Tiap Pekan Tanam 4.000 Bibit Mangrove – Radar Madura

Mendung menyelimuti langit pesisir Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, Senin (27/11). Kilat sesekali memaksa mata berkedip dan ulu hati berdenyut. Tidak berselang lama, hujan turun. Ribuan tetes air hujan membasuh kawasan pesisir Desa Lembung.

Percikan air yang mengenai tambak menggelitik udang bermain riang. Dari kejauhan terlihat ikan melompat seolah riang dengan tetesan air hujan. Jawa Pos Radar Madura berteduh di salah satu ”padepokan” sederhana hasil karya warga.

Arsitektur ”padepokan” itu sederhana. Bahan-bahan yang digunakan seadanya. Bambu diikat nilon biru sehingga menjadi tempat peristirahatan yang nyaman.

Koran ini tidak seorang diri. ”Juru kunci” kawasan pesisir yang ditanami jutaan pohon mangrove menemani. Dialah Slaman. Pria kelahiran 1970 ini konsisten sejak 1986 menanam bibit bakau di kawasan pesisir Desa Lembung.

Mengenakan kaus merah dipadu topi dan celana jeans, Slaman menceritakan aktivitas kesehariannya. Yaitu, terkait kepedulian terhadap lingkungan dengan menanam mangrove.

Setiap pekan, tidak kurang 4.000 bibit mangrove berbagai spesies ditanam. Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Madura dan luar Madura ikut menanam bibit pohon dengan substrat lumpur berpasir itu.

Slaman menceritakan, kepedulian terhadap lingkungan bukan untuk kepentingan materi. Namun,murni demi merawat lingkungan pantai. Bagi dia, jika lingkungan rusak, dampak negatif akan menimpa warga.

Sebaliknya, jika lingkungan dirawat dan dijaga, berkah akan menghampiri. Dengan semangat kepedulian terhadap lingkungan, Slaman bertekad menghijaukan sepanjang pantai Desa Lembung dengan mangrove.

Suami tercinta Nurul Imanah itu menyampaikan, tidak mudah memperjuangkan lingkungan. Banyak kendala yang dihadapi. Mulai kendala tenaga, finansial, sampai cemooh warga.

Namun, lambat laun, pria lulusan SMA itu mampu menggandeng sejumlah warga yang memiliki visi sama. Kemudian, dibuatlah kelompok yang bergerak di bidang lingkungan.

Kepedulian terhadap lingkungan lalu diikuti warga sekitar. Sekian lama berjuang, kini Slaman memetik buahnya. Seperti pelita di terowongan gelap. Hutan mangrove hasil kepedulian warga banjir apresiasi.

Sejumlah mahasiswa melakukan penelitian di lokasi itu. Bahkan, dalam waktu dekat, hutan mangrove tersebut akan dikelola menjadi destinasi wisata. Yakni, eduwisata untuk penelitian dan bahan pembelajaran serta ekowisata.

Slaman dan kawan-kawan menyiapkan sejumlah produk untuk ekowisata. Di antaranya, kopi mangrove, madu lebah mangrove, krispi lorjuk, dan krispi teri. Di sepanjang hutan akan dibangun tracking jogging route dan kafe apung.

Dengan pembangunan destinasi wisata itu, perekonomian dan kesejahteraan warga diharapkan meningkat. Juga bermunculan usaha baru oleh warga sekitar.

Slama berkeyakinan, jika lingkungan berdampak positif, kepedulian warga akan semakin meningkat. ”Semoga pembangunan destinasi wisata ini segera terwujud,” harapnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Achmad Sjaifuddin mengatakan, pemerintah menandatangani MoU dengan Perhutani mengenai pengelolaan lahan mangrove di Desa Lembung. Dalam waktu dekat, penandatanganan nota kerja sama secara detail akan direalisasikan.

Dengan demikian, hutan mangrove yang dirawat warga itu dalam waktu dekat dapat dikelola menjadi objek wisata. ”Tahun depan bisa dimulai pengembangan pariwisata,” ujarnya.

(mr/pen/hud/han/bas/JPR)

Source link