TKI Asal Muncar Dipenjara di Shanghai – Radar Banyuwangi

MUNCAR-Nasip malang me­nimpa salah satu tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Banyuwangi, Dwi Maryuni, 35, asal Dusung Kedungdandang, RT 3, RW 6, Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar. Pahlawan devisa itu, kini berurusan dengan Shanghai Municipal Public Security Bureau (Shanghai PSBI), karena dicurigai mencuri hand phone (HP) milik juragannya.
Keterangan Dwi Maryuni dije­bloskan ke penjara itu, diketahui oleh sang suami, Sigid Sugito, 40, yang ada di rumahnya Dusun Ke­dungdandang, Desa Tapanrejo, setelah menerima surat dari Di­rektorat Perlindungan WNI dan BHI, Konsulat Jenderal RI di Sang­hai. “Dalam surat itu dise­butkan kalau istri saya mencuri HP milik juragannya,” terang Sigid ke Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (22/1).
Menurut Sigid, istrinya itu sudah dua tahun menjadi TKI di Hong­kong. Selama di negara itu, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Samuel. “Sebenarnya kontraknya itu habis pada Sep­tember 2017, tapi oleh juragannya tidak boleh pulang,” terangnya.
Juragannya melarang Dwi pulang ke Indonesia karena ingin kon­traknya diperpanjang. Selain itu, gajinya juga akan dinaikkan. “Pa­dahal saat itu saya sudah ngotot menyuruh pulang,” cetusnya.
Sigid mengaku setiap berko­mu­nikasi dengan istrinya, selalu minta untuk segera pulang. Tapi, maji­kannya terus gandoli dan akan me­nguruskan visa dan paspor.
“Pa­dahal pihak imigran me­larang memperpanjang paspor karena istri saya sering diajak ke Shanghai,” ungkapnya.
Majikan istrinya itu, terang dia, selama ini telah black list oleh pihak ketenagakerjaan. Sehingga, tidak bisa lagi mengambil tenaga kerja asal Indonesia. “Karena te­rus ditahan oleh majikannya itu, istri saya akhirnya menurut,” cetusnya.
Baru pada Senin (8/1), dia me­ngaku kaget mendapat surat dari Direktorat Perlindungan WNI dan BHI, Konsulat Jenderal RI (KJRI) yang menyampaikan istrinya tersandung masalah dengan dugaan pencurian HP milik maji­kannya. “Saya tidak percaya de­ngan suart itu, lalu saya ditelepon oleh penyidik KJRI yang menga­barkan istri saya ditahan dan di­proses hukum di Shanghai de­ngan tuduhan pencurian,” jelasnya.
Menurut Sigid, istrinya bekerja di Hongkong melalui PT Katiran. Tapi, PT Katiran itu pada 2017 telah ditutup oleh pemerintah. Tetapi PT itu kini berdiri lagi dengan pimpinan baru dan lokasi juga pindah ke Malang. “Kalau PT yang memberangkatkan itu resmi, hanya saja majikannya yang kurang ajar. Saya yakin istri saya itu dijebak,” katanya.
Sigid mengaku tidak mengerti harus berbuat apa. Yang dilakukan hanya menunggu keputusan dari KJRI. Jika memang istrinya ber­salah, silahkan diproses hokum. “Saya juga mau menuntut maji­kannya karena sudah mengeng­kang dan memaksa istri saya tetap bekerja disana sebagai TKI Ilegal,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, Suryo Atmojo, mengatakan terkait ada warganya yang menjadi TKI dan tersandung masalah itu sudah mengetahuinya. “Memang benar ada warga saya yang tersandung masalah di Shanghai, semua instansi juga sudah mendampingi sesuai porsinya masing-masing,” katanya.
Suryo mengaku sedang me­nunggu keputusan yang diberikan oleh KJRI. Semua Negara, pastinya juga mempunyai aturan hukum sendiri. “Kita ikuti aturan yang berlaku saja, hanya kita siap mendampingi sampai selesai,” terangnya. (rio/abi)

Source link