Terkendala Lahan, Dua Wisata Alam Tidak Dikelola – Radar Madura

Dua lokasi wisata alam di Kota Bahari yang lahannya bersengketa yaitu Gua Lebar di Kelurahan Dalpenang, Kecamatan Sampang, dan pemandian Somber Otok di Desa Taddan, Kecamatan Camplong. Pembebasan lahan di dua lokasi tersebut hingga saat ini tak kunjung selesai.

Kepala Disporabudpar Sampang Aji Waluyo menyatakan, pembebasan lahan di dua wisata tersebut tidak mudah. Upaya yang selama ini dilakukan gagal. Akibatnya, pihaknya belum bisa mengelola dan mengembangkan wisata itu dengan maskimal.

Masalah sengketa lahan di lokasi wisata tersebut sudah lama terjadi dan masuk pengadilan. Namun, hingga saat ini belum ada keputusan. Berulang kali dilakukan upaya mediasi dengan pemilik lahan. Namun, hasilnya buntu. ”Lahan di Gua Lebar hanya 20 persen yang dimiliki pemkab. Selebihnya milik masyarakat. Sementara lahan Sumber Otok diklaim milik warga,” ungkapnya.

Aji mengaku angkat tangan untuk mengurus pembebasan lahan di lokasi tersebut. Sebab, harga tanah yang dipatok warga yang mengaku pemilik lahan sangat mahal dan di atas nilai jual objek pajak (NJOP). Pihaknya memilih mundur dan tidak berani mengambil risiko.

”Kami sudah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan kepala desa (Kades) atau lurah. Mereka menyerah dan tidak bisa membantu lantaran pemilik lahan kukuh pada keputusan awal,” katanya.

Karena itu, saat ini disporabudpar fokus mengembangkan wisata lainnya yang tidak bermasalah. Meliputi wisata alam, budaya, religi, dan buatan. Di antaranya, Pantai Camplong, Pantai Lon Malang, Waduk Klampis, dan Hutan Kera Nepa.

Kemudian, situs Makam Ratu Ebu, situs Trunojoyo, makam Sayid Ustman, Sumur Tujuh Panjilaras, Karang Laut Mandangin, dan kolam pancing Aji Gunung. ”Pengelolaan wisata religi dan budaya akan kami maksimalkan. Sebab, potensi atau daya tariknya cukup tinggi. Setiap tahun rata-rata ada sekitar 2.000 pengunjung,” sebutnya.

Mustofa, 44, anggota keluarga pemilik lahan Sumber Otok, menuturkan, pihaknya memang tidak pernah berniat menjual tanah. Sebab, tanah tersebut merupakan warisan keluarga. ”Sebelum dibengun oleh pemerintah, kolam itu sudah ada sejak puluhan tahu. Kami hanya ingin semua masyarakat bisa menikmati kolam tersebut dengan gratis. Itu amanah dari sesepuh keluarga,” katanya.

(mr/nal/hud/han/bas/JPR)