GROBOGAN – Peresmian Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Pesantren Rehabilitasi Sosial (PRS) Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) Al Ma’laa, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan dilakukan hari ini. Rintisan IPWL sendiri sebenarnya sudah dilakukan pada 2015 silam. Namun dengan sarana prasarana yang masih minimalis.

Rencananya, hari ini akan dilakukan peresmian IPWL PRS Napza Al Ma’laa oleh dua pejabat Badan Narkotika Nasional (BNN) pusat. Masing-masing Direktur Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat Dra. Maida Wardiyanti M.Si dan Drs Waskito Budi Kusuma.

Pimpinan IPWL PRS Napza Al Ma’laa Djunaidi mengatakan, pesantren yang fokus dalam penanganan pecandu Napza itu sudah dirintis sejak 2015. Pada tahun itu juga Kementerian Sosial sudah menetapkan pesantren Al Ma’laa sebagai IPWL. ”Untuk korban penyalahgunaan Napza,” katanya kemarin.

Pihaknya sudah mendapatkan surat keputusan Menteri Sosial RI Nomor 16/HUK/2017. Artinya, dengan SK tersebut pihaknya berkomitmen untuk mendukung program pemerintah dalam rangka menyelamatkan masyarakat Indonesia dari ancaman dampak penyalahgunaan Napza.

Apalagi pemerintah sudah mencanangkan program gerakan nasional rehabilitasi 100.000 penyalahguna narkoba. ”Sejak 2015 kami terus berusaha mengembangkan fasilitas yang ada,” terangnya.

Pada 2015, santri atau klien yang melakukan rehabilitasi di pesantren Al Ma’laa mencapai 31 orang. Pada tahun ini, dari 31 orang, tiga di antaranya datang dengan kesadaran diri karena ingin sembuh. Sementara lainnya karena rujukan dan proses hukum.

Lalu pada 2016 ada santri atau klien sebanyak 54 orang dan pada 2017 ada 180 orang. Peningkatan tersebut dikarenakan Pesantren Rehabilitasi Sosial Napza Al Ma’laa semakin dikenal.

Ditambahkan, program rehabilitasi sosial yang dijalankan untuk pemulihan secara terpadu dan berkelanjutan agar korban kembali pulih meliputi empat bimbingan. Yakni bimbingan fisik, keagamaan, mental (spiritual), dan bakat minat.

Untuk kegiatan tersebut sudah terjadwal sesuai yang sudah ditetapkan pihaknya. Baik program harian, mingguan, maupun bulanan. Sementara resosialisasi dan bimbingan lanjut meliputi seminar psikoedukasi, vokasional training, dan latihan praktik kerja atau magang.

Pihaknya melaksanakan program tersebut karena sebagian besar korban pecandu narkoba memiliki permasalahan terkait kerja. Sehingga harus dilatih kerja agar ketika sudah selesai rehabilitasi bisa tetap memiliki pekerjaan. ”Usai rehabilitasi kami pikirkan, ada magang kerja juga,” terangnya.

Selanjutnya, dilakukan terminasi atau diserahkan ke pihak keluarga. Setelah diserahkan pihaknya tetap memantau untuk memastikan mereka tidak terjerumus kembali.

Usai rehabilitasi, pihaknya juga melakukan pengelompokan. Meliputi pecandu yang tidak pulih tapi produktif, pulih tidak produktif, dan pulih dan produktif. Khusus untuk pecandu yang tidak pulih tapi produktif perlu diwaspadai, karena memiliki pendapatan dan masih belum sembuh total. Sehingga rawan terjerumus kembali dalam dunia Napza.

Dia menambahkan, sebelum proses rehabilitasi dilakukan, pihaknya sudah melakukan screening. Tujuannya untuk melakukan klasifikasi apakah pecandu yang akan direhabilitasi merupakan pecandu ringan, sedang, atau berat. ”Karena pecandu ringan dan berat memiliki perlakuan yang berbeda,” jelasnya.

Karena konsepnya pesantren, semua peserta yang masuk rehabilitasi diutamakan beragama Islam. Namun jika ada nonmuslim ingin masuk, tentu pihaknya tetap akan menerimanya.

Selain itu, mereka yang masuk juga akan dibekali agama dalam proses rehabilitasi, mulai syariah, ubudiyah, dan amaliyah sehari-hari. ”Kebanyakan yang rehabilitasi mulai dari enam bulan sampai setahun,” imbuhnya.

Untuk sumber daya manusia (SDM), dalam pelaksanaan pelayanan, pihaknya didukung SDM yang mumpuni. Ada pembimbing agama, pembimbing vokasional, dokter, sarjana psikologi, konselor adiksi, dan tenaga kesejahteraan sosial.

Sedangkan fasilitas guna mendukung penyelenggaraan pelayanan rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan Napza antara lain kantor, pelayanan informasi edukasi, family room, ruang pelayanan, ruang inap, ruang taubat, area rekreasional, area olahraga, masjid, hingga vokasional center.

Sedangkan untuk klien antara lain warga Indonesia, diutamakan beragama Islam, pecandu dan korban penyalahgunaan Napza, jenis kelamin putra dan diutamakan masih usia produktif serta bersedia menaati peraturan dan mengikuti program sampai selesai.

