Tim MAN 2 Kota Kediri Raih Juara 2 Debat Bahasa Indonesia Provinsi – Radar Kediri

Siang itu, suara aktivitas pekerja terdengar begitu jelas. Mereka sedang memukul-mukul salah satu bagian bangunan MAN 2 Kota Kediri. Wajar saja, sebab madrasah ini sedang melakukan perombakan gedung. Bagian depan yang dulunya hanya satu lantai, kini dalam proses pembangunan lantai dua.

Tak hanya itu, warna cat tembok pun diubah menjadi hijau khas lingkungan Kementerian Agama (Kemenag). Bertandang ke sana, wartawan koran ini menuju ke ruang kepala madrasah (kamad). Ruangan itu terlihat baru selesai direnovasi. Sofa hitam melingkar dilengkapi meja warna hitam.

Di situ pula, Kepala MAN 2 Kota Kediri Nursalim, Nining Niswati, guru pembina bahasa Indonesia, ada siswi bernama Afni Amalul Azizah tengah menanti. “Yang dua (siswa, Red) sakit Pak,” kata Nining sekaligus membuka pembicaraan tentang prestasi yang diraih siswa binaannya dalam lomba debat tingkat Jawa Timur.

          Selain Afni A. Azizah, tim debat itu adalah Latif Putri Ma’aruf dan Lanang Nugroho. Lomba Debat Nasional (LDN) yang diadakan Kemendikbud RI ini terbilang istimewa. Yang menarik, lomba ini kali pertama diikuti MAN 2 Kota Kediri. “Ketika seleksi awal, alhamudilah kita menjadi yang terbaik di Kota Kediri. Kemudian, mewakili ke tingkat provinsi,” tambah Nining.

          Prosesnya pun cukup panjang . Dimulai dari seleksi tingkat Kota Kediri pada 14 Maret di SMAN 6 Kediri. Tim debat MAN 2 Kota Kediri menjadi kuda hitam. Baru kali pertama ikut, total ada 17 tim yang harus dihadapi. Semua dapat diungguli.

          Kejutan berlanjut di tingkat provinsi. Lomba dilaksanakan di Hotel Victory, Batu. Tepatnya 9-11 April lalu. Menggunakan sistem gugur, tim debat MAN 2 Kota Kediri tembus hingga partai final. Total ada 36 sekolah dari masing-masing daerah yang bersaing. Menariknya, MAN 2 Kota Kediri menjadi satu-satunya madrasah yang berhasil tembus di tingkat provinsi.

Untuk diketahui, debat menggunakan metode Parlemant Asia. Setiap pertandingan ada tiga sesi. Waktu setiap sesi ada 7 menit plus 3 menit untuk kesimpulan. Total butuh waktu 24 menit untuk menyelesaikan setiap pertandingan.

Usaha memang tak pernah mengkhianati hasil. Itulah kalimat yang tepat tentang perjalanan tim debat MAN 2 Kota Kediri saat ini dalam meraih prestasi tersebut. Sebab tim ini sudah dibentuk sejak kelas 10. “Dalam kurikulum tahun lalu ada materi tentang debat,” tambah guru bahasa Indonesia ini.

          Nining pun melihat potensi yang dimiliki oleh siswa-siswinya. Makanya ia mengumpulkan mereka dalam sebuah forum. “Dulu ada sekitar 30 anak Mas,” jelasnya.

Niat awalnya pun bukan hanya untuk lomba. Namun mengasah potensi siswanya. Dalam forum pun dibagi beberapa tim. Ada tim MC, tim debat, tim menulis. Selain itu forum ini juga ajang diskusi dalam berbagai hal terkait bahasa Indonesia. Latihannya tak menentu, tergantung waktu senggang di madrasah.

          Satu tahun berjalan, prestasi mulai diraih. Sebut saja, juara 2 olimpiade bahasa Indonesia di Universitas Jember. Juara 1 dan 4 debat nasional di Universitas Gajah Mada (UGM). “Itu prestasi di perguruan tinggi, berbeda prestice nya dengan yang diadakan resmi Kemendikbud,” jelas guru lulusan Master of Art UGM tersebut.

          Persiapan menuju LDN ini memang dramatis. Saat seleksi tingkat kota, persiapan serius dilakukan selama sehari. “Itupun menunggu anak-anak selesai ujian Mas,” ungkap Nining. 

Di tingkat provinsi, tim debat MAN 2 Kota Kediri hanya berlatih selama dua hari. Itu adalah persiapan formalnya. Secara utuh persiapan sudah dilakukan dalam forum di madrasah yang diadakan setahun terakhir. “Karena lomba debat tidak dapat dilaksanakan secara instan, harus banyak belajar literasi, gaya bicara, dan pengetahun yang luas,” paparnya.

Selain itu, mental juga sangat menentukan dalam pertandingan debat. Jangan sampai dalam debat ada kata-kata yang tidak sopan terlontar. “Semua argumen harus berbasis dengan data,” jelas Nining.

Afni A. Azizah mengaku, senang dapat mengikuti debat hingga tembus provinsi. “Senang Mas, dapat bertemu dan bertanya langsung dengan debater nasional,” ungkap siswa yang ingin masuk jurusan ilmu komunikasi tersebut.

Nining menambahkan, terpenting dalam debat adalah bahan motivasi untuk belajar. “Ini sebagai bahan belajar anak-anak untuk ke depan yang lebih baik,” tuturnya.  

(rk/*/die/JPR)

Source link