Tidak Cuti demi Penumpang yang Mudik Lebaran – Radar Banyuwangi

Lebaran sudah tiba. Ada yang merayakan dengan pulang kampung, berkumpul dengan keluarga, dan berkeliling ke rumah sanak saudara. Cuti bersama diberikan agar para pekerja bisa menikmati libur Lebaran. Sayangnya, libur Lebaran tak berlaku bagi beberapa pekerjaan dan profesi.

BISA mudik dan berkumpul bersama sanak keluarga di kampung halaman saat Lebaran adalah dambaan mayoritas umat muslim di tanah air. Tak heran, setiap menjelang Idul Fitri, jutaan orang berbondong-bondong mudik.

Ada yang mudik menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil atau motor. Ada pula yang mudik memanfaatkan transportasi umum, mulai pesawat, kapal laut, bus, hingga kereta api.

Di balik gelombang arus mudik maupun balik Lebaran tersebut, ada dedikasi tinggi yang diwujudkan oleh para pengemudi armada angkutan Idul Fitri. Mereka rela dirinya tidak ikut merasakan nikmatnya Lebaran bersama keluarga demi mengantarkan para pengguna jasa sampai ke kampung halaman masing-masing.

Nah, para masinis merupakan orang-orang yang berjasa besar menyukseskan arus mudik. Termasuk masinis-masinis yang bekerja di PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember.

Salah satu masinis yang berhasil diwawancarai Jawa Pos Radar Banyuwangi adalah Eko Prasetyo. Pria yang beralamat di Perum Villa Bukit Mas Blok FF 07, Kelurahan/Kecamatan Giri, ini mengaku dirinya tidak cuti selama masa angkutan Lebaran tahun ini, yakni mulai 5 Juni sampai 26 Juni. ”Pas Lebaran, saya dinas untuk kereta Tawang Alun,” ujarnya diiyakan Manager Humas PT KAI Daop 9 Jember Luqman Arief kemarin (12/6).

Eko menyatakan, sudah menjadi tanggung jawab dirinya dan para masinis yang lain untuk memberikan layanan terbaik kepada para pengguna jasa kereta api, termasuk saat Lebaran sekali pun. ”Alhamdulillah, istri dan keluarga saya bisa memahami itu. Mereka selalu memberikan support kepada saya,” kata dia.

Sementara itu, Luqman Arief menambahkan, jajaran PT KAI Daop 9 Jember telah berkomitmen memberikan layanan terbaik kepada para pengguna jasa kereta api selama masa angkutan Lebaran. Masa angkutan Lebaran tahun ini dimulai sejak 5 Juni sampai 26 Juni mendatang.

Dalam rangka memberikan layanan terbaik kepada penumpang kereta api, imbuh Luqman, hak cuti pegawai operasional di lingkup PT KAI Daop 9 Jember dicabut. Mereka antara lain para masinis, pegawai unit jalan rel, pegawai unit telekomunikasi, dan lain-lain. ”Sedangkan petugas administrasi secara bergantian membantu posko angkutan Lebaran KAI di stasiun-stasiun keberangkatan, misalnya Banyuwangi Baru, Karangasem, Rogojampi, dan lain-lain,” pungkasnya.

Sementara itu, riuhnya mudik Lebaran juga tidak dirasakan oleh M. Saufi Hadad Nizwan. Selama Lebaran nanti, petugas di Ship Traffic Center (STC) Pelabuhan ASDP Ketapang ini tetap bertugas seperti biasa. Pria berusia 49 tahun itu tetap bertugas mengatur lalu lintas kapal.

Saufi harus rela 12 jam mengamati monitor yang memberikan keterangan tentang lalu lintas kapal yang ada di Selat Bali. Ketika ditemui di kantornya, Saufi tampak sibuk memperhatikan layar-layar dan catatan yang ada di hadapannya. Mulai dari jadwal kapal, wind repeater, serta layar AIS berisi citra satelit kondisi selat Bali.

Tugas utama Saufi adalah memastikan semua kapal bisa melintas dengan aman dan sesuai dengan trip mereka. Saufi juga bertugas memperingatkan  kapal jika tiba-tiba terjadi perubahan cuaca yang membahayakan penyeberangan. Termasuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti KUPP dan BMKG. ”Kalau Lebaran ya nggak bisa mudik ke mana-mana. Dari H-7 sampai H+7 harus benar-benar stand by. Kalau beruntung biasanya pas kerja shift pagi, jadi sempat salat Ied dulu sebentar. Salaman sama tetangga lalu ke sini lagi,” ujar Saufi sambil tersenyum.

Pria yang sudah 25 tahun menjadi pegawai di lingkungan ASDP ini mengaku memang tidak pernah menikmati Lebaran selama dirinya bertugas. Karena sudah menjadi tugasnya memastikan transportasi laut di Selat Bali bisa berjalan sesuai schedule dengan aman dan nyaman.

Selama bertugas, dia pun dituntut untuk terus bisa fokus dengan tugasnya. Karena sedikit saja lengah, bisa mengacaukan lalu lintas laut. ”Yang protes awalnya anak saya, tapi lama-lama dia juga bisa memahami. Karena memang tugas ayahnya seperti ini. Mungkin nanti setelah H+7 baru bisa mudik kalau memang sudah mulai normal,” kata bapak tiga anak itu.

Source link