Untuk syarat khusus, tidak sedang mengidap penyakit kronis (HIV/AIDS dan lainnya), tidak mengalami gangguan jiwa. Lalu bagi calon klien dari putusan PN melampirkan surat putusan PN dan dari lembaga lain melampirkan surat rujukan disertai rekam medis.

Sementara itu, IPWL PRS Napza Al Ma’laa memang mulai dirintis pada 2015 lalu. Namun sebelumnya, pimpinan IPWL PRS Napza Al Ma’laa Djunaidi sudah bersinggungan dengan korban Napza pada 2011.

Saat itu dirinya memiliki teman yang ternyata pecandu narkoba. Akhirnya Djunaidi sering mengobrol dengan temannya. Dirinya pun merasa kasihan dengan temannya. Namun untuk bebas dari narkoba memang butuh waktu. ”Dulu saya tidak memiliki langkah apa yang harus saya lakukan untuk membantu teman saya, hanya menasihati biasa,” kata Djunaidi kemarin.

Kemudian pada 2012 dirinya memiliki kesempatan untuk ikut dalam kegiatan yang diselenggarakan BNN. Dirinya saat itu bergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh BNN dalam rangka upaya pencegahan penyalahgunaan Napza. Sehingga sangat pas baginya dan semakin mendalami penanggulangan Napza.

”Teman saya sekarang sudah sembuh,” terangnya.

Dikatakan, untuk sembuh memang harus ada niat. Temannya butuh waktu selama tiga tahun untuk sembuh dari pengaruh Napza. Setelah melihat hal tersebut dan aktif di beberapa kegiatan BNN, akhirnya dirinya memutuskan untuk merintis IPWL PRS Napza Al Ma’laa.

Tujuannya tak lain untuk membantu pecandu Napza agar bisa sembuh dan tidak terjerumus kembali ke dunia tersebut.

Setelah berjalan sampai saat ini, mereka yang sudah sembuh usai dilakukan rehabilitasi juga turut aktif dalam upaya pencegahan Napza di daerah masing-masing. Bahkan di kabupaten/kota masing-masing membuat komunitas kecil dan bergerak untuk sosialisasi dan pendampingan.

Ketika pecandu ringan, komunitas bisa ikut menangani. Namun jika sudah pecandu sedang sampai berat akan dibawa ke IPWL PRS Napza Al Ma’laa. Pihaknya juga membuat rumah pintar sahabat adiksi.

Rumah pintar tersebut untuk program lanjutan layanan rehabilitasi sosial pecandu dan korban penyalahgunaan Napza bagi klien pascarehab dan rawat jalan.

Pihaknya membagi beberapa koordinator wilayah. Korwil Grobogan meliputi Kabupaten Grobogan, Blora, dan Rembang. Lalu Korwil Pati meliputi Kabupaten Pati, Jepara, dan Kudus. Korwil Pekalongan meliputi Kabupaten Pemalang, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pekalongan. Kemudian Korwil Tegal meliputi Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes.

Di tempat yang sama, untuk memaksimalkan pelayanan informasi edukasi Napza (PIEN), IPWL PRS Napza Al Ma’laa memanfaatkan teknologi Android. Ada aplikasi pelopor Indonesia tanpa narkoba (Apien) yang bisa di-download lewat Appstore.

Pimpinan IPWL PRS Napza Al Ma’laa Djunaidi mengatakan, untuk pelayanan informasi edukasi Napza sebenarnya sudah dimiliki di area pesantren. Namun pihaknya juga memanfaatkan teknologi Android agar bisa menjangkau lebih luas.

”Kami berupaya memaksimalkan teknologi yang ada,” katanya kemarin.

Pelayanan informasi lewat Apien diharapkan membantu warga yang ingin mengetahui dampak dari penyalahgunaan Napza. Pelayanan informasi tersebut memang untuk edukasi dan advokasi masyarakat guna mendeteksi sedini mungkin penyalahgunaan Napza.

Masyarakat bisa mendapatkan informasi di mana pun berada karena sudah ada aplikasi yang disiapkan. Informasi terkait Napza bisa diperoleh di aplikasi tersebut.

Selain aplikasi Apien, pelayanan informasi juga disiapkan dengan program quick response mobile. Program ini merupakan unit layanan cepat ke wilayah jangkauan guna menunjang pelayanan darurat bagi pecandu atau korban penyalahgunaan Napza.

Selain sebagai mobil pelayanan informasi edukasi, mobil tersebut juga dapat digunakan dalam kegiatan jangkauan,vokasional training, home visit, dan lainnya. ”Kami berupaya melakukan pencegahan dengan pemberian informasi terkait penyalahgunaan Napza,” terangnya.

Dengan informasi yang baik dan tepat, diharapkan masyarakat bisa terhindar dari bahaya penyalahgunaan Napza. Selain itu juga bagi pecandu atau korban Napza bisa mengakses untuk membantu agar terlepas dari bahaya penyalahgunaan Napza.

(ks/lis/aji/top/JPR)