Tingkat Kebisingan Lampaui Ambang Batas – Radar Bojonegoro

“Terutama di kawasan kota, sangat riuh,” kata Kasi Pengendalian Lingkungan DLH Bojonegoro Nur Rahmawati. Menurut dia, masyarakat Bojonegoro saat ini hampir semua menggunakan kendaraan bermotor. Karena itu, berdampak pada tingkat kebisingan. Sebab, setiap kendaraan memiliki dua limbah.

Yakni, limbah polusi dan limbah bunyi. Nah, limbah bunyi tersebut kini sudah melampaui ambang batas maksimal. Dia mencontohkan, kawasan perkotaan Bojonegoro, pada jam-jam sibuk tingkat kebisingan sudah mencapai 86,1 desibel. Padahal, standar baku mutu hanya pada level 70 desibel.

Surplus kebisingan melebihi 10 desibel, menurut dia, karena kian banyaknya pengguna kendaraan bermotor. Kepala DLH Nurul Azizah menjelaskan, tidak hanya bising, kualitas udara juga buruk. Kualitas udara berbanding lurus dengan gaya hidup masyarakat. Selain jumlah kendaraan berpolusi kian banyak, jumlah pepohonan berada di Bojonegoro mulai berkurang.

“Banyak penyebab memicu tingkat panas udara di Bojonegoro,” kata mantan Camat Kalitidu tersebut. Makin banyaknya jumlah kendaraan bermotor melintas, kata Nurul, tentu jumlah limbah udara dihasilkan meningkat. Limbah udara berupa asap itu sulit memuai karena jumlah pohon justru menurun.

Padahal, banyaknya dedaunan bisa menyerap kandungan CO2 di udara. Hal itu diperparah ruang taman hijau kian diabaikan dan jumlah sawah menurun akibat banyaknya pembangunan. Itu belum apaapa. Sebab, secara perilaku pun, masyarakat lebih suka menggunakan barang-barang elektronik seperti air conditioner (AC), laptop, dan smartphone. “Tidak masalah jika diimbangi dengan penanaman pohon. Tapi jika tidak, tentu bisa memicu udara sangat panas,” kata dia.

(bj/zky/rij/faa/JPR)

Source link