Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Ungkapan ini pas disematkan kepada pasutri asal Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek.

Koeswariyanto, 58 dan Winarti, 60, yang berangkat haji Rabu (23/8), kemarin. Mereka berhasil berangkat haji dari hasilnya berjualan bubur kacang hijau.

WENNY ROSALINA, Diwek

Hanya menjadi tukang bubur yang penghasilannya tak tentu, keduanya sangat mengidam-idamkan pergi ke Tanah Suci sejak puluhan tahun silam. Tapi niat besar baru muncul pada 1995, tepatnya setelah anak ketiganya lulus SMP.

’’Tahun 1995 itu baru pinginnya besar sekali, saat itu saya mulai menabung sedikit demi sedikit untuk daftar,” kata Winarti.

Baru tahun 2010 ia baru bisa mendaftarkan diri untuk naik haji. Awal mendaftar, ia ingin untuk menabung Rp 1,5 juta untuk dirinya dan Rp 1,5 juta untuk suaminya, uang yang dimiliki hanya Rp 2,5 juta, dan kekurangannya ditambah anaknya Rp 500 ribu.

Tapi belum rezeki bagi pasutri ini, uang Rp 500 yang diberikan anaknya hilang saat dimasukkan dalam saku dan hendak ditabungkan.

’’Jadi awal ya nabung Rp 2,5 juta itu dibagi dua, masalah uang yang hilang saya pasrah saja, mungkin Allah belum meridlai saya untuk nabung agak banyak,” ungkapnya.

Setelah keinginan besarnya untuk berhaji muncul, ia mengaku jika usahanya berjualan bubur semakin lancar.

Mulai dari pembeli yang banyak ditambah dengan keberkahan dari rezeki yang ia dapat. Puncak kejayaannya didapat saat Gus Dur wafat.

Hingga 100 hari wafatnya Gus Dur, bubur kacang hijaunya dibanjiri pembeli.

’’Setelah keinginan besar itu muncul, rasanya semua jalan menjadi terang, usaha dilancarkan, dan barokah sekali meskipun hasilnya tidak seberapa,” ungkap Koeswariyanto.

Pasutri yang menikah tahun 1975 juga dipermudah dengan cepatnya pemberangkatan.

Dirinya yang baru mendaftarkan diri tahun 2010 sudah bisa berangkat tahun 2017, artinya hanya menunggu tujuh tahun saja.

Namun selain berusaha mengumpulkan materi agar bisa lunas dan berangkat, keduanya juga berusaha melalui ibadah, dengan cara salat tepat waktu, salat malam, salat duha, mengikuti majlis taklim, pengajian dan istighosah rutin di pondok-pondok.

Semakin didekatkan dengan hari keberangkatan, usahanya semakin dilancarkan, bahkan tahun 2015 Winarti mengaku sudah melunasi semua biaya.

’’Kan bayarnya masing-masing Rp 36 juta, saya dan bapak sudah melebihi, sudah ada Rp 38 juta, tapi sisanya boleh diambil kalau sudah pulang dari haji,” kata ibu tiga anak ini.

Saat manasik yang harus diikutinya, Koeswariyanto juga kembali diberikan kelancaran rezeki.

Bersama teman-temannya ia dilarang libur berjualan, salah satu dari temannya bahkan rela menjaga warungnya untuk melayani pembeli.

’’Saya cuma nata saja apa yang perlu dijual lalu ada teman yang siap menjaga warungnya, masalah sapat uangnya atau tidak saya pasrah, dibantu menjaga saja sudah sangat terimakasih,” katanya.

Keinginannya dari dulu hanya haji, bukan umrah, karena baginya haji adalah rukun Islam yang wajib dilakukan sebelum umrah. Namun jika ada rezeki lebih saat ia sudah pulang dari haji tanggal 3 Oktober nanti, ia baru ingin umrah.

Selain berjualan bubur kacang hijau, ia juga berjualan gorengan yang dititipkan ke asrama-asrama. Berkat kegigihan niat, dirinya mampu mewujudkan impiannya menuju baitullah tahun ini.

’’Istri saya ini manajer saya, semua yang ngatur dia, yang memutar uang juga dirinya, saya manut saja, alhamdulillah sekarang bisa sama-sama naik haji,” ungkap bangga Koeswariyanto.

(jo/bin/bin/JPR)

Source link