat PSK tersebut langsung dibawa ke Kantor Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan, untuk dilakukan pembinaan dan pendataan.

Setelah dilakukan pendataan, ternyata para PSK tersebut adalah mantan PSK yang beroperasi di lokalisasi Dukuh Kebunsuwung, yang telah ditutup oleh Pemkab Pekalongan setahun lalu. Mereka sudah lebih dari 5 tahun menjadi PSK.

Untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit HIV/AIDS, para PSK tersebut langsung diambil sample darahnya oleh Dinas Kesehatan. Hal itu, untuk mengetahui terjangkit tidaknya virus HIV/AIDS, mengingat para PSK tersebut telah beroperasi cukup lama.

Kabid Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan, Siswanto, mengungkapkan bahwa pihaknya membawa keempat PSK tersebut ke kantor untuk dilakukan pembinaan. Tak hanya itu, para PSK tersebut juga diambil sampel darahnya untuk mengetahui terjangkit virus HIV AIDS atau tidak.

Menurutnya, Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan telah bekerjasama dengan Dinkes Kabupaten Pekalongan, dalam hal ini adalah Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan Puskesmas Kajen. “Dari pihak Puskesmas, langsung mengambil sampel darah untuk mengetahui apakah mengidap penyakit HIV atau tidak. Para PSK ini sering berpindah-pindah tempat,” ungkap Siswanto.

Siswanto juga mengatakan untuk memberikan efek jera pada para PSK tersebut, langsung dibawa ke Panti Rehabsos di Solo untuk dilakukan pembinaan lanjutan selama enam bulan. Selama menjalani rehabilitasi, para PSK tersebut akan diberi ketrampilan atau keahlian khusus, seperti menjahit, memasak, rias pengantin hingga membuat makanan ringan. Sehingga para PSK bisa beralih profesi dengan ketrampilan yang dimilikinya.

“Kami sudah koordinasi dengan pengelola Panti Rehabsos dari Dinas Sosial Provinsi Jateng. Ini merupakan yang pertama kalinya di tahun 2017 kami mengirim. Sebelumnya, di tahun 2016 dan 2015, kami juga selalu mengirim PSK yang berhasil ditangkap dalam razia ke panti rehabsos di Solo,” kata Siswanto.

(sm/thd/ton/JPR)