Tiga Desa Rawan Bencana Dipasang Alat Deteksi – Radar Mojokerto

MOJOKERTO – Tiga desa di Kecamatan Gondang yang rawan tersentuh musibah longsor dan banjir bandang, bakal dipasang alat pendeteksi bencana. Pemasangan alat itu ditargetkan bisa rampung bulan depan.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto Hariyono, usai melakukan rapat koordinasi dan konsultasi pemasangan sistem peringatan dini di Sungai Klorak, di ruang rapat Bappeda, Selasa (7/11).

Ditegaskan Hariyono, tiga desa yang akan dipasang alat itu adalah Desa Dilem, Desa Begaganlimo, dan Desa Kalikatir, Kecamatan Gondang. ’’Kita menggandeng USAID (United States Agency for International Development) untuk pemasangan itu,’’ katanya.

Dipilihnya tiga desa itu, imbuh Hariyono, karena ketiganya merupakan desa yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap musibah. Seperti Desa Dilem dan Desa Begaganlimo. Warga di dua desa ini kerap waswas dengan musibah longsor. Sedangkan, Kalikatir sangat rentan terhadap banjir.

Dengan pemasangan alat sensor itu, diharapkan mampu memberikan ketenangan warga terhadap ancaman bencana tersebut. Karena, imbuh Hariyono, alat itu mampu mengeluarkan suara yang akan memberikan peringatan kepada masyarakat saat ancaman bencana melanda.

Usai pemasangan alat yang didatangkan USAID, nantinya pemerintah dan relawan serta masyarakat di tiga desa akan melakukan simulasi. ’’Suara yang dihasilkan berbeda. Apakah potensi banjir, apakah hujan, itu berbeda suaranya. Makanya, harus ada pelatihan yang melibatkan masyarakat luas,’’ papar mantan Kepala Dinas Sosial ini.

Sementara itu, Field Coordinator Kabupaten Mojokerto Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) Project Upi Gufiroh, menerangkan, pemasangan alat deteksi dini bencana di tiga desa itu sudah melalui proses panjang.

Di antaranya, dengan melakukan penelitian dan kajian yang dimulai sejak Mei hingga September lalu. ’’Kita ada tim yang turun selama lima bulan untuk melakukan kajian,’’ ujarnya. Kajian itu di antaranya terkait dengan sisi historis desa. Peneliti, ujar Upi, menelaah musibah banjir bandang dan longsor sejak 10 tahun silam. ’’Juga topografi di desa-desa ini,’’ terangnya.

Alat sensor yang akan dipasang oleh komunitasnya ini, akan disebar di sepanjang Sungai Klorak dari hulu hingga hilir. Bahkan, untuk bekerja maksimal, alat tersebut rencananya akan dipasang di wilayah Taman Hutan Raya (Tahura). Dalam sosialisasi yang digelar ini, juga dihadiri Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PMI, hingga praktisi lingkungan.

(mj/ron/ris/JPR)

Source link