Terus Merugi, Garuda Negosiasi Ulang Kontrak Pesawat – Radar Surabaya

Sementara itu nilai saham Garuda Kode GIAA per 19 Januari 2018 per lembar hanya Rp314. mengalami penurunan sebesar 58 persen dari nilai saham pada saat IPO.

Di sisi lain, maskapai penerbangan milik pemerintah ini terus berupaya memaksimalkan potensi armada yang ada saat ini dengan melakukan utilisasi armada di rute rute padat penumpang dan memangkas rute-rute yang merugi.

Direktur Keuangan & Manajemen Resiko Garuda Indonesia Helmi Imam Satriyono saat pemaparan kinerja perusahaan tahun 2018  di Jakarta, Selasa (23/1), menjelaskan, pada 1Q-2017 Garuda Indonesia mengalami kerugian sebesar USD 99,1 juta namun pada 2Q 2017, manajemen berhasil menekan kerugian menjadi USD 38 juta.

Pada 3Q-2017. Garuda Indonesia juga telah berhasil membukukan laba operasi sebesar  USD 61.9 juta (diluar tax amnesty dan extra ordinary items sebesar USD 145 juta). Jumlah itu naik 216,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Direktur Operasi Capt Triyanto Moeharsono menjelaskan, Garuda Indonesia juga terus memaksimalkan kinerja operasional yang sebelumnya sempat terdampak akibat force majeur erupsi Gunung Agung di Provinsi Bali sehingga harus dilakukan penyesuaian secara massive pada sistem penugasan crew dan pesawat.

‘’Namun demikian saat ini kondisi operasional perusahaan sudah berlangsung kondusif, bahkan capaian tingkat ketepatan waktu sempat menyentuh angka diatas 90 persen pada periode peakseason akhir tahun,’’ jelas Triyanto.

Dalam rangka memperkuat kinerja keuangan dan operasional perusahaan secara berkelanjutan, Garuda Indonesia bersama jajaran anak perusahaan menjalankan strategi bisnis jangka panjang bertajuk Garuda Indonesia Group (Sky Beyond 3.5)—yang akan menjadi value-driven aviation group dengan pencapaian target value group sebesar USD 3,5 miliar pada tahun 2020.

Sejalan dengan komitmen strategi kinerja positif perusahaan, perusahaan menargetkan capaian pendapatan perusahaan sebesar USD 4,9 miliar pada tahun ini. Hal tersebut menyusul aksi korporasi perseroan melalui upaya peningkatan kapasitas produksi sebesar 13-15 persen yang ditunjang oleh upaya optimalisasi rute dan peningkatan kapasitas armada.

Peningkatan kapasitas produksi tersebut salah satunya juga dilakukan dengan meningkatkan utilitas pesawat yang pada tahun 2017 sebesar 9 jam 36 menit ditargetkan menjadi 10 jam 24 menit di tahun 2018. Disisi lain, Garuda akan meningkatkan level pelayanan yakni dalam  tingkat ketepatan waktu yang ditargetkan mencapai 91 persen pada tahun 2018 ini.

Selain itu, untuk mendukung upaya maksimalisasi kinerja pendapatan perusahaan, Garuda Indonesia juga akan memaksimalkan beberapa pendapatan di luar bisnis layanan penerbangan, di antaranya adalah bisnis kargo maupun lini perusahaan lainnya seperti GMF AeroAsia dan Aerowisata yang akan terus dimaksimalkan melalui komitmen kerjasama dengan mitra global.

Sementara itu Serikat Pekerja PT Garuda Indonesia Bersatu dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) mendesak Menteri BUMN untuk melakukan  pembenahan  besar-besaran. Alasanya, Program efisiensi yang dilakukan oleh perusahaan cenderung sangat sporadis dan yang terjadi adalah cutting cost, sehingga menganggu kegiatan operasional.

Penambahan direksi garuda menjadi sembilan direksi dari sebelumnya hanya enam direksi juga dianggap sebagai pemborosan. Penambahan direksi tersebut dinilai tidak sejalan dengan komitmen perusahaan dalam melakukan efisiensi, padahal penambahan direksi tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kinerja jika dibandingkan dengan sebelumnya.

‘’Oleh karenanya, APG minta Menhub segera merestrukturisasi jumlah direksi dari 9 orang kembali menjadi 6 orang dan mengevaluasi kinerja direksi,’’ kata Presiden APG, Capt Bintang Hardiono. (pur/hen)

(sb/jpg/jek/JPR)